Selasa, 20 Maret 2018

Diajak Ngetrip Ke SDN Tanjung Kunyit Bareng 1000 Guru Kalsel


Ini cerita tentang perjalanan ajaib 2 tahun lalu, tentang pertama kalinya ikut jadi relawan.

Pada tanggal 14-15 Februari 2016 aku berkesampat ikut dalam program Traveling and Teaching oleh 1000 Guru Kalsel (Kalimantan Selatan). TnT yang aku ikuti kali itu adalah TnT ke-5 yang bertempat di SDN Tanjung Kunyit. Tanjung Kunyit  sendiri merupakan sebuah desa yang terletak di Kecamatan Pulau Laut Tanjung Selayar, Kabupaten Kotabaru, Provinsi Kalimantan Selatan. Berjarak kurang lebih 310 km dari Banjarmasin (ibu kota Kalimantan Selatan).

Oh iya, bagi yang belum jelas apa itu TnT dan 1000 Guru, kalian bisa cek langsung di sini

Tapi aku yakin sudah pada tahu semua kan?

Apresiasi yang besar terhadap Traveling and Teaching ini membuat komunitas 1000 Guru tumbuh besar dan menyebar di penjuru Indonesia. Nah, 1000 Guru Kalsel merupakan salah satu pertumbuhan 1000 Guru yang terletak di Kalimantan Selatan (Kalsel).

Sebelum merambat ke cerita panjang, perkenalan dulu ini aku dan banner itu bukti bahwa pelaksanaannya memang di tahun 2016 haha..
Ketimbang lama ngalor ngidul, mending kita langsung ke intinya aja ya. Ceritanya flashback ke 2 tahun lalu. Mohon dimaklumi ya kalau rada-rada lupa, udah lama soalnya *haha.

Seperti perjalanan pada umumnya, setiap orang dianjurkan membawa obat-obatan dan kebutuhan pribadi. Namun  bedanya, kali itu kami juga diminta secara khusus untuk membawa sandal, baju putih, sebuah kado, senter dan juga sleeping bag. Apa yang kalian bayangkan pasti sama denganku waktu itu, "Hmm sepertinya kami akan melakukan sesuatu hal yang menyenangkan." But.. You'll see soon! 

Sekarang mari mulai perjalanan di malam tanggal 13 Februari 2016 (H-1).

Perjalanan menuju Tanjung Kunyit merupakan perjalanan panjang, yang jika di hitung estimasi waktu tempuh bisa mencapai 13 jam. Belum termasuk hambatan mengantri di Pelabuhan Tanjung Serdang (penyebrangan dengan kapal feri dari Batulicin menuju Kotabaru), jalanan yang rusak dan menyebrang dari Teluk Tamiang menuju Tanjung Kunyit. Maka perjalanan malam yang cenderung lengang diharapkan bisa memperpendek waktu tempuh.

Namun, meeting point kami waktu itu bukan di Banjarmasin melainkan di Banjarbaru. Secara tidak langsung harusnya waktu tempuh bisa berkurang 2 jam dengan asumsi pengurangan jarak 35 km Banjarmasin-Banjarbaru (penting banget segala dihitung *wkwk).

Siapa sangka, waktu kami jadi memanjang berjam-jam.

Di tengah perjalanan ban bus yang kami tumpangi mengalami kebocoran. Untungnya masih ada bengkel dan kios yang buka, sehingga perbaikan bisa cepat dilakukan dan kami bisa menunggu  dengan nyaman.

Sayangnya permasalahan tidak sesederhana itu, entah apa dan bagaimana tapi proses perbaikan menjadi sangat alot dan lama. Para pengurus 1000 Guru Kalsel yang awalnya hanya duduk menunggu jadi turut membantu. Sedangkan kami (para relawan) dipersilahkan istirahat sementara di dalam rumah pemilik kios. Iya istirahat sampai pagi alias tidur.

Belum cukup sampai di situ, pagi harinya salah seorang relawan terkunci di dalam toilet dan lagi-lagi memerlukan waktu lama untuk mengeluarkannya. Kejadian miris (tapi lucu) yang membuat suasana menjadi hangat, membuat kami lupa bahwa punya jadwal yang tertunda gara-gara bus yang kerusakanannya lebih rumit dari hubungan LDR. Lupa bahwa perjalanan yang harus kami tempuh untuk sampai di Tanjung Kunyit masih sangat panjang.

Setelah kejadian rescue from the toilet, perjalanan pun dilanjutkan (Sabtu pagi, 14 Februari 2016).

Aku lupa di mana tepatnya, tapi sepertinya jarak dari kios ke Pelabuhan Tanjung Serdang lumayan jauh, karena sesampainya di sana kami telah disambut hangat oleh antrian panjang. Antrian yang ingin dihindari dengan berangkat malam, ujung-ujungnya ketemu juga. Hmmm..

Singkat cerita, kami telah menyebrang dan tiba di Kabupaten Kotabaru. Perjalanan selanjutnya menuju ke arah Lontar yang berjarak kurang lebih 70 km dengan jalanan yang sudah terkenal rusak parah (semoga sekarang sudah lebih baik).

Dari Lontar kita akan beremu Teluk Tamiang. Dari Teluk Tamiang barulah kita menyeberang menggunkan perahu menuju Tanjung Kunyit, sebuah pulau kecil yang dikelilingi lautan.

Taadaaa... Tibalah kami di Tanjung Kunyit...

Pemandangan alam di Tanjung Kunyit

Saat tiba di sana, matahari sudah condong ke arah barat menandakan waktu telah lewat tengah hari (intinya sih aku lupa jam berapa hehe). Kami menumpang di rumah seorang warga yang letaknya tepat di seberang SDN Tanjung Kunyit. Aku kurang yakin itu rumah siapa, rumahnya cukup luas, mungkin milik kepala desa. Mungkin.

Satu lagi, langit di Tanjung Kunyit hihi..

Seluruh warga di sana sangat ramah, kami benar-benar disambut dengan baik bagai tamu kehormatan. Aku cukup kaget, tidak menyangka kami akan mendapat sambutan sehangat itu. Perfect first impression.

Setelah sambutan hangat, kami semua dipersilahkan istirahat. Beberapa ada yang memilih keluar untuk berkenalan, ada yang tetap di dalam untuk istirahat, atau kumpul bersama regu masing-masing menyiapkan bahan ajar, kado, dan bingkisan untuk kegiatan teaching esok hari. Aku sendiri lupa apa yang aku lakukan waktu itu, hehe.

Oh iya, kegiatan mengajar akhirnya dipindahkan ke hari Minggu tanggal 15 Februari 2016. Beruntunglah kami, pihak sekolah serta warga, dan terutama adik-adiknya bersedia.

Matahari tenggelam, kami memasuki waktu malam (tanggal 14 Februari 2016).

Baju putih yang aku sebutkan di atas, ternyata khusus dipakai pada malam itu. Selepas magrib kami juga diminta mengikuti arahan untuk  menuju suatu tempat dengan membawa serta senter, kado dan sleeping bag masing-masing.

Aku merasa baik-baik saja awalnya, sebelum menyadari bahwa jalan yang ku tapaki semakin menanjak, terus menanjak, bahkan terasa semakin curam. Ternyata malam itu kami harus mendaki sebuah bukit.

Bisa dikatakan itu adalah pendakian pertamaku, meski hanya sebatas bukit. Rasanya sulit, selain tidak ada persiapan, aku juga tidak tahu bahwa akan ada agenda mendaki bukit yang-memang-nggak-tinggi-tinggi-amat-tapi-curam-itu-huhu. Sepertinya itu agenda kejutan dari 1000 Guru Kalsel yang berhasil membuatku terkejut.

Atau jangan-jangan hanya aku yang tidak tahu akibat tidak fokus saat briefing, hmm..

Yang lebih parahnya lagi, malam itu aku hanya mengenakan sendal jepit tipis dan tidak membawa air minum. Ketika tiba di atas, aku rasanya ibarat ikan yang keluar dari air, megap-megap buk!

Setelah semua tiba di atas, kami memulai acara selanjutnya yaitu "Perkenalan".

Aku kurang yakin sih harus menamai apa untuk acara malam itu. Namun, dari dekorasi yang disiapkan di puncak bukit-yang-tidak-aku-tahu-namanya, beberapa makanan yang dihidangkan, serta dress code warna putih, hmm agak mirip resepsi dengan tema garden party sih.

Bukan gimana-gimana, jadi meriah aja. Ditambah dengan adanya bongkar kado, sepertinya memang diniatkan agar acara perkenalan itu bisa lebih santai dan berkesan. Terniat lah. At least, it's such a fun concept.

Alur acaranya juga diatur cukup unik. Satu orang maju terlebih dahulu untuk memilih kado (dari seluruh kado yang telah dikumpulkan dalam sebuah kotak), diawali oleh Ketua 1000 Guru Kalsel. Setelah memilih, dilanjutkan dengan memperkenalkan diri, menyampaikan kesan pesan setelah sehari, sera buka kado dan menyebutkan nama pemberinya. Nah, si pemberi kadolah yang selanjutnya maju dan melakukan hal yang sama.

Begitulah seterusnya sampai kadonya habis dan acaranya pun selesai.

Malam semakin larut dan kami (yang perempuan) dipersilahkan tidur di dalam ruangan (katanya sih itu bangunan peninggalan Belanda), sedangkan laki-laki tidur di luar. Di mana aja sesukanya.

Sayang, belum sempat kami semua berbaring tiba-tiba seorang relawan perempuan kesurupan. Semua perempuan yang ada di dalam ruangan pun diminta untuk tidur di luar saja. Jaga-jaga supaya yang lain nggak "kena". Katanya. Hh, my mood instantly breakout.

Kami semua pun pindah keluar, aku berjejer dengan 2 teman lainnya dan berada di paling pinggir tepat di sebelah menara suar.

Baru banget aku rebahan, susah payah nemuin posisi enak, ngatur-ngatur merem yang enak. Sudah baca doa, tinggal nunggu terlelap. Eh tiba-tiba datang teman maksa pingin tidur di antara aku dan temanku. Seenaknya rebahan menindih badan mau minta tempat di tengah, orang jawa bilangnya "ndesel-ndesel" dan kalo kata orang banjar "bekajal".  Katanya takut tidur di pinggir.

LHA SEENAKNYA, AKU KAN JUGA TAKUT!!

Tapi mau gimana lagi, mau tidak mau aku harus bergeser atau pingsan tak berdaya. Badannya besar, mau ku paksa bagaimana pun, aku akan tetep kalah tarung. Beruntunglah masih ada ruang untuk sedikit bergeser, hhh..

Aku benar-benar semakin terpojok, benar-benar di pojok sampai rasanya pengen meluk menara aja. Mood yang sudah terlanjur breakout itu semakin berantakan akibat ulah beliau ini.

Aku kembali mengatur posisi, mencoba menenangkan diri menerima kenyataan dan perlahan memejamkan mata. Kayak nggak bisa membiarkanku tenang, lagi-lagi ada yang mengusik kesabaranku. Aku merasa ada yang menyenggolku dari sebelah kanan (dari arah menara).

Setelah ku lihat, kaget bukan kepalang ternyata teman yang tadi kesurupan membangunkanku dan mengajakku mengobrol. Jujur waktu itu aku rasanya jadi tambah marah sama teman yang-maksa-tidur-di tengah-tadi, seharusnya dia kan yang di pinggir karena datang terakhir dan dia aja yang diajakin ngobrol. Tapi, aku nggak punya kekuatan untuk marah-marah, habis dayaku menyadari bahwa aku ini sedang ngobrol sama orang atau bukan.

Saat itu yang lainnya sudah terlelap, aku ngobrol berduaan dengannya tanpa ada yang mengetahui. Parahnya dia-yang-tadinya-kesurupan juga jadi tidur di sebelahku, di hammock yang menggantung pada menara.

Aku ingat betul malam itu rasanya ku ingin nangis aja..

Mood yang rusak, jantung yang deg-degan membuat mataku cerah dan bersemangat, aku jadi sulit tidur. Belum lagi itu adalah pertama kalinya aku tidur di alam terbuka, yang orang bilang beralaskan bumi beratapkan langit (halah). Ditambah lagi malam itu langit juga jadi indah banget, rasanya aku makin fokus ngeliatin bintang-bintang dan langit malam yang luasnya nggak kira-kira.

Untungnya, setelah bersusah payah aku pun bisa tidur meski setelah jam 4 subuh, saat bintang-bintang sudah mulai redup dan matahari bersiap terbit. Saat rasanya belum lama aku terlelap, aku harus kembali terbangun karena yang lain sudah mulai riuh ingin berfoto di menara suar. Kalau tidak salah sekitar jam 5:30 WITA.

Tidur sejam setengah, lemes rasanya aku tu. Kayak jemuran ditiup angin. Rontok!

Tapi tetep sih, mau serontok apa pun aku tetap naik ke atas menara dan ikut ber-selfie ria, hahaha. Sayanglah, sudah jauh dan lelah mendaki (ah elah) kalau nggak ada kenang-kenangan. Lumayan kan buat ngisi feed instagram, secara berfoto dari ketinggian selalu bisa menghasilkan gambar yang apik.

dan inilah hasilnya setelah susah payah manjat menara wkwk

yang ini wefie dengan beberapa relawan

Singkat cerita, kami pun turun dan kembali ke rumah untuk bersiap melaksanakan kegiatan Teaching.

Selama proses bersiap dan berganti pakaian aku sempat malu dan terharu. Kami terlalu lama menghabiskan waktu untuk bersantai dan berfoto saat di atas, hingga membuat adik-adiknya lama menunggu. Mereka sudah berkumpul di depan rumah, lengkap dan rapi dengan seragam putih merahnya.

Kami?

Baru pulang dari atas bukit setelah asik bercengkrama dan ber-selfie bahkan belum mandi huhu.

Semangat mereka di hari minggu itu juga membuatku cukup terkejut. Berbanding terbalik dengan keadaan di kota yang segala serba mudah dan terfasilitasi. Jangankan hari minggu, ketemu gerimis aja pilih bolos. Cuaca cerah pun kadang males sekolah. Iya ini sebagian kok, sebagian besar, aku juga masuk ke dalam bagian itu.

Kegiatan Teaching (Mengajar) Minggu 15 Februari 2016

Jujur, kesan pertamaku pada sekolah ini cukup membingungkan. Bagiku jika dilihat dari segi bangunan, SDN Tanjung Kunyit masih cukup layak dengan lantai keramik dan dinding betonnya. Muridnya pun lumayan banyak. Kenapa harus di sini?

Tak butuh waktu lama untuk mencari jawabannya. Lewat cerita-cerita mereka selama proses  mengajar, aku berhasil mendapatkan beberapa hal. Meski tidak mutlak, paling tidak itu dapat melunasi rasa penasaranku. Aku bersyukur waktu itu mendapat bagian regu di Kelas 6, sehingga aku bisa lebih mudah untuk berkomunikasi dengan mereka.

Berikut beberapa jawaban yang bisa aku paparkan;

1. Masa depan sekolah ini masih mengkhawatirkan.

Ini aku lihat dari jumlah siswa di sana. Pada pelaksanaan TnT waktu itu aku ingat betul murid kelas 6 di SDN Tanjung Kunyit cukup banyak. Saking banyaknya, sampai-sampai hari itu mereka harus duduk di lantai karena jumlah meja dan kursinya tidak mencukupi.

Ada satu kesempatan yang akhirnya membuatku mengerti. Ketika aku menanyai seorang murid yang cukup pemalu perihal namanya, aku tidak bisa mendengarnya dengan jelas karena suara yang begitu lirih. Aku kemudian menanyai teman di sebelahnya, tapi dia juga tidak tahu. Sampai ada seorang murid mengatakan, "Dia bukan murid sekolah ini kak."

Oke, I got it. Meski aku masih cukup bingung kenapa bisa, tapi cukuplah bagiku sekedar tahu bahwa rupanya jumlah murid yang sebenarnya tidak sebanyak yang terlihat.

Toh aku juga tidak bisa berbuat banyak selain berharap bahwa jumlah yang ada itu memang segitu adanya jumlah anak usia kelas 6 sekolah dasar di Tanjung Kunyit, bukan karena ada beberapa yang enggan sekolah.

Perihal sistem dan tenaga pendidiknya aku masih kurang yakin, apakah mencukupi atau tidak, waktu itu aku tidak mendapatkan informasi semacam itu. Tapi, dalam proses pembuatan tulisan ini aku sempat mencari-cari informasi menganai SDN Tanjung Kunyit saat ini, aku penasaran dengan jumlah siswa di sana sekarang. Namun bukannya mendapat yang aku cari, aku malah menemukan artikel berita di tahun 2015 tentang kepala sekolah dan tenaga pengajar SDN Tanjung Kunyit yang bolos bertahun-tahun dari kewajiban tugasnya. Jika ingin membaca selengkapnya kalian bisa buka di sini.

Bagiku itu berita yang cukup mengejutkan, tapi aku tidak berani untuk berkata lebih jauh tentang apa alasan mereka melakukan tindakan tersebut. Dari berita tersebut aku juga jadi teringat sebuah film Thailand yang diangkat dari kisah nyata, tentang perjuangan seorang guru yang mengajar di sekolah apung, tanpa listrik apalagi sinyal, jauh di pelosok. Almost like SDN Tanjung Kunyit lah pokoknya.

Dari film tersebut aku benar-benar melihat jiwa seorang pendidik, bagaimana dia memikirkan bukan apa yang ia dapat, tapi apa yang ia bisa lakukan agar anak didiknya tetap sekolah dan bisa semangat memeperjuangkan masa depan. Dan aku rasa SDN Tanjung Kunyit perlu sosok pendidik yang memiliki jiwa seperti tokoh di film tersebut. Dan jika memang sudah ada, mereka harus benar-benar diapresiasi

Someday I want make a review for this recommended film.

2. Beberapa dari mereka tidak berminat melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi.

Hari itu, aku dan teman-teman regu kelas 6 membawakan tema "cita-cita" sebagai bahan ajar. Kami memakai beberapa perlengkapan seperti jas putih, baju tentara, dan lainnya sebagai contoh jenis
profesi.

Silahkan ditebak aku menjadi apa?
Tolong jangan salah fokus ke tinggiku yang setara anak sd, fokus aja mikirin profesi apa yang kira-kira aku perankan hahaha

Namun, ketika kami menanyai mereka perihal apa yang mereka cita-citakan, sebagian dari mereka tampak bingung dan tak mengerti. Seolah tidak ada yang mereka khayalkan untuk suatu hari nanti di masa depan. Ini tampak aneh bagiku, karena biasanya anak-anak akan selalu bisa spontan menjawab perihal cita-cita meski bahkan dengan jawaban superhero. Tapi mereka tidak, sebagian besar malah terdiam.

Parahnya bahkan ada yang tidak berminat untuk melanjutkan sekolah mereka selepas ini. Ada beberapa alasan yang mereka utarakan, tapi yang satu ini paling berkesan, yaitu karena SMP terlalu jauh dari tempat mereka. Lagi-lagi ini perihal akses dan jarak.

Aku ingat hari itu bahkan meminta mereka berjanji untuk jangan berhenti. Bukan ingin memaksa dan mengharuskan mereka menepati, aku hanya ingin mereka tahu (dan semoga mengerti) bahwa apa yang ada setelah ini adalah penting bagi mereka hingga aku harus membuatnya berjanji. I just wanna hear their enthusiasm. If at the last, they still can't do it, it's okay. It's good for me to have persuaded them.

3. Mereka seakan berdiri di atas kakinya sendiri.

Aku bingung menyebutkan apa untuk poin ini. Kehidupan ekonomi warga desa Tanjung Kunyit terbilang sangat sederhana, tapi mereka semua baik-baik saja. Semua terlihat cukup, mereka mandiri untuk memenuhi kehidupan sendiri.

Mereka memperoleh air bersih dari alam, dari sumur-sumur di dekat bukit. Mereka memperoleh lisrik dari mesin pembangkin genset. PDAM dan PLN sepertinya masih sulit menjangkau mereka. Semua di sana masih sangat sederhana, apalagi perihal transportasi. Jangankan kendaraan bermotor, sepeda pun jarang terlihat. Meski punya sepertinya akan jadi kurang efektif karena, ketimbang motor, perahu lebih diperlukan untuk bisa mengakses tempat lain. Wajarlah, pulau tempat mereka tinggal tidak cukup besar dan juga dikelilingi perairan.

Meskipun begitu, dalam beberapa hal aku tetap merasa prihatin.

