Selasa, 27 Maret 2018

Bicara Sarjana, Mendengar Lagu Untukmu yang Baru Saja Diwisuda Dari Senar Senja

Beberapa minggu lalu, aku ketemu lagu ini di Youtube, nadanya kalem dan liriknya sederhana. Masih cukup baru, dirilis bulan September 2017 lalu. Lagunya nenangin banget sih kalau buat aku dan apa yang akan dibahas kali ini terinspirasi dari lagu itu juga. Yang mau tahu, ini lagunya silakan diputar.

Senar Senja - Untukmu yang Baru Saja Diwisuda

(source :Youtube channel "IndieTube") 

Cek.. cek.. 
Tulisan kali ini akan sedikit sentimentil, semoga berkesan.

Yang pertama, untuk para (dan calon yang dalam hitungan bulan akan jadi) wisudawan dan wisudawati, selamat dan semangat ya. Try to don't overthink. Nikmati apa yang sekarang sedang dihadapi. 

Bagi para sarjana yang pernah merasakan bangganya diwisuda, ini rekomendasi lagu untuk kalian. Untuk mengembalikan lagi rasa bangga menjadi sarjana, setelah cukup keras dihantam kenyataan. So far, itulah yang aku rasakan. 

Perasaan yang mulai hambar, nengok foto-foto wisuda pun sudah males. Tapi saat mendengar lagu ini, jadi  flashback bahkan terharu mengingat lagi jerih payah menyelesaikan penelitian untuk skripsi. Kemudian merasa, "Aku keren kok!" hahaha..

Kadang-kadang kita perlu merasa bangga pada diri sendiri kan?

Menjadi sarjana memang membanggakan, pujian dan antusiasme yang diberikan terbilang besar. Tapi entahlah, mungkin suasana membanggakan itu hanya mampu bertahan 1-2 minggu saja. Setelahnya? Diminta sedikit bergegas untuk mengambil keputusan. Harus memilih langkah ke depan. Yang utama dan terutama diharapkan sesuai kualifikasi pendidikan. 

Tapi apa kabar dengan mereka yang memilih keluar dari "JALUR"?

Menuai beberapa pertanyaan yang nggak seharusnya ditanyakan.

Aku yakin banyak orang yang pernah mengalami hal ini dan teman sekampusku jadi salah satunya. Dia memutuskan untuk bekerja pada sebuah perusahaan pelayanan milik negara, jelas jauh dan tidak ada hubungannya dengan pendidikan kami sebagai sarjana kesehatan.

Segelintir orang yang tidak mengerti keadaan, seketika mulai mempertanyakan. Mereka bilang,

"Duh segitu nggak maunya ya nerusin di bidang kesehatan?"
"Loh, kenapa kerja di sana? Orangtuamu nggak apa-apa kamu kerja nggak sesuai jurusan?"
"Eh, katanya si dia kerja di sana ya? Kok mau sih? Orangtuanya nggak apa-apa tuh?"

Di sini aku menggarisbawahi pertanyaan, "Kok mau sih?"

Aku hanya merasa bingung, bukankah dia melakukan pekerjaan halal dan memperoleh penghasilan, kenapa harus tidak mau? Ya sudahlah itu pilihannya, selama seseorang tidak memilih pekerjaan haram, bagiku rasa-rasanya tidak ada yang perlu dipertanyakan.

Pahamilah bahwa setiap langkah yang terpilih tentulah dipertimbangkan sebelumnya dan mempertanyakannya terkesan tidak sopan.

Aku yakin tidak ada yang akan merasa biasa jika dia yang ditanyai. Paling tidak ada sedikit rasa sesak ketika pilihan yang telah dipikirkan matang-matang lantas ditangguhkan lewat pertanyaan.

Jika kalian punya pengalaman yang sama, tenang merupakan satu-satunya pilihan. Mungkin terasa kesal dan menyebalkan tapi melawan dengan emosi sungguh tidak akan berfungsi. Biarlah penilaian atas rasa penasarannya terhadapmu menjadi milik mereka sendiri, itu tidak akan merubah apapun dari dirimu.

Terpenting, hargai dengan baik orang-orang yang mengerti untuk mengucapkan selamat. Yang sibuk tanya-tanya, yaudah dimaklumi saja.

Terus bagaimana nasib yang belum kerja atau kerja tapi tidak secara resmi?

Bagi mereka, kadang ada kalimat perintah di samping pertanyaan. Aku maklumi mungkin begitulah cara mereka memberi nasihat dan usaha ingin membantu. Yang cukup sering terjadi seperti ini;

a : Kamu sudah kerja?
b : Belum, hehe
a : Di sana ada lowongan lho, sudah coba?!

dan,

a : Kamu sudah kerja?
b : Belum, hehe
a : Yah, coba dong, honor kek, apa kek. Apa aja dulu lah yang penting dapet pengalaman!

Mungkin jika 1-2 kali diperbincangkan, bolehlah. Tapi jika terlalu sering, siapa yang tidak lelah. Aku bahkan pernah meminta ibuku, "Jika ada lagi yang bertanya berlebihan, 'Bilang saja aku-nya tidak berminat meneruskan di bidang yang sama'. " Agar beliau tidak lelah memikirkan pembelaan.

Benar saja, hal itu terjadi dan jawaban penanya tersebut sangat membuatku terkesan.

Katanya, "Loh kok gitu? Yah sia-sia dong kuliahnya? hahaha"

Jika kalian berhadapan langsung pada posisi ini, mungkin kalimat ini dapat membantu. Ya sejauh ini, kalimat inilah yang ku gunakan untuk membela diriku sendiri.

