Jumat, 20 Juli 2018

#AlaReview : Ubur-Ubur Lembur Karya Raditya Dika


Dari sekian banyak karya Raditya Dika, aku paling suka bukunya. Jujur aku belum pernah nonton film garapannya di bioskop, paling banter di TV. Oh ada satu serial youtubenya yang aku ikuti, Malam Minggu Miko. Yang paling seru sih waktu masih ditemani Ryan Adriandi. Team Rian!! *wkwk

Seperti bukunya yang lain, Ubur-Ubur Lembur juga berangkat dari kisah hidup Raditya Dika. Buku ini disajikan dalam bentuk kumpulan cerita dengan selipan komediTidak teralu tebal, Ubur-Ubur Lembur terdiri dari 12 bab 231 halaman. Ringan sih, ringan banget. Baik dari segi bacaan maupun berat buku, sama-sama ringan. Mudah dicerna. Namun untuk bobot, buku ini gokil sihInilah alasan kenapa aku suka buku Raditya Dika.
Tampilan depan buku Ubur-Ubur Lembur
Oh iya, buku yang ada di tangan ku ini sudah cetakan ke-3 lho. Terhitung 5 bulan dari tanggal pertama dicetak, 1 Februari 2018. Mantap betul!

Selama membaca buku Ubur-Ubur Lembur, aku seperti diajak berpikir. Membayangkan masa lalu, kemudian menarik pelajaran. Membayangkan masa depan, kemudian membangun keyakinan. Di dalam buku ini Raditya Dika menggambarkan kehidupanya yang bertumbuh. Dari anak-anak dengan hobi gamenya, remaja dengan percintaannya, menuju dewasa dengan ketidakjelasan pilihannya, hingga kini menjadi dewasa dengan penuh keyakinan.
Tampilan belakang buku Ubur-Ubur Lembur
Dari keseluruhan buku Ubur-Ubur Lembur ini, ada beberapa bagian yang menjadi favoritku.

Seperti yang pertama, perihal es krim stroberi.


Di bab ini perhatianku teralih dari inti cerita. Melihat bagaimana Raditya Dika berinteraksi dengan patah hatinya membuatku teringat pada sebagian besar orang.

Sekali dalam hidupnya orang pasti merasakan patah hati, entah dengan cerita yang bagaimana. Mereka pasti juga melakukan berbagai pelampiasan agar bisa keluar dari rasa yang paling tidak nyaman. Namun, seiring dengan bertambahnya usia (re:dewasa) kebanyakan orang cenderung tidak berminat untuk terlalu melampiaskan. Just like no more drama needed, take it easy. As easy as you take an ice cream, eat, and go away. Finish.

"Untuk sesuatu yang begitu manis, kenapa rasanya begitu hambar?"
We know that the nature of broken heart is clearly bitter. We know that ice cream won’t taste as sweet as ever. We just try not to care for the thing that won’t last forever.


Begitu pula dengan kedatangan Kathu, teman masa kecil Raditya Dika yang bertemu saat hujan gerimis.


Bagian ini memberiku tambahan keyakinan bahwa kata terlambat itu memang nggak ada. Setiap orang sudah dibekali kelebihan dalam dirinya, sudah diset waktunya, dan sudah diatur jalan ceritanya.

Kathu, sedari kecil sudah tahu apa mimpinya. Sejauh apa ambisinya dan bagaimana dia harus mencapainya. Waktu kuliah, bahkan Kathu sudah bisa hidup dari apa yang dia sukai. Berbeda dengan Raditya Dika, yang hingga duduk di bangku kuliah masih nggak tahu mau jadi apa dalam hidup.

Namun, bertahun-tahun setelahnya Raditya Dika berproses, hingga menjadi seperti sekarang. Bisa merasakan apa yang Kathu rasakan, hidup dari apa yang disukai.

Terlihat seperti terlambat, tapi jika tidak melewati waktu yang panjang dan kejadian-kejadian yang banyak, maka blog, buku-buku, dan film Raditya Dika mungkin tidak ada hari ini. Mungkin buku Ubur-Ubur Lembur, bukan Ubur-Ubur Lembur judulnya.

Nah, itu Kathu.

Satu lagi, selain dikejar, mimpi juga harus bisa diajak berkompromi, sebab nggak semua hal bisa berjalan seperti maunya kita. Seperti Kathu, yang memilih menjadi guru musik padahal dia ingin jadi pemain musik seutuhnya. Keputusan yang diambil karena kurangnya apresiasi terhadap permainan tabla.
Maka itulah dewasa, tumbuh dan berkembang di dalam pilihan. Waktu berlalu, kejadian demi kejadian berganti, keadaan terus berubah, dan keputusan akan mengiringi setiap perubahan itu.

Juga ketika Raditya Dika ngobrol dengan seorang anak yang ingin jadi artis.


Baca juga : #AlaReview : Film Teacher's Diary dari Thailand

Era digital memang berpengaruh besar pada cita-cita, sebab tontonan bisa mudah didapatkan. Memang di mana lagi datangnya rasa ingin jika bukan dari apa yang sering dilihat?

Tidak masalah seseorang ingin jadi apa, ingin jadi artis pun ya silakan. Namun seperti yang Raditya Dika katakan dalam Ubur-Ubur Lembur, media terlalu banyak menampilkan kemewahan para artis dan gemerlap ketenarannya, seolah-olah semua jadi serba mudah. Siapa sih yang nggak mau hidup enak, apa-apa serba bisa, apa-apa serba ada?

Adik nanya apa mau malak? Judes gitu! *wkwk 

Namun harus diketahui juga, dikenal tidak sepenuhnya enak. Bisa aku kutipkan kalimat Raditya Dika seperti ini;

“Popular itu seperti candu. Ketika kita sudah berada di tengah lampu sorot, ketika lampunya redup kita akan berusaha untuk tetap populer. Dengan berbagai cara.”

((Berbagai cara)) (((BERBAGAI CARA)))

“Jadi orang yang dikenal publik harus tahan dengan asumsi-asumsi orang. Misalnya, orang-orang penuh dengan asumsi yang salah.”

Kalau nggak tahan, sebulan jadi artis pasti rasanya udah pengen menghilang ke pulau terpencil aja sekalian *wkwk.

“Jadi orang yang dikenal publik harus siap sedia dimintai foto bareng.”

Robot saja punya waktunya charging, apalagi manusia. Pasti ada saat-saatnya ingin "sendiri". Nggak gampang dong bisa berfoto dengan tetap tersenyum manis di saat seperti itu? 

The best part is when...


Bagian yang paling paling paling menarik adalah ketika Raditya Dika mengatakan dengan jelas kapan tepatnya dia memilih sepenuhnya masuk pada dunia tulis. Kapan tepatnya dia berpindah dari kepastian ke ketidakpastian. Kapan tepatnya dia berani memperjuangkan mimpinya hingga mengabaikan pandangan miring orang lain.

Dia juga menceritakan suka dukanya menjadi penulis. Bagi siapa pun yang ingin menjadi penulis atau sekalian mau terkenal, ini info yang saaaaaaaangat bagus.

Kata Raditya Dika menjadi penulis itu,
Kamu seperti hidup dengan mengerjakan PR setiap hari. Kalau ketika sekolah kamu nggak suka ngerjain PR, maka siap-siap saja karena dengan menjadi penulis kamu selalu punya PR. Berhubung nggak ada jam kerja yang jelas, maka yang kita lakukan setiap hari adalah menulis untuk proyek baru dan proyek baru lagi. Seolah mengerjakan PR sepanjang hari.

Ada pesannya lho, #StopBeliBukuBajakan.

Namun, tidak melulu soal duka karena menjadi penulis juga ada sukanya,

"Menjadi penulis berarti kamu punya kebebasan penuh terhadap hidupmu. Kamu akan merasakan nikmatnya berkarya, menulis sebuah naskah, dan melihat naskah itu di toko buku. Kamu akan tersenyum setiap kali ada pembaca yang menyukai buku kamu atau malah kamu menginspirasi dia."

Masalah imbalan? Tenang.
Ini motivasi bokapnya Raditnya Dika,
“...Just do what you do best, and money will come by itself.”

Bukankah itu terbukti pada banyak orang?
Mereka yang melakukan dengan usaha terbaik dan menyertakan hati biasanya memang mendapatkan imbalan yang pantas. Intinya sih rezeki urusan Tuhan, urusan kita berusaha yang terbaik.

Apapun itu, semua punya risiko. Hidup dengan mimpi lekat dengan usaha keras, ketidakpastian, waktu yang fleksible, pencapaian, ketenaran, tapi juga rasa sepi. Hidup dengan rutinitas lekat dengan kepastian, lebih tenang, waktu yang terikat, monoton, dan juga rasa bosan. Dua-duanya berjuang menjalani hari.

Pilihan, tetap ada di tangan kita sendiri.


Tulisan ini disertakan dalam :

Arisan blog, mungkin kedengaran agak absurd tapi eye catching dong?

Pena Blogger Banua (PBB) yang merupakan salah satu komunitas blogger banjarmasin mempelopori kegiatan ini untuk membantu peningkatan kualitas blog anggotanya. Didasari dengan konsisten menulis artikel setiap bulan, minimal diharapkan kualitas tulisan anggota bisa lebih terasah.

Bukan hanya untuk anggota, PBB juga memiliki badangsanak.com sebagai bentuk kontribusi dari anak banua untuk banua. Sebuah website karya anak banua ini berisi artikel-artikel yang informatif dan menarik. Coba mampir deh, siapa tahu betah :)


6 komentar:

  1. Samaa. Bagian es krim di kebun binatang itu ngena banget πŸ˜‚

    BalasHapus
    Balasan
    1. Haha cerita sejuta umat kayaknya, yg baca bab itu rata2 ngerasa πŸ˜‚

      Hapus
  2. Aku juga suka Malam Minggu Miko wkwk

    BalasHapus
  3. Whahahha, aku belum pernah baca novel ini. Jadi penasaran deh.

    Dabest deh ya qoute dari bang Radit “...Just do what you do best, and money will come by itself.”

    BalasHapus
    Balasan
    1. Banget, bikin jadi tambah semangat nulis wkwk

      Hapus

Like Us

Google+

Media Sosial

Part Of

Blogger Perempuan
indonesian hijab blogger
PENABLOGGERBANUA