Kamis, 24 Januari 2019

Kolaborasi Koperasi-Milenial


Koperasi
Photo by Danielle MacInnes on Unsplash
Sebagian besar milennial tidak suka disebut millennial, karena label itu lebih dekat dengan konotasi negatifnya; individualis, tidak sabaran, dan sulit diatur. Padahal memang benar. Sama seperti koperasi yang sering dianggap kaku, ribet dan kuno. Itu pun juga benar.

Namun, yang berkonotasi negatif bukan berarti tidak punya sisi baik. Milenial terkenal unggul dalam teknologi, canggih, efisien, inovatif, kreatif, terbuka dengan wawasan baru dan kompetitif. Yang paling penting, sekarang mereka memasuki usia produktif. Sedangkan di dalam koperasi terdapat nilai-nilai yang begitu mulia. Demokrasi, kesetaraan, keadilan, solidaritas, kepedulian, toleransi, gotong royong, saling mengerti dan percaya. Bukankah semua itu yang era ini cita-citakan?

Kita punya konsepnya di dalam koperasi, payung hukumnya juga jelas, kenapa sekarang koperasi seolah tidak tersentuh? Milenial yang terkenal dengan gairah wirausahanya yang kuat, kenapa tidak melirik koperasi untuk mewujudkan mimpinya?

Jawabannya banyak, tapi yang paling mendasar adalah karena koperasi dan milenial tidak saling kenal. Padahal kolaborasi koperasi-milenial adalah gerbang besar menuju kesejahteraan menyeluruh, serta usaha tepat menghentikan pertumbuhan kapitalisme.

Jika sudah begini, sosialisasi koperasi benar-benar harus dilakukan dari awal lagi, lengkap dengan konsep yang berbeda. Ini menjadi tugas besar bagi Kementerian Koperasi, Usaha Kecil Dan Menengah serta jajarannya sebagai lembaga yang menaungi. Kesannya sulit, tapi masih bisa diusahakan karena pada dasarnya koperasi dan milenial itu saling terikat dan membutuhkan.

Media Sosial
Photo by Pixelkult on Pixabay

Di situasi ini banyak gagasan yang mengganggap aktif di media digital sebagai cara sosialisasi yang paling sempurna, tapi nyatanya aktif saja tidak cukup. Koperasi perlu tahu konten seperti apa yang tepat untuk milenial, sebab beda generasi tentu beda cara komunikasinya, diperlukan strategi dan ilmu yang tepat. Mengingat kita bicara dengan milenial dan segala sikap idealis serat kreatifitasnya, maka koperasi juga diminta bertindak yang sama. Berikut beberapa hal yang dapat menjadi pertimbangan untuk pembuatan konten perkoperasian di media digital:

1. Konten ramah milenial


Konten Media Sosial
Photo by rawpixel on Unsplash

Milenial suka segala hal yang eyecatching. Desain yang kreatif, bahasa yang tidak baku, ringkas, tidak bertele-tele. Bisa ditambahkan dengan campaign menggunakan tanda pagar, contoh #koperasimilenial. Coba juga berkolaborasi dengan influencer, mereka yang punya banyak pengikut memudahkan koperasi menyebarkan informasi. 

2. Fokus pada penyampaian nilai koperasi sebagai solusi


Solusi
Photo by rawpixel on Pexels

Mengajak milenial membuka koperasi bukan pilihan tepat, mengingat persyaratan yang harus mereka penuhi. Namun, menyadarkan milenial bahwa koperasi punya solusi untuk persoalan ekonomi di sekitar mereka (entah sulitnya lapangan kerja atau pendapatan yang tidak sesuai) bisa menjadi jalan tembus menarik minat milenial. Contohnya, seperti tujuan koperasi untuk sejahtera bersama dapat menjadi solusi terhadap tingginya kesenjangan sosial dan ekonomi. Punya konsep persatuan, gotong royong, toleransi yang kuat dapat jadi solusi perpecahan yang kian mengkhawatirkan. Berlandaskan asas demokrasi, koperasi jadi solusi penyampaian ide dan gagasan yang lebih mudah dan terbuka.

3. Tunjukkan bahwa peran milenial sangat penting


Kerja sama
Photo by rawpixel on Pexel
Sejauh ini pemberian label milenial hanya menyoroti kekurangan dalam generasi mereka. Milenial jadi haus pengakuan dan terlalu kompetitif untuk jadi yang terbaik. Meski kompetitif itu baik, jika tidak diarahkan bisa jadi jalan perpecahan. Tidak ada lagi nilai kebersamaan, semua dijadikan lawan. Oleh karena itu koperasi bisa hadir sebagai “penengah”. Berikan mereka apresiasi sebagai bentuk kepedulian koperasi. Ingatkan mereka bahwa ada cara yang bernama “kerja sama” untuk mencapai kesuksesan. Sampaikan bahwa mereka punya kendali, mereka dipercayai dan koperasi memerlukan peran mereka untuk berkembang.

4. Berikan contoh sebagai motivasi dan apresiasi


motivasi
Photo by Manasvita S on Unsplash
Contoh nyata selalu jadi motivasi paling bijak, di dalamnya ada bukti berupa fakta. Koperasi bisa memanfaatkan itu untuk melakukan 2 hal sekaligus, memotivasi yang belum mulai dan mengapreasi yang sudah berjalan. Bagikan informasi dan apresiasi terhadap mereka yang sukses lewat media sosial agar penyebarannya lebih cepat.  Berikan juga informasi bahwa koperasi cocok berdiri untuk berbagai jenis sektor. Memang cukup sulit menemukan contoh yang pas untuk milenial, tapi masih mungkin. Contohnya seperti Purusha.id dan Penabulucooperative.org.

5. Buat kegiatan 


Kegiatan milenial
Photo by MD Duran on Unsplash
Kehadiran koperasi di tengah mereka tentu dapat menguatkan bukti bahwa koperasi bisa berbaur dengan zaman. Buat kegiatan yang melibatkan milenial secara langsung. Mungkin meet and greet bersama pengurus koperasi yang terbilang sukses, atau  mensponsori kegiatan komunitas, atau bahkan berkolaborsi dengan youtuber, blogger, stand up comedi, dan pekerja kreatif lainnya. Setelahnya, biarkan milenial yang membagikan sendiri kegiatannya di media digital dan sosial.

Dengan usaha tersebut tentunya semua berharap ada peningkatan minat dari milenial terhadap koperasi, hingga akhiranya muncul koperasi-koperasi baru di berbagai sektor. Namun selain berharap, koperasi juga harus bersiap untuk adaptasi.  Koperasi perlu mengalah untuk adaptasi dengan cara kerjanya milenial. Dengan sikap mereka yang hampir tidak menyukai peraturan dan terkesan bebas pasti akan memberikan dampak yang signifikan. Bagaimana caranya memberi milenial peraturan tanpa merasa di atur? Bagaiamana caranya koperasi beradaptasi memberi mereka ruang bebas untuk berkreasi? Bagaimana mendorong milenial untuk melaksanakan pendidikan koperasi? Hal-hal semacam itulah yang harus disiapkan oleh koperasi.

Perubahan baik
Photo by Miguel Bruna on Unsplash


Pada akhirnya setiap pencapaian membutuhkan kerja sama dari semua pihak. Bersedianya koperasi untuk hal baru dan berubah, juga bersedianya milenial untuk introspeksi dan banyak belajar. Baik dari bidang akademis maupun non akademis.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Media Sosial

Total Kunjungan

Part Of

Blogger Perempuan
PENABLOGGERBANUA