Minggu, 28 Januari 2018

Yuk, 'Kenalan' Lagi Sama Orangtua!

Apa harus nunggu jadi orangtua dulu baru mau 'mengenali' mereka? Kenapa nggak sekarang aja?


Berawal dari teman yang sering curhat perihal dia dan orangtuanya. Bukannya nggak akur sih, kalo aku bilang cuma kurang komunikasi. Pokoknya apa yang dia lakuin selalu salah di mata orangtuanya. Dia sendiri tahu kalo sebabnya adalah quality time yang kurang banget, saking jarangnya, jadinya malah canggung. Setiap mau memulai pembicaraan susahnya minta ampun.  

Sedangkan aku, padahal punya masalah yang sama, wkwk. Setiap obrolan panjang kami tentang orangtua isinya cuma ngeluh-ngeluh-dan-ngeluh. Tapi dari ngeluh itu jugalah kami menemukan hasil lewat pertanyaan macam ini, “Sadar nggak sih, kita kayak gini kayaknya kita yang egois deh?

Yup, we found the key. Ego. Kalo kita nggak bisa membuat orangtua mendengarkan kita, kita yang harus ngalah untuk mendengarkan mereka. 

Obrolan tentang egois itu, bermula dari keresahan kami setelah lulus kuliah dan kerja. Banyak banget yang berubah, apalagi perihal teman ngobrol. Rasanya takut bakal kehilangan teman yang selama ini always listening always understanding. Ngeri banget ngebayangin yang biasa curhat tinggal chat, terus nanti harus nanya dulu, "Sibuk nggak?" dan dibalas berjam-jam kemudian. Keburu anyep beritanya.

Tapi mau gimana lagi, kami juga nggak bisa menghindar. Umur dan keadaan memang memaksa untuk pisah memilih keperluan masing-masing. Siap nggak siap harus menerima bahwa fase "Sibuk nggak?" itu harus dijalani.

Selain kualitas waktu bareng teman yang turun drastis, dunia kerja juga bikin kami sadar, gimana tekanan dan rasa lelah bikin emosi nggak stabil. Serius ngaruh banget, apalagi kalo nggak ada yang bisa diajak komunikasi. Mungkin bagi kami, selesai 'nugas', pulang, bisa langsung istirahat, atau ngerjain urusan-urusan personal lainnya. Tanggung jawabnya masih sesederhana itu. Namun, bagi ayah/ibu kita, selesai 'nugas', pulang, masih harus nugas lagi. Nugasin anak-anaknya di rumah. 24 hours is never enough.

Dari sanalah kami mulai menyadari, betapa kebutuhan manusia untuk ngobrol itu besar banget. Kalo kita masih ada kesempatan untuk haha-hihi sama teman, beda cerita dengan orangtua. Bagi mereka, kumpul-kumpul bareng teman sudah jadi sesuatu hal yang mahal, yang bisa mereka ajak komunikasi ya pasangan atau enggak anak. Namun, anak diajak ngobrol pun belum tentu paham dengan apa yang mereka ceritakan. Sedangkan pasangan? Bagus lah jika komunikasi antara keduanya lancar, tapi pasti nggak selamanya lancar toh?. Akan ada masa ketika jenuh dan cranky melanda.

Sebagai anak mana tahu kapan orangtuanya lagi cranky, tahunya kalo sudah ada salah satu yang ngedumel, wkwk.

Nah, ketika kami menjadi mustahil untuk dicurhatin, hal yang paling mereka harapkan dari kami, "Baik-baiklah dirumah, jangan bikin kesel". Namun, baik menurut usaha kami ternyata belum sesuai dengan baik menurut mereka.

Itulah yang mendukung kami untuk memutuskan, mengalah. Terima apa saja yang mereka katakan, lakukan semua yang mereka minta (selama itu baik, tapi pasti baik sih). Setelah di mata mereka kami sudah memenuhi kriteria "Anak yang baik sesuai harapan" barulah kami masuk untuk mendengarkan apa yang mereka ceritakan.

Apa berhasil?


