Rabu, 22 November 2017

Ekspedisi Nekat Enam Cabe




Dilihat dari judul, sudah kebayang nggak post ini akan bercerita tentang apa?

Jangan ngebayangin enam orang perempuan dengan rambut warna-warni boncengan di satu motor ya, hehe. Ini tentang first trip bersama lima orang temanku semasa kuliah. Aku mau tarik mundur waktu sekitar 3 tahun yang lalu, di tahun 2014.

Kami berenam dipertemukan di suasana yang menarik, yaitu sebagai mahasiswa tak terarah. Kami merasa memiliki pemikiran dan nasib yang sama yaitu kuliah ditempat yang tidak dibayangkan dan belum tahu kedepan akan jadi seperti apa. Anggaplah kami kuliah buta, duduk-mendengarkan-pulang-nggak paham. Kegiatan tersebut berulang selama semester 1,  6 bulan pertama perkuliahan. Kami tidak serta merta bertemu dan langsung akrab begitu saja, bahkan setelah kegiatan OSPEK pun kami belum saling mengenal.

Cerita ini berawal pada acara peringatan HKN (Hari Kesehatan Nasional) sekitar bulan November 2013, dimana setiap kelas diminta membuat beberapa regu dengan konsep kesehatan untuk dilaksanakan parade keliling area kampus. Kami berenam terkumpul dalam satu regu dengan konsep Flammable yang merupakan salah satu sifat bahan kimia yaitu mudah terbakar. Regu kami sebenarnya berjumlah 9 orang dan kami semua cukup akrab pada awalnya. Namun karena adanya perbedaan prinsip terjadilah perselisihan dan yang bertahan hingga kini ada 7 orang. 

Setelah hari itu, dengan berbagai macam kejadian, kami bertujuh semakin akrab. Kami memang sudah mahasiswa, tapi di tahun pertama perkuliahan ini, sifat konyol anak SMA masih belum lepas sepenuhnya. Kami mencoba meresmikan grup kami dengan memberi berbagai macam nama. Jika aku harus menyebutkannya satu persatu di post ini, mungkin mereka akan memusuhi ku setelahnya. Itu memang cukup memalukan wkwk.

Nah di akhir perkuliahan, demi merefresh otak setelah berjuang selama 6 bulan, kami berencana untuk bepergian keluar kota. Kami memikirkan dan merancang destinasi yang bagus namun murah dan mudah dari segi transportasi. Pilihan itu pun akhirnya jatuh pada Kota Balikpapan, Ibu Kota Kalimantan Timur. Kami juga memilih Balikpapan dengan pertimbangan bahwa Balikpapan memiliki banyak wisata pantai dan perkembangan kotanya lebih maju dari kota-kota di Kalimantan. 

Untuk melakukan perjalanan dari Banjarmasin ke Balikpapan kami bisa memilih jalan darat dengan menggunakan bus. Biaya perjalanan saat itu sekitar Rp 175.000,- sekali jalan dan tentunya disertai fasilitas AC. Waktu itu kami langsung menentukan waktu pulang sehingga kami pun membeli tiket PP (Pulang Pergi) yaitu Rp 350.000,-. Menurutku itu cukup murah, karena dengan menyiapkan Rp 350.000,- kita sudah bisa bepergian tanpa perlu takut nggak bisa pulang.

Dengan rencana seadanya dan modal nekat, perjalanan itu pun akhirnya diwujudkan pada akhir Februari 2014. Kenapa modal nekat? Karena selain beberapa dari kami tidak cukup berpengalaman bepergian jauh, kami juga terbilang belum terlalu kenal satu sama lain. Udah berasa kayak open trip, wkwk. 

Untuk masalah izin dengan orang tua, kami diberi izin kok tapi ditambah dengan sedikit bumbu-bumbu kebohongan. Sayangnya dari 7 orang, yang ikut serta dalam “Ekspedisi Nekat” ini hanya kami berenam. Aku lupa apa alasan salah satu temanku kali itu tapi pasti itu sangat krusial sampai kami tidak bisa memaksanya. Rasanya memang kurang lengkap tapi mau gimana lagi.

Maka beginiliah cerita itu dimulai. Jangan kaget jika apa yang tersaji jauh dari cerita-cerita ala traveller pada umumnya.

Hari Ke-1

Untuk menghindari mabuk darat selama 12 jam perjalanan, masing-masing dari kami mengonsumsi obat anti mabuk. Sebenarnya aku bukan penderita mabuk darat, aku bahkan cenderung pelor (nempel molor) jika di dalam mobil. Tapi karena ini perjalanan jauh pertamaku, aku was-was jika aku mencetak sejarah mabuk perdana di sana. 

Rata-rata dari kami mengkonsumsi obat sesuai dosis, kecuali Dian. Aku lupa alasannya apa waktu itu entah karena dia pengidap mabuk darat kronis atau cuma mau mempersingkat waktu agar perjalanan malam itu tak terasa. Kami hanya bisa menggelengkan kepala dan bergumam, khawatir jika di tengah perjalanan ada yang OD (overdose) obat anti mabuk.

Obat tersebut berhasil menidurkan Dian selama ±10 jam perjalanan. Aku ingin bilang mem-pingsan-kan Dian karena, dia sama sekali tidak menyadari apapun yang terjadi, entah bus berhenti atau berjalan, entah kami ribut atau diam. Mungkin jika bus tersebut terbang dibawa angin topan dia juga nggak akan sadar. Dia benar-benar sleeping beauty. Saking beauty-nya kami nggak sanggup menahan hasrat ingin menyimpan keadaan tidak karuan itu dalam sebuah poto. Rambut panjang yang tergerai tak tentu arah, kepala menangadah, dan mulut terbuka dengan luasnya. Luar biasa beauty, wkwkwk

Sesampainya di Balikpapan, kami dijemput oleh paman Qiqi yang memang berdomisili di sana dan diantar menuju hotel yang telah kami pesan sebelumnya. Kami hanya merencanakan perjalanan selama 3 hari 2 malam, sehingga setibanya di hotel kami hanya beristirahat sebentar, kemudian bergegas mandi dan bersiap-siap untuk terjun lapangan.

Hal pertama yang ingin kami lakukan hari itu adalah mengunjungi mall terdekat di sana. Kami berjalan menyusuri trotoar merasa yakin dengan petunjuk GPS. Jika kalian pernah melihat backpacker jalan-jalan di trotoar dengan gagahnya bersama backpack besar di punggung, tolong jangan bayangkan kami seperti itu karena kami tidak membawa backpack sama sekali. Kami hanya menganut prinsip “Liburan Sehemat Mungkin” yang salah satunya dengan jalan kaki. 

Namun, semakin kami berjalan menyusuri trotoar, kami semakin tidak menemukan apa-apa. Di tengah kebingungan yang melanda tiba-tiba ada sebuah minibus melambatkan jalannya dan mendekati kami. Awalnya kami bingung tapi ternyata dia hanyalah sebuah layanan taxi yang menawarkan jasa tumpangan. Ya tentulah kami mau tanpa ragu, ditambah lagi harga yang ditawarkannya masuk akal bagi kantong kami. Berenam di sebuah minibus bukan hal yang aneh. KAN?

Dengan adanya tumpangan, kami pun merubah haluan. Untuk rute pertama, kami putuskan untuk mengunjungi pantai terlebih dahulu. Temanku yang bernama Khulud kami persilahkan duduk di depan, di samping driver, alasannya karena dia memiliki kemampuan komunikasi yang lebih baik sehingga akan lebih mudah dalam menyampaikan maksud arah tujuan kami. Sedang kami berlima duduk di kursi baris kedua.

Sesak?

Ya menurut ente aja gimana? HAHA

Selama perjalanan, driver tersebut menanyai kami banyak hal, kelihatannya dia excited melihat enam orang perempuan yang dari logat bicara jelas bukan warga asli Balikpapan. Salah satunya beliau menanyakan transportasi apa yang kami gunakan. Jelas kami serentak menjawab bus, namun tiba-tiba..

“Iya mereka memang naik bus, hanya saya saja yang menggunakan pesawat.” