Jumat, 28 Desember 2018

Tanah Bumbu On Journey (Pengumpulan Berkas CPNS)

Tes CPNS punya keajaiban tersendiri untukku, di setiap stepnya ada aja hal yang nggak terduga. Dari sekedar mau daftar online di website, doang, sampai harus ngantar berkas langsung ke instansi.

Aku lulusan DIV-Analis Kesehatan. Tahun ini di Kalimantan Selatan, hanya Kabupaten Tanah Bumbu yang mencari spesialisasi jurusan tersebut. Itupun hanya 2 orang, dan satu-satunya kampus 
di Kalimantan Selatan yang mengajarkan program studi tersebut hanya di kampusku. Jadilah sebagian besar peserta yang bersaing pun ya juga teman-temanku. 

Tapi, tidak semua teman-temanku adalah peserta CPNS.


Aku punya 6 orang teman akrab, yang 3 apply ke CPNS, sisanya tidak. Dian ke Kemenkumham, Ade dan Feby sama denganku ke Kab. Tanah Bumbu.

Tahun ini seleksi CPNS masih sama seperti tahun sebelumnya, pendaftaran bisa online. Awalnya membahagiakan, karena dipikir jauh dekat instansi, pelamar nggak perlu harus menghampiri. Nyatanya enggak. Kab. Tanah Bumbu khusus meminta pelamar mengantar berkas langsung ke kantor BKD-nya. Tidak boleh ekspedisi, tidak boleh diwakilkan.

Pikiranku sempat goyah, sebab jarak Banjarmasin-Batulicin (Ibu Kota Tanah Bumbu) memakan waktu 6-7 jam perjalanan darat. Apalagi aku nggak pernah bepergian sejauh itu, sendiri.

Harus banget nih cuma buat ngantar berkas?

Ade menjadi satu-satunya harapanku untuk diajak pergi bersama, karena dia juga berdomisili di Banjarmasin. Sedangkan Feby? Sejak bekerja dia sudah berdomisili di Tanah Bumbu. Jadi kalau Ade sampai nggak jadi pergi, ya aku juga nggak jadi pergi. Enggak jadi ngelamar CPNS sekalian.

Ade sendiri juga sempat maju mundur. Pernikahan yang tinggal menghitung bulan dan syarat tidak mengajukan pindah minimal kerja 20 tahun, membuatnya berpikir ulang. Untungnya, orangtua dan pasangan Ade tetap mendukung dengan motivasi, "Coba aja dulu"

Alhamdulillah saat itu ada tiket pesawat murah menuju Batulicin. Dengan bujuk rayuku yang males perjalanan darat ini, Ade pun setuju untuk naik pesawat.

Pikirku, "Banjarmasin dan batulicin cuma punya 2x penerbangan, jam 7 dan jam 10 pagi. Kabar baik. Kami bisa berangkat pukul 7, sampai di BKD pukul 8, kumpul berkas, pulang. Datang pagi pasti nggak akan ngantre lama, jadi bisa pulang naik pesawat lagi. Hihihi"

(First Case Closed)

***

Tiba di Bandar Udara Bersujud Batulicin.


Kaget sih enggak, namanya bandara kecil dan pesawat kecil ya memang akan sesunyi itu. Masalahnya, sesunyi itu bayanganku tidak seberapa dari sesunyi itunya kenyataan. Kami kira kami bisa pilih untuk naik ojek ke BKD, paling jalan kaki ke ke luar area bandara, ada jalan besar dan ketemu tukang ojek. Pada kenyatanya, kami nggak tahu di mana jalan besarnya.

Sejauh mata memandang hanya ada daerah rerumputan dan kesunyian.

Tidak punya pilihan lain dan satu-satunya yang ada hanya taksi bandara, mau tidak mau kami harus memilih taksi. Tahu kan gimana mahalanya taksi bandara. Ya meski mahal itu relatif.

Harga 150 ribu untuk perjalanan 10-15 menit menuju BKD Tanah Bumbu?

Deal!

(Second Case Closed)

***

Benar saja, dari bandara hingga keluar tidak kami dapati keramaian yang berarti, apalagi pangkalan tukang ojek ffhh.

Meski sesunyi itu, perjalanan menuju BKD Tanah Bumbu tidak semulus itu.


Aku, Ade, dan supir taksi tidak ada yang benar-benar tahu di mana lokasi BKD Tanah Bumbu. Sepanjang perjalanan kami mengandalkan gps. Sudah dekat tempat tujuan, bahkan gps bilang sampai, tapi kami tetap nggak tahu gedungnya di mana.