Alhamdulillah iya. Sejauh ini ada progress. Orangtua kami mulai membuka diri dengan kami, melihat seberapa besar usaha kami menjadi baik membuat mereka sedikit luluh. Dan reward-nya, kami hampir-hampir nggak pernah lagi disalahin. Mereka bahkan mulai yakin menceritakan keluhan mereka ke kami dan kami juga sama (lebih mudah untuk curhat dengan mereka).

Kami meyakini, hubungan apapun itu, solusi paling baik adalah harus ada yang mau ngalah. Harus! Nggak ada terkecuali meskipun kami adalah anak, yang mungkin sudah bergelar sarjana maupun punya penghasilan sendiri.

Terus keras kepala dan tak ingin disalahkan adalah kesalahan besar. Itu menjadi bentuk dari egois yang tersamar, karena dilihat dari segi manapun jasa orangtua jauh lebih banyak dibanding seberapa berat pun usaha kita. Dalam Islam bahkan ada sebuah cerita tentang anak yang memikul ibunya ketika thowaf keliling Ka'bah, itu pun belum bisa dikatakan membalas setarik nafas yang ibu keluarkan ketika melahirkan kita. Lengkapnya bisa lihat di sini


Jika di antara kalian ada yang merasa "Aku sudah terlalu sering mendengar, aku mau didengar!"


Coba ingat lagi. Memangnya apa yang didengar? Apa sudah dengar hati mereka? Enggak kan?! Yang selama ini kita dengar adalah suara yang keluar dari mulut mereka.

Berapa usia kalian saat ini? Di bawah 20 atau di atas 20?

Aku yakin kita sudah sepakat dan sering dengar bahwa, “Semakin dewasa seseorang semakin dia hebat dalam berpura-pura.” Sedang orangtua kita bukan orang-orang yang baru menginjak 20-an, yang baru unyu-unyunya menjadi dewasa. Tentulah pengalaman dan waktu tempuh terhadap kehidupan yang lebih lama membuat mereka lebih ahli dalam hal itu, hingga kita sulit menyadarinya. Mereka telah terbiasa menyimpan beberapa hal untuk diri sendiri. 

Bahkan baru-baru ini aku tahu Bapak sakit apa, juga dari Ibuku, bukan dari Bapak langsung. Sedangkan yang ku tahu selama ini, beliau selalu baik-baik saja. 

Ini foto aku bareng Bapak zaman dulu banget, mungkin tahun 98-99an, waktu aku masih TK


Aku yakin beberapa dari kita juga sudah cukup sering mengamalkan yang namanya “Berpura-pura sampai terbiasa”. Sulit kan? Bukankah itu berarti kita harusnya bisa paham bagaimana membuka hati untuk orangtua. Meskipun kita seorang anak, nggak ada salahnya memahami cara pandang orangtua atas sikap-sikapnya. Apa harus nunggu jadi orangtua dulu baru mau 'mengenali' mereka? Kenapa nggak sekarang aja?

Ini nih aku ada cerita sedikit, bagi aku ini nyesek, nggak tahu deh kalian.

Kemaren, kalau nggak salah tanggal 11 Januari. Ba'da subuh, aku sudah cukup sibuk dengan kerjaan, aku dengar orangtuaku berbincang tentang seorang anak SMA yang dapat tugas magang di tempat Bapak, namanya Bobi (bukan nama asli).

Bobi ini sering banget bohong untuk bolos, macam-macam alasan yang dia pakai, yang paling terbaru ini alasannya sakit. Bapak sebenarnya tahu kalau dia bohong, tapi mau digimanain lagi namanya orang izin sakit masa dilarang. Ini kejadiannya beberapa hari sebelum tanggal 11-nya.

Nggak taunya, lewat tengah hari ibu Bobi menelpon Bapak. Beliau tanya, “Apa Bobi tadi masuk? Soalnya dia ini sudah pulang dan ditanyain katanya disuruh pulang cepet.”

Menimpali pertanyaan ibu Bobi, Bap ak pun mengatakan yang sebenarnya, bahwa Bobi tidak masuk hari itu. Bukan bermaksud menjatuhkan kepercayaan orangtua pada anaknya, tapi aku setuju dengan alasan bahwa orangtua Bobi harus menasihatinya untuk kebaikan Bobi sendiri.

