Selasa, 28 November 2017

Kota itu Tidak Ramah



Kota itu tidak ramah.
Mereka bilang kota itu bersahaja,
dengan orang-orangnya yang ramah. 

Tapi tidak.
Aku tidak melihat ada simpati di sana,
apalagi empati.

Kota itu tidak ramah.
Katanya pemandangannya indah,
adat dan budayanya terjaga.

Mana?
Sejauh mata memandang,
aku hanya melihat puncak-puncak bangunan berlomba menuju ke langit.
Jangankan untuk melihat pedestrian di trotoar,
burung gereja berterbangan pun tak nampak.

Kota itu tidak ramah.
Katanya itu kota yang damai,
menyenangkan,
destinasi wisata yang mengagumkan.

Mana?
Aku tidak menemukan itu di sana.
Pagi hariku disambut deru kendaraan yang bersaing di lampu merah,
hati tak sabaran yang tergambar dari klakson super melengking,
serta pedestrian yang harus berlari melintasi penyebrangan.
Berusaha menjauh secepat mungkin dari picingan mata pengendara 
yang terus memacu gas di tangan dan kakinya.

Apanya yang destinasi wisata?
Jalannya macet,
tempat wisatanya bahkan bak pasar tumpah.
Sesak.
Aku tak merasa sedang wisata.

"Kota itu" tidak ramah.
Entahlah.
Mungkin hanya aku saja yang merasa tidak nyaman di sana,
atau hanya tidak nyaman dengan kenangannya.


-Rizki Mulanova-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Like Us

Google+

Media Sosial

Part Of

Blogger Perempuan
PENABLOGGERBANUA