Dan ternyata gedungnya tidak di pinggir jalan. Masuk agak kebelakang dan melewati turunan jalan.

Tapi rasa lega menemukan gedung BKD tidak bertahan lama. Seketika kami sadar nggak tahu caranya pulang. Bandara dan tempat ini tidak bisa disisir dengan jalan kaki. Medannya sih oke, suasananya yang enggak.

Sepanjang perjalanan, sebagian besar pemandangan didominasi rawa dengan rumput tinggi menjulang. Aku tidak tahu apakah itu satu-satunya jalan, atau hanya jalan pintas. Tapi hari itu, hanya jalan itu yang kami tahu. Kawasan di sekitar BKD juga sangat sunyi. Selain gedung-gedung, tidak ada tanda-tanda pemukiman. Tidak ada pemukiman, tidak ada transportasi. Tidak ada pemukiman, tidak ada pedagang makanan. Terlihat jelas kawasan ini dibuat khusus perkantoran pemerintah. Dari mulai kantor gubernur hingga kantor instansi spesifik lainnya.

Jalannya masih baru, gedungnya masih baru, semuanya masih baru.

Dengan berbagai pertimbangan kami pun memutuskan untuk membayar lagi taksi agar menunggu kami. Paling lama 1 jam.

Deal!

Turun dari mobil dengan wajah sumringah. Tepat di halaman BKD aku dan Ade bertatapan, kemudian berjalan kembali menuju taksi.

"Pak, mohon maaf, bapak pulang aja. Antreannya panjang banget, kami nggak yakin selesai dalam 1 jam."

Kebayang kan malunya gimana? Tapi apa mau dikata. Ekspektasi kami juga hancur melihat kerumunan manusia di halaman BKD pagi itu.

Entah bagaimana cara kami nanti pulang, khawatir banget, tapi yaudahlah dipikir belakangan.

(Third Case Closed)

***

Dua orang tersesat ini melenggang dengan polosnya. Meminta nomor antrean bersamaan dan mendapatkan 2 nomor berjauhan. 257 dan 264. Sempat protes, gimana bisa 2 nomor yang keluar bersama punya jarak yang jauh

Tapi tidak di gubris dong.

Karena kami nggak suka keributan, ya di terima dengan legowo sajalah, Ffh.

Dengan perasaan amburadul kami pun duduk dan menunggu panggilan. Mencoba mendengarkan baik-baik nomor yang disebutkan speaker sambil croscheck lagi dokumen yang kami bawa.

" 23, 24, 25.."

Sedikit terkejut. Pikir kami, "Astaga, apa mereka datang sebelum subuh?!"

Ada yang aneh, tidak ada peserta yang menghampiri nomor itu. Semua yang menunggu mengaku nomor mereka di baris ratusan. Speaker terkejut, kami jauh lebih terkejut. Tapi speaker tidak menyerah, mereka terus memanggil angka-angka puluhan itu hingga akhirnya ada yang datang.

Beberapa peserta saling bertanya perihal waktu kedatangan, ternyata yang dapat nomor kecil datangnya juga tidak lebih cepat dari yang dapat nomor ratusan. Seluruh peserta menghela nafas, menyadari nomor antre dibagi acak.

Kami semua kesal, merasa percuma datang pagi-pagi tapi dapat nomor tinggi. Pernah ada yang komplain dan minta ganti, katanya "Nomor habis, peserta lain aja terpaksa harus pakai nomor antre yang ditulis tangan"

Aku tidak tahu sistemnya, tapi seandainya, seandainya saja, memang tidak sempat menyusun nomor, alangkah lebih indah jika pembagi kartu mencatat angka keluar dan berkoordinasi dengan speaker. Agar yang dipanggil sesuai dengan waktu kedatangan. Datang duluan, pulang duluan.

Apalah aku ini, hanya orang awam yang berandai-andai. Hehe..

Aku dan Ade jadinya luntang lantung. Nggak ada alat transportasi, nggak bisa kemana-kemana untuk mengisi waktu. Tapi kemana mana juga bingung mau kemana.

Belum lagi pemanggilan nomor seolah berjalan sangat lambat. Mendengarkan hitungan yang dipanggil, rasanya semakin mengenaskan. Jauh banget. Takut rasanya jika sampai malam hari.

