Jumat, 05 Juli 2019

Seleksi CPNS Dalam 3 Babak : TERPAKSA


(Waktu tulis jurnal : 20 November 2018)

Sekali-kali boleh lah ya nanggapi hal happening, berhubung menjadi orang yang menghadapi kenyataan di lapangannya juga.

Tentang CPNS, kita gamblang aja.

Kita semua pasti ngerti kalau CPNS itu bukan akhir dari perjalanan. Bukan puncak dari kebahagiaan, juga bukan kunci dari kepastian. Di hidup, bahagia itu relatif, tiap orang punya kriteria bahagianya sendiri. Nggak ada juga yang benar-benar mutlak kecuali Allah dan segala ketetapan-Nya.

Tapi kenyatannya banyak yang menggantung harap pada CPNS, demi berlangsungnya kehidupan. Nggak masalah, life's full of choices. Apa pun yang melatarbelakangi pilihan masing-masing orang, ya let it be.

Sama seperti aku yang sering underestimate sama CPNS, ya let it be. 
Ada alasan-alasan yang nggak terjelaskan dibaliknya. Dari kecil sedikit pun nggak suka dan nggak pernah bercita-cita untuk menjadi. Belum lagi ditambah pengalaman-pengalaman personal. Skeptisku terhadap PNS jadi berkali kali lipat persen. Tapi aku ikut. Ikut atas dorongan semua kalangan. Orangtua, teman, kerabat bahkan diriku sendiri. 

Alasan dalam diriku kenapa harus ikut?

Aku nggak mau menyesal di kemudian hari. Siapa yang tahu kondisi di masa depan kan?! Ditambah lagi, bagi anak perempuan, PNS termasuk cara menenangkan hati orangtua, selain menikah. Orangtua mana yang nggak tenang anaknya hidup terjamin sampai hari tua?

Aku mengikutinya setengah hati, belajar setengah hati, berharap setengah hati. Bahkan ada lelucon di antara aku dan temanku tentang soal CPNS tahun ini, khususnya TKP. Iya yang sekarang jadi polemik itu.

Menurut kami sangat tidak relevan menilai kepribadian manusia lewat tes tulis. Siapa saja bisa memilih apa saja, memilih jawaban dengan karakteristik sempurna yang sama sekali bukan dirinya. Ya kasarnya tes memilih mana yang paling munafik.

Lucunya, waktu itu, temanku itu, ternyata lulus. Khusus TKP-nya, memenuhi passing grade.

Di luar apapun pilihan jawabannya saat tes, secara personal aku berani jamin kebaikan karakter temanku. She's the best personality that I've ever know. Tapi aku tetap kepo dan mencecar dia dengan pertanyaan bagaimana bentuk si soal TKP.

Dia bilang, "Di dalam tidak ada jawaban paling munafik, semua jawabannya adalah sikap baik dan itu membingungkan." 

Dan benar saja, besoknya aku tidak lulus TKP.
Terbuktilah lagi, "Tak kenal maka tak sayang." 
Meski aku tidak berujung sayang, tapi aku berani menyatakan, TES CPNS TAHUN INI SANGAT BAIK. Berharap untuk terus dilanggengkan seperti itu.

Menghadapinya sendiri mebuatku melihat bahwa memang tidak ada pilihan paling munafik. Mekanisme dari soal dan waktu, bekerja dengan sangat pas. Soal, pilihan jawaban, dan pengerjaan 100 soal dalam 90 menit tidak akan membuat kita mampu menimbang mana yang terbaik dari kalimat-kalimat itu. Waktu memaksa untuk memilih mana yang hati kita rasa benar, berlama-lama memikirkan jawaban terbaik membuat kita kehilangan waktu untuk soal yang lain.

2 hal menejemen yang harus dihadirkan; Manajemen waktu dan Manajemen diri. Bagaimana menggunkan waktu seefektif mungkin dan menenangkan diri agar tetap konsentrasi.

Aku akhirnya mengerti bahwa ini adalah tes karakteristik menjadi PNS bukan tes kepribadian menjadi manusia baik. Karakteristik kan memang punya tempatnya masing-masing. Mungkin mereka yang tidak lulus TKP jauh lebih cocok jadi wiraswasta, atau mungkin lebih bisa berkembang diperusahaan internasional, atau mungkin lebih cocok untuk menambah ilmunya dan jadi peneliti, atau mungkin jadi presiden, kita mana tahu?

Apalagi pendidikan sekarang memang lebih disiapkan agar manusianya mampu menciptakan lapangan kerja sendiri. Nggak aneh kalau pada akhirnya karakternya tidak terbentuk menjadi pewaris tapi perilis. Bukan diikat tapi dibebaskan.

Please, wake up. Era's change. Pemerintah ataupun rakyatnya baik untuk memahami perubahan ini. Semua mekanisme sudah sangat baik, untukku secara personal ini pantas untuk diteruskan. Kita hanya perlu mengerti ini cuma cocok atau tidak cocok, bukan kepribadiannya baik atau jelek. Jika karakteristiknya tidak sesuai untuk menjadi abdi negara, ya artinya tidak sesuai. Sudah gitu aja. 

Toh memang tidak pada tempatnya manusia mengatakan baik buruk pada kepribadian manusia lain. Nilai itu, hak prerogratif Allah sebagai pencipta.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Media Sosial

Total Kunjungan

Part Of

Blogger Perempuan
PENABLOGGERBANUA