Minggu, 17 Desember 2017

Nggak Mesti Orang Baik, Semua Orang Boleh Melakukan Hal Baik Untuk Palestina



Aku takut, dengan postingan ini kalian berfikir aku orang yang baik dengan rasa empati dan simpati yang tinggi. Enggak. Bagiku sih aku biasa aja, jahat enggak, baik apalagi. Jauh. Aku masih sering egois, masih sering pelit, gampang marah, ngambekan and other bad temper. Tapi aku percaya, kita nggak mesti jadi orang baik dulu untuk bisa melakukan hal baik.

Sebenarnya secara nggak sadar, dengan melakukan hal baik kita tuh sudah memilih untuk berproses menjadi baik. Biasanya, satu hal baik akan membawa kita ke hal-hal baik lainnya. Caranya? Mau memulai. Kebanyakan sih, apa yang sudah dimulai akan sulit dihentikan.

Dan tulisan ini adalah hal baik pertama yang aku lakukan sepanjang 22 tahun usiaku. Nggak tahu sih kalian bakal mikir ini hal baik atau apa. Tapi setidaknya, keadaan di Palestina seperti sudah mengetuk apa yang selama ini aku tutup rapat-rapat. Hati.

Aku tahu sekedar tulisan nggak bakal pengaruh buat mereka, tapi aku cuma nggak mau diam. Who knows ada yang mau bergerak juga setelah membaca postingan ini. Bukannya gerakan kecil yang dilakukan bersama-sama akan jadi gerakan besar?

Selamat membaca :)

***
Assalamualaikum..

Bagaimana kabar kalian hari ini?
Apakah deru bom itu masih di sana? 
Apa serbuk mesiu masih mengotori udara di sana?
Aku sangat berharap dia berhenti. 

Semoga kalian selalu dalam lindungan Allah SWT.

Terimakasih telah berjuang dengan sangat, kalianlah orang-orang beruntung yang telah dipilih untuk menghadapai mereka. Israel. Golongan tanpa negara. Yang terus mengganggu dan dengan arogan ingin merebut apa yang tidak pernah diberikan untuknya.


Kalianlah orang terkuat dengan hati dan jiwa yang bersih. Tidak pernah sedikit pun terpancar rasa takut dari mata kalian, senyum yang terus merekah meski tengah resah, tangan yang teguh untuk saling menggenggam, dan kaki yang selalu kokoh meski bahkan berulang kali dipatahkan. Siapa lagi yang bisa mengalahi semangat kalian.



Sungguh air matamu yang jatuh jauh lebih berharga, tawamu lebih menyejukkan, ucapanmu lebih menenangkan. Betapa ini begitu mengharukan, tiada apapun yang mampu meruntuhkan keteguhan kalian, tiada keraguan dari setiap kata yang terucap. Tidak harta tidak pula dunia. Keyakinan dan keikhlasan begitu menggema di sana. Kalian jauh lebih tahu apa itu arti tujuan dari pada kami.


Kami telah mendewasa dengan ribuan rasa aman, rasa tentram, dan kelapangan untuk hidup dan menikmati hidup. Tapi jiwa kami jauh lebih renta dari kalian. Keyakinan kami jauh lebih kecil dari kalian.


Maafkan kami pernah mengasihani kalian, mungkin seharusnya kamilah yang perlu dikasihani. Betapa malu rasanya melihat kalian begitu mengahargai persaudaraan ini. Betapa malu rasanya melihat kalian dengan bangga mengakui kami. Betapa malu rasanya melihat kalian menyayangi kami. Sedangkan apa yang kami lakukan? Sebagian dari kami bahkan condong untuk menyerah dan mengabaikan.


Begitu mewah kami dari pandangan kalian, begitu luar biasa kami dari permukaan. Betapa menyedihkan kami jika kalian tengok ke dalam. Ketika permusuhan, perpecahan, saling lempar cacian, hingga arogansi bukan lagi hal asing. Ketika toleransi, empati, dan simpati malah di-tabu-kan.



Kami sibuk berbenah keluar, hingga retak di dalam. Betapa kami sering teralihkan oleh hal-hal yang harusnya menjadi penguat untuk terus merekat. Perbedaan membuat kami lupa, bahwa di mata kalian kami adalah satu. Kami Indonesia.


