Senin, 27 Agustus 2018

#AlaReview : Film Rudy Habibie (Habibie dan Ainun 2)

COVER #AlaReview : Film Rudy Habibie (Habibie dan Ainun 2)

"Hiduplah Seperti Mata Air"


Itulah pesan yang paling lekat dalam film Rudy Habibie, prekuel dari film Habibie dan Ainun. Meski terhubung, film Rudy Habibie dan Habibie dan Ainun ini nggak diangkat dari buku yang sama lho. Untuk film Habibie dan Ainun, asalnya dari novel non-fiksi berjudul "Habibie dan Ainun" yang ditulis langsung oleh bapak  Bacharuddin Jusuf Habibie. Kalau film Rudy Habibie, diangkatnya dari buku biografi berjudul "Rudy: Kisah Masa Muda Sang Visioner" yang ditulis oleh Gina S. Noer

Aku pribadi sih belum baca bukunya, hehehe.

Film Rudy Habibie sendiri tayang perdana pada 30 Juni 2016, jarak 4 tahun dari pendahulunya. Meski bergenre drama romantis, film Rudy Habibie lebih banyak mengisahkan tentang perjuangan bapak  BJ Habibie saat menjalani kuliah di Aachen, Jerman, daripada kisah asmaranya. Punya suasana yang lumayan berbeda lah dari Habibie dan Ainun. 

Durasinya juga bisa ku bilang lumayan panjang ya, 137 menit. Meski begitu, menurutku 2 jam Rudy Habibie ini nggak terlalu berasa. Jalan ceritanya kayak rapi aja gitu, peristiwa masa lalu dan masa kini yang berkaitan ditempatkan selang-seling. Ya lumayan mudah lah bagi kita untuk masuk dan memposisikan diri di dalam cerita. By the way, katanya setelah Rudy Habibie, masih ada 2 seri lanjutan lagi loh. Wahhh!

Untuk pemeran Rudy Habibie pasti sudah tahu ya, siapa lagi kalau bukan Reza Rahadian. Bedanya, di film ini banyak scene tentang Rudy semasa kecil. Nah bagian yang itu diperankan oleh Bima Azriel, sedangkan bagian remajanya diperankan Bastean Steel. Aku agak kaget sih itu ada Bastian.


Rudy Habibie Kecil
Bima Azriel

Semua kisah yang berasal dari kejadian nyata akan membantu kalian mendapatkan gambaran sesungguhnya tentang apa itu perjuangan dan apa itu pencapaian. Karenanya, untuk film ini aku akan khusus membahas bagian-bagian yang menurutku berkesan.




1. Tidak Hanya Memikirkan Diri Sendiri.


Nggak semua hal di dunia ini melulu tentang kamu, ada kalanya kita harus mengalah dan mendahulukan orang lain. Bahkan untuk tujuan dari cita-cita yang kamu perjuangkan sendiri pun, kamu harus memikirkan kebaikan untuk orang lain di dalamnya.


Persis seperti perjuangan bapak BJ Habibie. Cita-cita sebesar industri dirgantara itu nyatanya terbentuk dari keinginan beliau memajukan bangsa Indonesia. Bukan karena ambisi pribadi.


Mungkin kita mengira bapak BJ Habibie selalu mengagumi pesawat dari kecil. Padahal tidak. Sering melihat pesawat tempur semasa penjajahan, malah membuat beliau sempat membenci pesawat. Ayahnyalah yang kemudian meluruskan anggapan tersebut dan membimbingnya memahami teknik dasar penerbangan.


Rudy dan ayahanya mempelajari gerak angin


"Kalau begitu jangan bikin pesawat tempur, Rudy bikin pesawat yang bisa bikin orang-orang seperti kakek, nenek, papi atau mami bisa bertemu dengan saudara-saudara."

"Biar saling berdekatan ya, pi." Sahut Rudy.