Demi mengusir rasa khawatir, kami jadi begitu aktif melakukan berbagai hal. Pindah-pindah duduk, menyisir gedung BKD, nguping obrolan orang, dan juga jajan. Lumayanlah ada beberapa pedagang, ada pentol, rujak, minuman dan mie instan. Kami wisata kuliner, icip semua pentol, Ade bahkan beli rujak, aku juga beli es cendol. Para pelamar merasakan sensasi piknik. Alakadarnya.

Puncaknya adalah saat memasuki jam makan siang. Sebagai penderita magh kronis, aku dan Ade mulai kelimpungan. Tidak ada rumah makan atau kantin di sekitar gedung BKD. Kami sedikit pun tidak berminat menggali penyakit dengan mengenyangkan perut memakan pentol dan mie instan. Kami perlu nasi, kami perlu sayur dan lauk pauknya. Satu-satunya cara, jalan kaki keluar menuju jalan besar.

(Fourth Case Part 1)

***

Rizki Mulanova jalan kaki jauh-jauh?

Hampir mustahil jika tidak ada Ade. Sebab semua temanku tahu, betapa lemahnya aku untuk jalan kaki. Tapi Ade, setiap kali aku mau kembali dan nggak jadi, dia akan bilang, "Ayo Nov, sedikit lagi, dari pada nggak makan"

Ya Tuhan mengenaskan sekali πŸ˜‚

Tapi sungguh, perjalanan dari gedung BKD ke jalan besar itu sangat melelahkan. Jalannya masih tanah merah bebatuan, menanjak, matahari juga sedang terik menyengat,  apalagi perut lapar, rasa-rasanya aku mau pingsan. Dalam keadaan seperti itu teman seoptimis Ade lebih penting ketimbang makanan, karena kalau dia nggak semangat kami nggak akan sampai ke jalan raya.

Ini akan terdengar lebay, tapi saat berhasil mencapai jalan besar, aku begitu bangga dengan diriku sendiri. Pikiranku sederhana, "Aku nggak pingsan, ternyata aku cukup kuat πŸ˜‚"

Baru melihat jalan besar saja hati kami sudah berbunga-bunga. Padahal untuk menemukan rumah makan, kami masih harus berjalan cukup jauh mengikuti arahan gps.

Lagi-lagi ada khawatir di benak ku, bagaimana jika di tengah perjalanan yang jauh ini ternyata di gedung BKD nomor kami dipanggil??

Ahh sudahlah, mustahil.

Setelah jauh berjalan, kami pun sampai di sebuah rumah makan. Tampak seperti kantin, karena terletak di belakang gedung instansi.

Rasanya sangat sungkan, malu, bingung, gimana kami 2 orang perempuan dengan tas serasa turis, ikut masuk ke tempat makan yang berisi orang-orang berseragam pegawai negeri. Namun, perut kami mendominasi rasa malu, hehe..

Kami masuk dan bertanya dengan penuh harap, tapi sayang rezeki belum ketemu tuannya. Siang itu makanannya habis, untuk menyiapkan kembali perlu waktu lama sebab bahannya masih di pasar. Aku ingat betul, itu pukul 2 siang, wajar sih makanannnya habis.

Rasa bingung luar biasa membuat kami memutuskan menghubungi orangtua masing-masing. Dengan niat bertanya di mana rumah keluarga kami yang ada di Batulicin. Kami perlu ditolong. Hehe

Tapi tetap sambil jalan, dong. Barangkali di depan masih ada pedagang lain.

Pucuk di cinta ulam pun tiba. Meski berjalan lebih jauh dari sebelumnya, tapi kami berhasil berttemu tukang sate. Bahagiannya tiada tara.

Makan sate rasanya tidak pernah senikmat hari itu. Benar ya kata orang, enak tidaknya makanan bukan dipengaruhi jenisnya, tapi perjuangannya.

Seusai makan, tiba-tiba ayah Ade telepon dan bilang katanya istri om Ade punya kantin di kantor gubernur dan rumah mereka dekat dari kantor BKD, dan om nya mau ngantarin makanan buat kami dan saat itu sedang dibungkuskan.

Waw

Dengan rasa sungkan, bergegas kami bilang nggak usah dan maaf merepotkan.

Perjalan pulang menuju BKD jadi terasa lebih melegakan. Kami sudah bisa bercanda. Perut kenyang memang berpengaruh ya hahaha

(Fourth Case Part 2/Closed)

***

Setiba di BKD rutinitas kami kembali seperti semula. Duduk duduk menunggu. Nomor antrean belum menyentuh angka 200. Rasanya sangat menyebalkan.

