Rabu, 20 Juni 2018

Trial & Error : Kontrol Media Sosial Dengan Tulis Tangan


Dari bulan Mei sampai pertengahan Juni lalu aku membuat jadwal rehat (atau orang bilang, hiatus), sengaja nggak posting artikel atau sekedar ngedraft. Pingin refreshing sama belajar nahan diri, ningkatin kontrol untuk kiriman blog dan media sosial.

Kenapa kudu gitu?

Gimana ya, akhir-akhir ini postinganku labil banget *hehe. Sebelumnya aku sempat menarik sementara tulisanku yang berjudul, "Cara Mengetahui dan Menghindari Akun Palsu (Fake Account di Instagram", karena beberapa pembaca sepertinya salah paham dengan tulisan ini. M
ereka mengira aku menyajikan tips untuk mengetahui pemilik asli akun palsu. Hal tersebut aku simpulkan dari banyaknya komentar yang minta aku untuk melacak siapa pemilik akun yang mengganggu mereka.

Setelah aku telaah ulang, tampaknya kesalahan memang di aku, ada banyak kalimat ambigu di dalamnya. Merasa sayang karena artikel tersebut termasuk termasuk popular post di Persua.she, ku putuskan untuk disunting saja (tidak dihapus permanen). Yang banyak di ganti pun hanya bagian pembukanya, tips-tipsnya masih tetap sama.

Masalahnya hal seperti itu bukan yang pertama, sudah berkali-kali. 

Belum lagi, akhir-akhir ini penggunaan media sosialku juga semakin tidak terkontrol. Banyak posting yang terlalu personal bahkan cenderug aib, apa-apa dicurhatin. Ujung-ujungnya ya harus hapus, juga.

Untung bukan tokoh publik, yang baru update sepersekian detik sudah jadi viral, yang belum sempat sadar kalau postnya terlalu emosional sudah keburu dihujat netizen. Fyuh~

Tapi tetap saja, kebiasaan labil macam itu memang nggak aman. Punya blog nggak bisa sembarangan sunting-sunting artikel, kualitas blog bisa dicap nggak baik di mata pembaca. Belum lagi tanggapan teman-teman di jejaring sosial, bisa aja mereka jadi males mampir ke blog gara-gara lihat isi jejaring sosial yang nggak jelas (bahkan cenderung emosional).


Gimana trafik blogku mau naik, hedeh.

Itulah sebabnya aku perlu hiatus, untuk tata ulang. Belajar dari pengalaman, nggak semua ide bagus akan bagus untuk disebarkan, setidaknya perlu waktu untuk pertimbangan yang lebih matang, penulisan yang lebih bijak, serta emosi yang dikendalikan.

Sudah banyak contoh ketika emosi mengambil peran terlalu besar dalam sebuah tulisan, baru-baru ini bahkan terjadi pada seorang influencer.

Aku nggak tahu rincinya gimana, soalnya waktu kejadian aku masih dalam mode hiatus media sosial. Yang ku tahu, dia ada masalah dan membagikannya di instagram, twitter, bahkan blog (yang otomatis menjadi sangat amat rinci). Tapi, bukannya dapat dukungan, netizen malah ramai-ramai berkomentar miring tentang attitude-nya. Pokoknya gitu, lah.

Aku yang melihat respon saat masalahnya selesai pun masih bergidik. Gimana enggak, masalah sudah lewat, tapi seluruh kanal media sosial masih ramai membicarakan yang bersangkutan. Semoga dia tabah dan kuat.

Ya setidaknya jadi bisa belajar, jika di kemudian hari terjadi lagi masalah serupa jangan gampang menghujat dan ikut koar-koar. Jangan menilai kejadian hanya dari yang bersangkutan, nilai juga dari attitude penontonnya (si netizen yang koar-koar komentar), sebab suatu hal jadi besar dan viral itu karena dua sisi. Tokoh publik tanpa tanggapan para pengikutnya nggak bakal jadi apa-apa toh? Sekedar kejadian biasa.



Dari sana aku juga jadi teringat tentang digital footprint alias jejak digital. Apa yang dilakukan di internet akan terekam dan menjadi jejak digital kita, sehingga tidak ada yang bisa lepas tangan dari apa yang telah diperbuatnya. Hanya karena kegiatannya ada di dunia maya lantas konsekuensinya juga maya? Oh tentu tidak. 

Menghapus pun kadang tidak membuat jejak benar-benar hilang, karena bisa saja ada yang melakukan screencapture terhadap kegiatan kita. Intinya sih hati-hati dalam mengirim dan mengomentari sesuatu, jangan semaunya.



Maka dari itu, pada hiatus kemarin aku juga mencari alternatif untuk kegiatan nyampahku (re:curhat), biar nggak melulu lari ke media sosial. Sulit sih, waktu hiatus itu aja aku masih sering cheating, beberapa kali kebobolan update di instagram dan twitter. Tapi tetap kudu dijalani karena jejak digitalku sudah terlalu banyak, sudah saatnya dikontrol ulang biar nggak nambah-nambahin sampah.