Percakapan inilah yang kemudian dipegang teguh oleh Rudy (panggilan masa muda bapak BJ Habibie) sebagai landasan pembangunan industri dirgantara. Begitu pula dengan nasihat ayahnya berikut ini.

Rudy, kamu harus jadi seperti mata air. Kalau kamu baik pasti juga di sekitarmu akan baik, tapi kalau kamu kotor pasti juga di seklilingmu akan mati. Ada banyak sekali manusia di bumi ini, banyak sekali ragamnya, jangan sampai kamu melukai mereka. Itu intinya.

Kalimatnya sederhana tapi pesannya sangat kuat dan mendalam. Tidak heran Rudy begitu teguh menghadapi banyak tekanan. Bukan berarti tidak pernah goyah ya, tapi setiap mulai putus asa nasihat ini mengembalikan Rudy pada apa tujuan awalnya. Yaitu harapan membawa kebaikan untuk sesama, untuk Indonesia. Contoh integritas dan akhlak yang luar biasa.

Di sini aku melihat, bagaimana sesuatu yang dilandasi niat baik membantu orang lain, kadang bisa berdiri dan bertahan lebih kokoh daripada yang hanya diperuntukkan untuk sendiri. Sebab dari niat baik itu, di tengah perjalanan akan datang bantuan dari Tuhan. Entah dalam bentuk teman, keluarga, kesehatan, atau bahkan solusi secara langsung dengan dihindarkan dari berbagai masalah.

Seriously, this part so motivated me. Cita-cita ternyata nggak melulu tentang kita, tapi bisa juga untuk kebaikan sesama. Kita nggak pernah tahu keajaiban seperti apa yang akan kita temui nantinya.


2. Selalu Ada Jalan 


Perjuangan bapak BJ Habibie semasa kuliah di Aachen tidaklah mudah. Memang, beliau terkenal jenius, tapi tidak menjadikan proses terwujudnya industri dirgantara mulus. Kesulitan, tantangan, dan masalah kan tanda kehidupan, bukan tanda tingkat kecerdasan. Selama orangnya hidup, ya pasti ada aja masalah yang datang. Hanya saja, kadarnya yang berbeda. Sesuai dengan apa yang sedang diperjuangkan.

Mau sesuatu yang besar? Ya tantangannya juga besar. Seperti berlian, nilainya mahal karena indah, kecil dan sulit didapat. Coba batu kerikil? Nggak ada yang mau beli dengan harga mahal kan? Karena ada di mana-mana.

Begitu juga industri dirgantara, karena tujuannya besar ya kesulitannya juga besar. Silih berganti masalah yang dihadapi oleh Rudy, semakin lama semakin berat. Di awal terihat baik-baik saja, setiap ada masalah selalu bersemangat menemukan solusi. Saat tantangan mulai berat, kita akan melihat Rudy sering menangis dalam sholatnya. 


Rudy Habibie Sholat

Manusiawi, di titik terberatnya, Rudy memohon kepada ibunya untuk pulang karena sudah merasa gagal. Itu adalah saat di mana hasil jerih payah Rudy diambil alih pemerintah Jerman. Boleh saja di lanjutkan lagi, dengan syarat Rudy mau pindah kewarganegaraan.

Berat nggak tuh? 

Bayangin aja kamu bangun rumah, tinggal pasang atap, terus tanahnya diambil pemerintah. Gimana hati nggak mendadak kosong? Mau mulai lagi sudah terlalu lelah, nggak mulai nggak punya rumah.

Tapi, kita bisa belajar lewat nasihat ibunya Rudy.


Kalau kamu pulang dengan kondisi seperti sekarang, kamu justru semakin membuat dirimu malu. Kamu mesti ingat pesan papi, Rud (tentang mata air). Memang nggak mudah menjadi mata air yang jernih, air keruh jika diaduk-aduk justru jadi tambah keruh. Yang mesti kamu lakukan adalah membiarkan kotorannya supaya mengendap (tenang dan pikirkan perlahan). Sabar. Mami tahu kamu punya hati yang kuat. Jadi ingat ya, kamu nggak boleh lupa siapa diri kamu sabenarnya (bahwa Rudy kuat)!