Ibu Bobi juga pernah mengunjungi langsung ke tempat Bapak, sekalian lewat, sekalian ngecek keberadaan Bobi. Namun, naasnya hari itu Bobi juga tidak ada ditempat.

Usai bercerita, tak lama berselang rumah diketuk oleh ibu-ibu yang tidak kami kenal. Ibuku pun bergegas membuka pintu.

Ibu itu masuk dengan sedikit sungkan sambil berkata, "Saya tetangganya Mama Ahmad"
Di mana Ahmad ini adalah sepupuku. Aku pun langsung berbalik mendengar kata-kata beliau (dari tempaku duduk aku bisa melihat ruang tamu, tapi orang di ruang tamu tidak bisa melihatku, hehe). Langsung terbersit dalam benakku, ‘Ini pasti Ibu Bobi, kan Bobi tetanggaan sama si Ahmad’.

Beliau kembali bertanya, “Bapaknya ada?”

“Iya ada, tunggu sebentar ya” Jawab ibuku.

Tak lama kemudian Bapak keluar untuk menemui beliau. Ibu itu kemudian memulai pembicaraan, bisa ku dengar nada suara yang amat segan. Tak lama setelahnya ibu itu tiba-tiba bersuara sedikit nyaring, “ Masuk kamu, ngapain di luar situ!”

Benar saja, yang masuk kemudian adalah Bobi.

Ibu Bobi pun melanjutkan pembicaraan (bersama Bobi yang duduk tertunduk di sampingnya). Dengan segenap rasa sedih, rasa bersalah, juga rasa malu beliau membawa Bobi kemari berniat untuk meluruskan serta meminta maaf  atas masalah itu dan menanyakan pada Bapak apa Bobi masih boleh magang di tempat beliau.


Kalian jangan penasaran dengan izin Bapak, karena pasti boleh, hehe.

Setelah ngobrol panjang lebar, ibu Bobi mengatakan satu kalimat yang benar-benar membuatku tersentuh. Rasanya hampir netes air mataku, hampir. Beliau berkata,"Iya Bobi nih, aku kasian abahnya behujan bepanas membayari inya sekolah, inya nya kaynian.."

Ibu itu berbahasa Banjar dengan fasih, yang jika aku terjemahkan begini :
"Iya Bobi ini, saya kasihan (tidak tega) dengan ayahnya yang (bekerja) kehujanan kepanasan demi membiayai dia sekolah, sedangkan perilaku dia seperti ini.."

Sungguh aku tidak bermaksud menguping, tapi kalimat tersebut bisa ku dengar sesaat sebelum aku memasang handsfree. Aku masih cukup berpikir untuk tidak perlu mendengar kesedihan seorang ibu sepagi itu. Itu masih pukul 7 WITA. Sungguh setelah kalimat itu, aku tidak mendengar apa-apa lagi, telingaku sudah dipenuhi dengan lagu Adele-When We Were Young volume maksimal.

Dari cerita ini, setidaknya kita bisa lihat bagaimana perjuangan ayah Bobi, yang mungkin saja tidak diketahuinya sebelum hari itu. Terlepas apapun alasan Bobi, entah dia merasa jenuh, atau tidak cocok dengan jurusan yang kini tengah ia jalani, bolos tetap bukan solusi. 

Terus, masih mau egois? Ayo dicoba komunikasi.


Tapi aku dan keluargaku bukan tipikal romantis, yang bisa bercengkrama ngobrol dari hati kehati.


Pada dasarnya untuk ngobrol nggak mesti jadi romantis sih menurut aku, karena nanti akan romantis bersama jalannya waktu. Mulai aja dulu yang ringan-ringan, lama kelamaan biar suasana yang mengarahkan, wkwk.

Lagi pula definisi romantis akan berbeda setiap orang. Ada yang harus dalam keheningan malam dan ngobrol syahdu baru bisa jadi romantis. Ada juga yang dengan ngobrol sambil bercanda, ledek-ledekkan, sudah termasuk romantis. Kita nggak tahu lho, bisa jadi dalam bercandanya orangtua ada makna tersirat dari hatinya.

Intinya adalah agar kita bisa mendengar apa yang selama ini tidak pernah mau diutarakan orangtua kita. Pinter-pinter mancing lah, jangan mancingin gebetan doang. Dapatnya enggak nyeseknya iya. Hayolho!