Dan alernatif yang ditemukan kemudian adalah tulis tangan alias manual di buku.

Kan ada note di smartphone, kenapa nggak pakai itu aja ?

Pakai, kok. Nulis di note termasuk yang paling lama aku lakukan, tapi ada beberapa efeknya yang bikin ribet.

1. Notenya jadi berantakan
Semua-muanya ditulis di note, dari checklist, draf, sampai curhat campur jadi satu. Berantakan dan bikin ribet kalau mau cari-cari dan perlu cepat.

2. Menuh-menuhin memori handphone
Aku termasuk yang takut nambahin kartu memori ke handphone karena pengalaman handphonenya ikut rusak gara-gara kartu memorinya rusak. Maka dari itu catatan yang segambreng itu ujung-ujungnya malah nambah berat beban handphone dan handphonenya pun jadi lelet. Proses bersihinnya juga ribet, harus dibaca satu-satu dulu, ditelaah. Nggak rajin.

3. Teralih (distract)
Yang paling penting nih. Awalnya memang nulis curhat di note, tapi selesainya tetap lari ke media sosial, dan ujung-ujungnya malah nyambung curhat di sana. Untung kalau sebagian sempat ditulis di note, kadang-kadang semuanya malah masuk media sosial.

Dengan kata lain, perlu alternatif wadah tulis yang tidak berbentuk elektronik, digital, pokoknya gedget lah. Nulis di gadget, apapun bentuknya, akan sama distractednya dengan nulis di handphone, dan satu-satunya cara ya buku.

Setelah sekian lama, akhirnya kemarin coba lagi untuk tulis tangan. Beneran nggak gampang, tapi dinekatin aja demi mengeluarkan uneg-uneg. Yang bikin males itu bukan capeknya, tapi tulisan tanganku yang cenderung nggak bisa konsisten. Di awal rapi dengan penuh kehidmatan, nggak berapa lama akan berubah jadi coretan ujian matematika. Pokoknya jauh dari kata rapi, tulisan tangan nggak ada feminin-femininnya ๐Ÿ˜Ÿ.


Selesai nulis buru-buru dibaca, penasaran hasilnya *wkwk. 

Hasilnya... Lumayan.  

Agak capek sih, tapi sekali tulis bisa kelar 2 lembar, nggak perlu ngotorin media sosial, nulis apa juga bebas, dan yang paling penting nggak nambahin jejak digital. Sekalian juga jadi filter, yang jelek bisa tetap di buku dan yang bagus bisa disalin masukin medsos. Win-win solution, uneg-uneg keluar, media sosial pun terjaga.




Kuncinya, selama nggak ada orang lain yang baca dan bukunya nggak hilang kita masih dalam kondisi aman. Apa yang sudah tercantum di buku menjadi jejak yang kita punya secara pribadi. Setelahnya menjadi hak kita mau diapakan bukunya, disimpan monggo, dimusnahkan nggak masalah.

Mungkin sebagian orang akan berpikir, "Di zaman canggih mau-maunya ngeribetin diri dengan buku dan tulis tangan."

Semua kembali ke kita masing-masing sih, ini pilihan. Yang ada pun masih solusi mentah, aku sendiri belum bener-benar menjalaninya. Kedepannya pasti akan ada trial and errorcheating, dan kecolongan dalam berbagai macam bentuk.

Kalau kalian punya alernatif lain, monggo silakan diteruskan, kalau mau share di komen aku juga mau baca dengan senang hati. Kalau setuju dan mau coba cara di atas, ya monggo sama-sama kita coba, semoga sukses. Yang terpenting, kita semua masih mau berusaha untuk menjaga kesehatan media sosial, layaknya dalam tatap muka ada banyak norma yang dijaga, begitu pula dalam media sosial. Harus saling memikirkan kenyamanan bersama.

Satu lagi, apa pun perbedaan pilihan orang dalam menjaga diri terhadap internet dan segala fasilitasnya, kita cuma punya kewajiban saling menghargai. Kalau ada yang milih nggak main media sosial sekalipun, itu keputusannya, bukan berarti dia kaku dan anti-teknologi. Kalau ada yang mau memaksimalkan media sosialnya, ya jangan dicap yang aneh-aneh (haus popularitas, panjat sosial, dkk), siapa yang tahu kalau dia sudah menerapkan usaha maksimal juga agar media sosialnya tetap aman. 

Saling dukung, ajak dan ingatkan untuk jaga kebaikan aja ๐Ÿ˜€.


Oh iya, sekalian deh hehe :


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Like Us

Google+

Media Sosial

Part Of

Blogger Perempuan
indonesian hijab blogger
PENABLOGGERBANUA