Mungkin karena terbiasa melihat keadaan ibu kota, aku jadi sedikit kaget dengan apa yang terjadi pada mereka. Malam hari terasa lebih gelap, untuk mandi dan memperoleh air bersih harus berjalan dulu menuju sumur terdekat. Keadaan kamar mandi dan toilet di rumah juga belum memadai. Bahkan pada kegiatan teaching kali itu terlihat beberapa anak menggunakan seragam sekolah yang ku nilai sudah tidak layak. Warnanya yang tidak putih lagi, kekecilan, sobek, bahkan tidak bersepatu. Jangankan sepatu, bahkan ada yang tidak beralas kaki.

Aku kira Indonesia, bukan, Kalimantan yang diliputi kekayaan tidak lagi memiliki masalah semacam ini.

Regu kelas 6 bersama dengan seluruh murid kelas 6.
Silahkan ditebak yang mana aku..

Conclusion :
Setidaknya dari ketiga hal di atas aku mulai memahami bahwa apa yang sedang dibangun dari gerakan TNT ini bukanlah mengajar secara harfiah atau sekedar bertemu memberi bantuan dan berfoto, namun lebih dari itu. Bagiku kegiatan ini sedang mencoba membangun motivasi, bagi relawan dan terutama bagi murid di sekolah tersebut.

Seperti telah kita ketahui bersama, motivasi pendidikan oleh orang-orang yang hidup di daerah pedalaman apalagi dengan akses yang menyulitkan, cenderung rendah bahkan relatif tidak berkeinginan unuk meneruskan sekolah. Pendidikan tinggi seolah hanya hal yang tidak mungkin mereka angankan. Seolah, "Di mana kini tempat berpijak hanya di sanalah masa depan".

Menurutku hal semacam itu sedikit banyak dipengaruhi karena kurangnya informasi yang sampai kepada mereka, hingga membuat mereka tidak tahu dan tidak berkeinginan untuk sesuatu yang lain.

Bandingkan dengan kita yang hidup di kota. Informasi bertebaran di mana-mana, kita bisa melihat banyak hal dengan mudah. Dari sanalah kita kemudian menginginkannya. Bayangkan jika kita tidak mendapat informasi, kita tidak melihat banyak hal, pasti kita juga tidak menginginkannya.

Sederhana, karena kita memang tidak tahu kemudian kita tidak mau.

Anggota regu kelas 6, sebenarnya kurang satu orang sih hehe

Untuk rangkaian kegiatannya sendiri, normal seperti belajar sambil bermain pada umumnya. Dimulai dari perkenalan diri, tanya jawab berhadiah, dan membagikan bingkisan berupa tas serta peralatan sekolah. Mungkin yang mebedakan adalah menulis cita-cita pada Pohon Impian.

Pohon impian ini seperti agenda wajib pada setiap kegiatan TnT. Nantinya, murid-murid di sana diminta menuliskan cita-citanya pada sebuah lembaran berbentuk daun  dan di tempel sama-sama pada Pohon Impian di dinding kelas. Kami berharap dengan ditempelnya Pohon Impian, akan menjadi reminder dan pacuan agar adik-adiknya termotivasi untuk terus melanjutkan pendidikan.

Nah, inilah yang disebut Pohon Impian.
Aku yang sebelah kiri ya, nama kakak relawan sebelah kanan nyusul setelah dapat izin wkwk
Dengan selesainya kegiatan teaching, selesai pulalah seluruh rangkaian kegiatan kami. Ditutup dengan berfoto bersama, kami jadikan sebagai tanda bahwa pernah terjadi pertemuan. Ada kaki yang pernah dijejakkan, ada cerita yang sama-sama dimiliki.

All crew Traveling and Teaching 5 with all students of SDN Tanjung Kunyit

Sebagai hiburan sebelum pulang, kami habiskan sisa waktu menikmati keindahan pemandangan atas dan bawah laut di Tanjung Kunyit. Meski pun aku tidak ikut berenang, setidaknya aku ikut senang. :)

Terimaksih Tanjung Kunyit, adik-adik, dan 1000 Guru Kalsel.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Like Us

Google+

Media Sosial

Part Of

Blogger Perempuan
indonesian hijab blogger
PENABLOGGERBANUA