Setelah mendengar nasihat ibunya, Rudy pun kembali. Dia kembali memulai lagi dengan semangat yang lebih baik.



Rudy Habibie

Yang namanya kegagalan  bukan sesuatu yang pasti. Selama masih mau berjuang, tidak larut dalam putus asa, dan terus berharap kepada Tuhan, maka kesulitan serumit apapun tidak akan berubah status menjadi kegagalan. Jalan akan selalu ada untuk niat yang baik.


3. Nasionalisme

Sepanjang film Rudy Habibie, aku hampir selalu berdecak heran. Bagaimana bisa bapak BJ Habibie punya rasa nasionalisme yang begitu besar di usia muda?

Nggak ada yang bisa mengecoh beliau untuk melepaskan Indonesia, baik itu cita-cita atau bahkan kekasihnya, Ilona. Bapak BJ Habibie lebih memilih patah hati daripada melepas Indonesia. Beliau juga lebih baik berjuang lagi untuk mengulang daripada pindah kewarganegaraan. Padahal kan kalau jadi warga negara Jerman penelitiannya bisa berjalan lebih lancar?!

Keherananku pun terjawab di menit-menit akhir.

"Kalo papi dari Gorontalo terus mami dari Jawa, terus Rudy dari apa?" Tanya Rudy.

Sederhana tapi ngena, beginilah jawaban ayah Rudy, "Ini mami dari Jawa, ini papi dari Gorontalo. Rudy di mana? Kamu di sini Rudy. Kamu Indonesia." (Lihat gambar)
Adegan masa kecil Rudy Habibie
"Ini mami dari Jawa"
Adegan masa kecil Rudy Habibie
 "Ini papi dari Gorontalo"
Adegan masa kecil Rudy Habibie
"Rudy di mana? Kamu di sini Rudy. Kamu Indonesia."
Kita juga Indonesia, kita sama seperti Rudy. Aku cukup yakin, zaman sekarang sebagian besar dari kita pasti lahir dari campuran suku dan budaya, tidak sekental moyang-moyang kita. 

Lalu, apakah kita punya rasa nasionalisme sebesar Rudy? 

Negara dan manusianya itu saling ketergantungan. Negara tanpa manusia, tidak akan dianggap di mata internasional. Manusia tanpa negara akan kebingungan, tidak ada hukum yang memayungi hak dan kebebasannya. Kalau mau contoh nyata, lihat saja negara konflik, penduduknya harus mengungsi ke negara lain, kebebasannya dan hak-haknya sangat dibatasi karena mereka bukan warga asli. Sesulit-sulitnya hidup di negara sendiri, keberadaan kita masih diakui.

Negara itu rumah, jika bukan yang menempati yang menyayangi, lantas siapa lagi?

Semoga lewat pertanyaan ini bisa jadi bahan introspeksi, jawabannya silakan dipikir dan disimpan sendiri.


Tulisan ini disertakan dalam :
banner arisan blog PBB
Pena Blogger Banua (PBB) yang merupakan salah satu komunitas blogger banjarmasin mempelopori kegiatan ini untuk membantu peningkatan kualitas blog anggotanya. Didasari dengan konsisten menulis artikel setiap bulan, minimal diharapkan kualitas tulisan anggota bisa lebih terasah. Bukan hanya untuk anggota, PBB juga memiliki badangsanak.com sebagai bentuk kontribusi dari anak banua untuk banua. Sebuah website karya anak banua ini berisi artikel-artikel yang informatif dan menarik. Coba mampir deh, siapa tahu betah :)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Like Us

Google+

Media Sosial

Part Of

Blogger Perempuan
indonesian hijab blogger
PENABLOGGERBANUA