Wahai Palestina, wahai Negeri Syam..
Televisi kerap kali menayangkan kisruhnya tanah kalian. Hampir setiap hari media sosial kami menampilkan gambar pedihnya luka kalian. Foto kalian pun bertebaran di mana-mana. Namun kami hanya diam terpaku lantas bergeming.



Hingga tiba di hari Donal Trump menyatakan Al Quds menjadi milik Israel, mengesahkan Ibu Kota Israel adalah Jarusalem. Itulah hari dimana kami berhenti bergeming. Entah sensasi apa yang ingin ia cari dengan bertingkah semacam itu. Yang pasti dengan pengumumannya, dia sedang menggali masalah untuk dirinya sendiri.


Kami tidak lagi bisa diam. Diam kami tak mampu membuat mereka berfikir untuk berhenti. Sudah cukup bagi kalian untuk sendiri. Ini saatnya kami. Ini saatnya kita buka suara, saatnya seluruh yang terpecah menyatukan kata.


Melawan Israel dengan 1:1 tidak pernah cukup. Biarlah kita maju bersama, karena selama ini mereka pun tidak sendiri. Israel disokong oleh sebuah negara, yang kita tentunya sudah tahu itu siapa. Bagaimana lagi kita bisa diam melihat kacang lupa kulitnya. Israel yang dulunya tak punya negara, penduduknya terpencar ke seluruh penjuru dunia dan ketika tak seorang pun menyukainya, tak ingin bahkan hanya untuk menampungnya, kemudian Palestina bersedia. 

Tapi sekarang apa?

Seperti sebuah sinetron, maka Israel adalah antagonis yang pura-pura amnesia. Bagaimana mungkin dia bisa lupa setelah diberi banyak kebaikan, diberi rumah dan tumpangan. Kini mereka malah mendesak tuan rumah menyerahkan tanahnya. Jika pun tak punya hati nurani, tak punyakah rasa malu?

Jika kalian bisa menganggap dongeng sekelas Cinderalla adalah cerita jahat yang memilukan, maka harusnya kalian juga menganggap penderitaan rakyat Palestina adalah tragedi yang jauh lebih menyedihkan. Kala segala hal milik Cinderella dirampas dan dia diperbudak, Palestina mendapatkan lebih dari itu. Rumah mereka dihancurkan, ribuan orang kehilangan tempat tinggal, dan mereka bahkan disakiti hingga meninggal dengan tidak manusiawi. Lalu kini dengan pernyataan sepihak Donal Trump, kelak mereka (rakyat Palestina) bisa dianggap tak bernegara. Berpindahnya Jarusalem secara tidak langsung sama dengan menyatakan Palestina tak lagi memiliki tanah. Jika mereka tak memilik tanah, bagaimana lagi Negara Palestina bisa berdiri? Itukah mau mereka? Apa mereka memang sengaja ingin menghapus Palestina dari peta dunia? 

Jika sampai Palestina tak bernegara, lalu siapa yang akan melindungi hak mereka? Tidak kah kita merasakan sedih yang mendalam? Tidak kah kita bersedih saat membayangkan mereka yang dijahati adalah saudara kita sendiri, saudara yang amat mengasihi kita? 
Maka jangan biarkan hal itu terjadi!


Di mata Palestina kita adalah bangsa yang baik dan penuh dedikasi terhadap mereka. Kini dalam keadaannya yang memprihatinkan bukan tak mungkin mereka akan menanyakan perihal peran kita.
“Dimana kalian saat aku menangis?”
“Dimana kalian saat aku terluka?”
“Dimana kalian saat banyak anak menjadi yatim piatu?”
“Dimana kalian saat aku berjuang sendirian?”



Saudaraku..
Maka inilah jawaban kami
Disini lah kami, bersamamu lewat doa
Berkenan kah kalian dengan jawaban itu?
Maafkanlah kami yang baru berproses di penghujung waktu ini, kami memang sangat terlambat. Namun, izinkanlah kami dengan usaha sederhana ini. Lewat hashtag, foto, tulisan, dan berbagai macam karya yang terus kami bangun dan sebarkan. Kami buat lagi simpul-simpul tali persatuan, untuk, mulai membuka mata yang teralihkan, menyeru kaki-kaki untuk berdiri, tangan-tangan untuk saling menggenggam, serta mulut dan hati untuk mulai melantunkan doa dan harapan kepada Tuhan.