Tapi ada yang spesial.


Beberapa kali kami menggerutu dengan waktu, tapi sebagian besarnya kami habiskan untuk berbagi cerita. Jujur, meski terkumpul satu komplotan Aku dan Ade jarang ngobrol, apalagi bisa saling curhat. Entahlah, aku merasa Ade punya sikap yang dewasa yang nggak sejurus dengan aku yang rewel ini, jadi aku agak segan.

Siapa sangka, rasa kesal menunggu mengeluarkan sisi lain kami. Kami ngobrol panjang kali lebar. Aku mendengarkan Ade mengeluh. Orang yang selalu paling kuat dan jarang mengeluh di antara kami. Mengeluhkan banyak keragu-raguan dalam keputusannya, kekonyolannya, bahkan hal-hal yang sangat sensitif di hidupnya. Aku senang Ade terbuka, aku juga senang bisa terbuka dengannya. Sikapnya yang optimis dan berempati membuat cerita-cerita kita terasa sangat dihargai, tidak dibanding-bandingkan, apalagi diremehkan. Orang sepanikkan aku bahkan bisa jadi lebih kalem untuk berhadapan dengan situasi yang baru. Aku belajar banyak dari Ade, terutama tentang bagaiamana orang bisa merasa tenang di samping kita.

Ternyata, hanya karena kita satu geng, berteman beberapa tahun lamanya, bukan berarti kita tahu titik 0 nya teman kita.

Jangan kira kami berderai air mata ya, karena sepanjang cerita kami hanya tertawa-tawa dan menggerutu ke nomor antrean wkwkwk

Pembicaraan kami terhenti saat nomor antrean sampai. Tepat pukul 5 sore, urusan kami selesai.
Waktu tunggu yang sangat berkualitas.

Apapun yang terjadi pada nomor antrean pengumpulan berkas di BKD Tanah Bumbu, aku tetap salut dengan kinerjanya. Antrean setelahku mencapai angka empatratusan, di hari yang sudah sesore itu mereka berkomitmen untuk menuntaskan. Meski harus hingga malam. Padahal mereka pasti datang lebih pagi dari kami dan harus pulang lebih larut demi membereskan berkas-berkas.

Pelayanan tanpa cela. Semangat bekerja para pegawai negeri. Semoga tetap terbuka untuk perbaikan dan perubahan.

***

Belum selesai.

Hari sudah mulai gelap kami jadi harus meminta tolong pada om Ade untuk menjemput kami. Menumpang di rumah beliau sementara untuk istirahat sholat mandi, sembari menunggu jemputan travel ke banjarmasin.

Allah memang selalu ajaib dalam mengatur banyak hal.

Malam itu ternyata ada pesta di rumah om Ade. Merayakan ulang tahun ke 4, anak perempuannya. Istri beliau, yang merupakan orang Makassar asli dan pemilik kantin menyajikan hidangan mie titi dan cemilan pisang goreng keju untuk tamu undangan. Yang qodarullah, juga termasuk kami.

Itu pertama kalinya kami makan mie titi dan rasanya enak banget! Aku dan Ade sampai shock, terharu. Pisang goreng kejunya juga renyah sempurna dengan rasa manis coklatnya yang pas. Kalau nggak malu pasti kami minta tambah. Belum lagi bahasa makassar yang kental di rumah itu membuat kami merasa tidak sedang di Kalimantan, seolah sedang berwisata sampai Sulawesi. Hihihi

Setiap suapan mengingatkan kami tentang perjalanan seharian tadi. Rasanya semua lelah terbayar lunas dengan suasana makan menggembirakan di tengah syukuran ulang tahun.

Jam 8 malam travel kami datang, kami pun berpamitan pulang. Siapa sangka, rencana 1-2 jam di Batulicin berubah jadi 12 jam lamanya.


***

Aku pikir poin dari perjalanan ini bukan berkas lamaran CPNS, tapi pelajaran untuk jangan cepat menyerah. Setiap kesulitan pasti akan dibayar dengan hal yang sangat membahagiakan, yang kali itu dengan makan mie titi πŸ˜‚

Sesederhana itu.

Mie Titi
Inilah Foto Mie Titi
Satu-satunya hal yang sempat didokumentasikan dari perjalanan hari itu


All the case closed very well. Thank you for the experience Tanah Bumbu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Media Sosial

Total Kunjungan

Part Of

Blogger Perempuan
PENABLOGGERBANUA