Selasa, 12 Februari 2019

Kitabisa Berbagi Rasa

cover

Bagiku platform Kitabisa lebih dari sekedar tempat berderma


Kita tidak pernah menyadari seberapa luasnya hati kita sampai kita mau berbagi. Kita sering terluka, bersedih, kecewa, dan rasanya begitu sesak. Seperti tidak ada ruang untuk apa pun selain kepedihan. Nasihat pun rasanya tidak berguna. Hanya seperti omong kosong dan angan-angan belaka.

Di saat seperti itu, tidak ada yang lebih diharapkan selain keadaan berubah menjadi lebih baik sehingga hati menjadi lapang. Tidak ada yang lebih diinginkan dari pada aksi. Tapi dalam hidup yang kita jalani, kita selalu lupa. Perubahan terhadap diri sendiri tidak terjadi karena aksi orang lain. Membuat hati menjadi lapang juga bukan tugas orang lain, tapi tugas kita sendiri. Serta keridhaan Allah.

Tapi kenyataannya bergerak untuk bertindak di saat "luka" tidak semudah itu. Yang perih semakin terasa, saat bergerak sepertinya luka bertambah besar. Ingin sekali berbagi, meminta bantuan, minimal bercerita, dimengerti dan dikuatkan. Tapi sangsi akan ada yang mau benar-benar mendengarkan, sampai tuntas. Apalagi tulus mau memahami, sungguh mahal.

Kemudian kembali diam sebagai pertahanan. Menjaga lagi hati dan pikiran agar tidak semakin sesak, sambil bersikap seolah semua berjalan dengan benar.

Iya kita semua pernah ada di posisi itu, aku juga. Hidup memang disiapkan demikian.

Namun jika boleh, aku mau sampaikan sedikit gambaran. Rasa masih bisa dibagi tanpa kita harus mengatakannya. Rasa masih bisa dibagi tanpa orang perlu memahaminya. Aksi masih bisa dilakukan tanpa kita perlu banyak bargerak.

Dengan cara:
Memberi

Pemberian bisa meringankan rasa sesak atas masalah orang lain. Kamu akan terkejut bagaimana Allah menggantinya dengan dukungan untuk masalahmu, rasa lapang untuk hatimu.

Kita semua sudah puas dengan konsep semacam itu, tapi belum semua orang puas karena telah membuktikannya sendiri.

Aku sendiri sudah lupa yang mana pemberian pertamaku. Mungkin itu waktu SD saat program "1000 Jumat" atau jangan-jangan waktu bayi saat ku relakan mainanku. Aku juga lupa apa balasan yang ku dapat dari pemberian itu.

Tapi jika tentang pemberian yang mengubah hatiku, sepertinya ingat.

Waktu itu beberapa hal terjadi sekaligus, mengusik hidupku dari banyak penjuru. Seperti dapat kuis dadakan, tidak ada protes, tidak ada cara selain mengikuti alurnya. Kalian pasti paham betapa menyebalkannya ketika banyak hal terjadi tapi kita tidak tahu harus berbuat apa. Nah, begitulah situasinya! Semua jalan seperti sedang ditutup rapat, dipaksa merenung.

Imbasnya pada kesehatan, membuatku merasa semakin lelah dengan keadaan. Hal yang masih mampu aku syukuri waktu itu, sampai hari ini juga, bahwa kebutuhanku selalu dicukupkan. Sehingga untuk berobat, aku tidak kesulitan.

Iya mungkin sakit rasanya tidak nikmat. Tapi jika dengan sakit Allah mengiringi dengan kemampuan berobat, bukankah itu juga nikmat? Betapa banyak yang sakit, tapi terpaksa diam karena kurangnya kemampuan untuk berobat. Kita harus belajar peka.

Sempat terlintas di pikiranku, mungkin rezeki yang sampai ke tanganku bukan untukku. Mungkin milik orang lain. Mungkin dengan menyerahkannya keadaan bisa membaik. Lalu aku putuskan untuk mencoba memberi, berdonasi.

Setelah sekian lama, aku melakukan pemberian lagi dan itu lewat kitabisa.com. Alasan kenapa harus Kitabisa mungkin karena aku hanya tidak ingin orang lain tahu, bahkan keluargaku. Aku hanya ingin menikmati dulu proses berbagi ini, sendiri. Aku ingin menemukan kebaikan dalam diriku, di sela-sela rasa putus asa.

Alasan lainnya, mungkin karena aku merasa lebih percaya. Itu donasi pertamaku entah setelah kapan, hatiku masih ragu-ragu, karena di Kitabisa aku bisa dengan mudah melihat follow up campaign-nya, aku rasa itu pilihan tepat.

Jujur hatiku sering menerka-nerka. "Aku dapat apa ya?" "Aku dapat ganti berapa ya?" dan pikiran-pikiran iseng lainnya.

email kitabisa
email kitabisa

email kitabisa
email kitabisa

email kitabisa

Setelah donasi itu email dari Kitabisa cukup sering menyapa, mengajak kembali untuk berderma. Memang lebih sering ku abaikan, karena punya jadwal sendiri kapan harusnya donasi lagi. Tapi, karena email-email itu jualah aku jadi lebih semangat menabung untuk didonasikan. Ya, aku merasa seperti diperlukan, donasiku seperti ditunggu-tunggu.

Kalian pasti mengerti, ketika seseorang merasa insecure, mereka tidak perlu banyak. Kadang dukungan dan dianggap keberadaannya sudah melebihi kata cukup.

Pemberian yang diawali dari sekali kemudian jadi berkali-kali. Belum lagi melihat ringkasan donasi di Kitabisa yang membuatku kagum sendiri. Jumlahnya mungkin tidak banyak, tapi dari banyaknya perkara yang menghimpit, aku tidak percaya masih bisa mengeluarkan sejumlah uang. Ada rasa senang dan lapang yang entah datangnya dari mana.

Berderma memang bisa menyelamatkan kita dari berbagai perkara, tapi tidak mungkin ada orang yang hidupnya melenggang bebas tanpa problema. Aku masih disapa masalah.

Ada hari di mana aku terpuruk lagi. Saat itu aku merasa buruk atas suatu hal dan tiba-tiba email Kitabisa datang. Entah kenapa waktunya bisa begitu tepat, kalimat pembuka email itu seolah menguatkanku. Air mataku tumpah, aku hanya terduduk menangis.


email kitabisa


Padahal aku tahu email seperti itu pasti dijalankan oleh bot, tapi aku tidak peduli. Padahal kalimatnya juga sangat sederhana, tapi aku tetap saja tersentuh. Kalian mungkin menganggapku berlebihan, tapi perlu diingat, luka menganga yang ada di kaki, meski hanya terkena setetes air, rasanya nyeri sampai ke ubun-ubun. Begitu juga perihal hati.

Terbesit pikiran mungkin itu wujud kembalian donasiku. Selama ini aku tidak benar-benar bisa memaknai apa bentuk kembaliannya, ada tapi rasanya tidak ada. Kalimat dukungan dari email itu yang akhirnya menyentuh akalku, "Oh, mungkin ini!"

Pemberian itu mungkin kembali berupa dukungan, entah dari orang atau dari apapun. Allah tahu apa yang aku butuhkan bahkan ketika aku sendiri kebingungan. Allah tahu kapan waktu untuk mengembalikan agar aku lebih menghargai. Bukan tentang apa yang aku keluarkan, tapi tentang kebaikan yang kembali sebagai kebaikan. Uang yang didermakan untuk melapangkan kondisi orang yang terhimpit, kembali sebagai dukungan untuk hati yang terhimpit. 


Kita pada akhirnya akan menyadari, bahwa apa yang kita dermakan bukan uang, tapi hati kita. Rasa untuk kasih sayang dan kepedulian.

You're doing a great job Kitabisa. May you all full of joy, happiness, blessing and longlasting. Still focus on every little thing that heartwarming. I deeply salute how Kitabisa and the partners want to present it so well. Keep up the spirit of doing good.

Lalu apakah dengan banyak berbagi kita pasti menjadi orang baik dengan hati dan hidup yang begitu lapang?

Entahlah aku tidak tahu, aku sendiri tidak berani mengatakan aku sudah lebih benar dari aku yang kemarin. Rasa-rasanya aku masih sering jatuh di lubang yang sama, masih juga sering merutuk.

Barangkali, dengan memberi/berderma/berdonasi/sedekah kita bisa mulai belajar menghargai setiap hal kecil yang bisa kita nikmati. Membesarkan kebaikan yang dulunya dianggap sepele, agar ketika ada perkara yang tak sejalan dengan inginnya kita atau yang menyakiti kita sedemikian dalamnya, kita masih dimampukan untuk berusaha melapangkan hati. Diberi kesanggupan dan pertolongan yang dekat.

Kita juga jadi bisa membuktikan sendiri apa kata orang, bahwa berderma tidak perlu menunggu kaya, menunggu lega. Berdermalah segera, semampunya. Lalu nanti jadi kaya, lalu nanti jadi lega, lalu keadaan lebih baik rasanya.

Jika uangmu tidak cukup membeli apa yang kamu inginkan, setidaknya masih cukup untuk patungan memberi apa yang orang lain butuhkan. Yakinlah, uang itu akan kembali sebagai sesuatu yang kamu perlukan. Meski seringnya tidak kita sadari.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Media Sosial

Total Kunjungan

Part Of

Blogger Perempuan
PENABLOGGERBANUA