Maafkan kami yang tak bisa langsung datang menemani. Besar harapan kami agar doa-doa ini terbang sampai ke langit, di-aamiin-kan malaikat dan dikabulkan Allah SWT. Besar harapan kami agar doa-doa ini dapat menjadi pelindung kala kalian terhimpit. Besar harapan kami agar doa-doa ini berwujud dan menjadi baju zirah bagi kalian.

Teman-temanku..
Luangkanlah sedikit sisa waktu di penghujung doa kita untuk mereka. Luangkanlah sisa, bukankah apa yang telah menjadi sisa adalah hal terabai yang sering terlupa, yang diingat hanya dikala sempat, yang memang sudah tidak ada kepentingan untuk digunakan. Jika tak bisa meluangkan yang khusus, jadikanlah yang tersisa dari kalian untuk mereka. Ceritakan dari hati untuk langit tentang penderitaan mereka. Allah jelas Maha Tahu meski bahkan kita tak menceritakannya, Allah jelas Maha Tahu mengenai keputusanNya. Tapi biarlah ini menjadi sedikit saja peran kita untuk mereka.
Apa jadinya jika kita sendiri yang disana? 
Bukankah kita sepakat, saat kita sakit, ucapan dan doa kesembuhan adalah hal yang amat menyenangkan, adalah hal yang begitu diharapkan. Bukankah kita sepakat, terabaikan adalah hal paling menyakitkan. Tak mengapa jika memang doa yang kita punya, bukankah setiap permohonan adalah usaha?


Biarlah Allah yang menilai hasil usaha kita

Teman-temanku..
Palestina bukanlah hanya urusan antar negara, Palestina adalah urusan kita semua, urusan kemanusiaan, hak asasi, hak hidup, hak pilih. Hak mereka telah sepenuhnya dirampas. Palestina tidak menyerahkan negerinya tercinta bukan karena rumah dan tanah saja, melainkan mereka dengan berbesar hati menjaga Masjidil Aqsha yang harusnya menjadi tugas muslim seluruh dunia. Indonesia adalah negara dengan mayoritas muslim. Indonesia telah dibantu di awal kemerdekaannya oleh Palestina dan negara-negara Arab lainnya. Bukankah ini juga saatnya bagi kita menunjukkan usaha untuk mereka?



Simaklah sebentar video ini, yang tercipta dari suara hati anak-anak di Suriah. Lewat video ini mungkin kita yang tidak bisa langsung pergi menemui mereka, bisa sedikit mendapat gambaran bagaimana suasana di sana. Bagaimana mereka bahkan masih tetap yakin menguntai asa dan tidak pernah menyerah meski dalam prahara. Biarkan hati kita tersentuh untuk beberapa menit saja, agar tahu bahwa di belahan bumi lainnya ada ribuan anak yang sedang mengupayakan sendiri kemerdekaannya. Mereka kuat mereka tegas, apa kita yakin kita lebih baik dari mereka?

Mungkin hanya ini yang bisa aku sampaikan, semoga bisa menjadi tulisan yang baik untuk mengingatkan kita tentang Palestina tentang Negeri Syam. Terimakasih atas perhatian dan waktunya semoga kita semua selalu dalam lindungan Allah SWT.

Wassalamualaikum warrahmatullahi wabarakatuh


***

Foto-foto yang tercantum merupakan hasil potongan video. Kalian bisa langsung melihat video lengkapnya dengan klik pilihan di bawah ini:
  1. Ketika anak-anak Palestina ditanyai tentang Israel dan Ibu Kotanya
  2. Pendapat warga Palestina tentang Indonesia
  3. Tangisan dan pertanyaan anak Palestina pada umat muslim

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Like Us

Google+

Media Sosial

Part Of

Blogger Perempuan
indonesian hijab blogger
PENABLOGGERBANUA