Sekolah adalah tempat mendidik agar seseorang menjadi lebih baik, bukan sebatas mencetak gelar. Apalagi sampai menjadi penentu arah hidup seseorang. Jika kamu berhasil keluar menjadi orang terdidik, yang berwawasan dan beretika. Maka sekolahmu bukanlah waktu dan uang yang disia-siakan.

Maka tunjukkan bahwa kalian terdidik dan tahu namanya etika. Bukan untuk orang lain, tapi untuk diri kita sendiri dan orangtua.

Percayalah, tidak ada orang yang tidak ingin bekerja. Selepas sekolah, semua orang pasti ingin bekerja, apapun alasannya. Apalagi sarjana, pasti ada rasa ingin menikmati hasil jerih kuliahnya bertahun-tahun. Tapi kita harus ingat, semua orang punya waktunya masing-masing. Jika itu bukan sekarang, nanti mungkin jadi waktunya.

Lupakah bahwa jerih payahnya untuk bisa menjadi sarjana itu perlu apresiasi? Seseorang bisa saja memilih santai dan lulus di lain waktu, tapi ketika dia memutuskan untuk mengambil tugas akhir dan menyelesaikan kuliahnya, itu perjuangan. Jika skripsi hanya masalah sepele, maka tidak akan pernah ada meme-meme yang menjadikan penderitaannya parodi. Apakah hanya karena dia belum bekerja atau bekerja pada arah yang berbeda menjadikan usahanya di masalalu tidak berguna?

Itu adalah dua hal yang berbeda, sungguh seharusnya tidak perlu terlalu dikait-kaitkan. Apa yang dulu ia lakukan dan yang kini ia kerjakan adalah perihal masa depan, lantas siapa yang paling tahu tentang masa depan selain Tuhan?

Dia yang menjalani pun sedang berusaha kuat melanjutkan kehidupan. Tanpa kalian sadari,  pertanyaan-pertanyaan meragukan yang datang bertubui-tubi seringnya malah menambah pikiran, "Jika saja aku tahu hari ini aku akan menjadi seperti ini, aku pasti akan memilih jurusan yang lain." Menimbulkan kesan penyesalan yang sebelumnya tidak pernah dipikirkan.

Keadaan berubah, masa terus berganti, dan itu akan terus mempengaruhi setiap keputusan yang terpilih.

Aku pun bukan orang yang sudah sangat sempurna mengatur diri. Aku masih perlu belajar untuk menjaga mulut agar tidak bertanya "kenapa" perihal pilihan orang lain. Nggak bisa dipungkiri, pertanyaan-pertanyaan kepo semacam itu sudah hampir menjadi kebiasaan karena sering digunakan untuk basa-basi.

Namun, karena hukum berlaku, bahwa apa yang kita semai akan kita tuai. Maka pertanyaan basa-basi pun harus sangat diperhatikan. Jika hari ini aku yang bertanya "kenapa", besok bisa jadi keputusanku yang ditanyai "kenapa". Kita tahu bahwa keputusan adalah hal yang sentimentil, maka mempertanyakannya tentu berisiko.

Kenapa? (Lagi-lagi kenapa hahaha)

Karena setiap keputusan ada alasan-alasan penting yang sulit diutarakan. Tentu menjadi pilihan kalian untuk bersedia mengutarakan kepada siapa pun, hanya saja harus siap bahwa tidak semuanya benar-benar murni ingin tahu dan membantu. Akan terus ada orang yang sekedar penasaran, dan jawaban kita tak akan banyak berpengaruh pada penilaian mereka terhadap "Kenapa dia kok gitu?".

Iya itu semua normal dan hak masing-masing orang untuk menciptakan penilaiannya. Namun, dengan hak dan kebebasan yang ada baiknya kita tidak perlu menjadi "penanya kepo nan sok tahu" tersebut.

Dan lagi, ada kalanya kita perlu introspeksi, ketika kita sudah cukup merasa tidak nyaman saat apa yang kita pilih dipertanyakan. Bukan nggak mungkin omongan orang ada benarnya dan bukan nggak mungkin kita diperlakukan begitu karena kita melakukan hal yang sama.

Semoga perbincangan kali ini bermanfaat dan kita bisa lebih terbuka lagi terhadap apa yang kita alami. Siapa tahu ada yang sedang dalam posisi ini dan merasa kesal menjalaninya, tenang kamu nggak sendiri kok, tidak usah dipikirkan berlebihan ya.. :)



____________________
Telah disunting.

2 komentar:

  1. orang yang bertanya "kenapa dia kok gitu", berarti dia sedang menilai orng lain dari sudut pandangnya, aku rasa engga ada salahnya sih selama hanya sebatas bertanya, tapi kalau udah sampai memojokan orang karna pilihan yang dia buat, nah itu tuhhh yg harus di hindarin haha

    karna betul banget, orng kalau udah milih suatu keputusan misal kaya yg km sebutin di atas, ya pasti udah mikir dulu lah, gak mungkin asal milih.

    dan soal keluar dari jalur, udah biarin aja orng" kaya gitu haha, ilmu engga ada yg sia-sia. aku aja dulu SMK tata busana sekarang kuliahnya ambil ilmu pendidkan, jauh banget tapi ilmu yg didapet waktu SMK berguna bgnt sampe skrng.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah terimakasih banyak untuk sarannya,
      Kayaknya tulisan ini perlu direvisi deh supaya nggak terkesan antipati, soalnya nggak semua orang yang bertanya "kenapa dia kok gitu" berniat memojokkan ya, bisa jadi karena ingin serius berempati hehehe

      Wah berpengalaman keluar jalur. Bener banget, yang namanya ilmu nggak akan pernah sia-sia. Semangat kuliahnya!

      Hapus

Like Us

Google+

Media Sosial

Part Of

Blogger Perempuan
PENABLOGGERBANUA