Sok tau deh!


Maafin. Tapi aku dan keluargaku juga bukan tipikal romantis. Bahkan percakapan yang terjadi jika aku mengeluh sedang sakit, akan seperti ini,

Aku: Aduh pusing nih, kayaknya demam.
Mama : Sudah minum obat?
Aku : Belum
Mama : Kalau nggak minum obat nggak usah ngeluh!
Aku : *Pasrah dan nyari-nyari obat*

See? Mau kesel nggak bisa, lah wong kata-kata beliau bener. Usaha dulu, kalau nggak ada hasil baru ngeluh. Tuh! Dengerin mama akuh, hahaha.


Terus gimana mancingnya?


Inilah kenapa judul post ini Yuk! Kenalan Lagi Sama Orangtua. Kalian harus mulai mengenali watak mereka, gimana kalo lagi seneng, lagi marah, lagi BT, serta kebiasaan lainnya. Dibaik-baikin, nurut apa kata mereka. Gampangnya, diakrabin deh.

Paling nggak lambat laun kalian akan paham dan lebih ngerti kapan timing yang pas buat ngobrol. Seteleh itu, mulailah beraksi memancing, wkwk.

Kalo aku hobinya nanyain masa lalu, dulu ketemu dan kenalnya gimana? PDKTnya? Sekolahnya? Bahkan aku juga nanyain seberapa nyebelinnya aku waktu puber? wkwk. Serius deh, remaja yang lagi puber itu sering banget berantem sama orangtua. Coba deh tanyain, gimana kalian waktu puber di mata orangtua,wkwk.

Aku nggak jamin gimana hasil akhir hubungan kalian dengan orangtua, tapi untuk aku dan temanku, banyak perubahan besar setelah kami amalkan "Ngobrol" ini. Kami jadi merasa lebih paham satu sama lain, bonding sama orangtua itu makin kerasa banget, kalo ada apa-apa juga jadi nggak bingung harus kemana. Orangtua pun mulai terbuka dengan kami, kami juga mulai dipercaya bahkan nggak jarang diminta pendapat. Yang paling penting, mereka nggak sering cranky lagi ke kami.

Oh iya, kalo mau ngobrol liat-liat suasana juga ya, jangan orang mau tidur kamu ajakin ngobrol, hmmm.

Terussss, terakhir nih. Saran aja, dikurang-kurangin ya kegiatan unfaedahnya. Pacaran misalnya(kecuali halal sih, hehe), apalagi yang masih sekolah, nanti dulu deh. Kan waktunya bisa dipakai untuk family time.

Satu lagi deh, masih ada, pelajari ilmu peka, wkwk. Yang ini harus otodidak, nggak ada gurunya.

Terakhir, ini beneran, buat penutup, wkwk. Kenali dan temukan poin-poin kalian sendiri, kan orangtua kita beda, hehehe..

Yang ini fotoku bareng mama yang paling terbaru, 2017 lalu hihi

Semangat para anak, semoga bermanfaat :)


4 komentar:

  1. Saya merasa cukup terbuka sm ortu... Tp tnyt bnyk kejadian di masa lalu yg saya baru tau sekarang, setelah nikah heuheu... Jd hal yg enggak menyenangkan, mereka keep sendiri

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya kak, taunya sering belakangan, jadi ngerasa sedih sama terharu juga huhu

      Hapus
  2. setuju. sekarang saya juga masih belajar, karena sudah begitu terbiasa memilih cuek daripada ngobrol. sadar-sadar, orangtua sudah terlihat tua, apalagi tinggal bapak satu2nya (alhamdulillah yah bapaknya satu). Karena kalau ortu ngga ada pasti kita bakal nyesel, tapi at least, bisa diusahakan supaya ngga terlalu nyesel krn udah ngedengerin mereka lebih banyak....

    terima kasih untuk tulisannya!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah samasama kak :)
      Iya kak bener banget, yg penting usaha, krna usaha aja kdg masih blum tau banyak, apalagi enggak, senang rasanya ketemu sama yg sepemikiran hehe

      Hapus

Like Us

Google+

Media Sosial

Part Of

Blogger Perempuan
PENABLOGGERBANUA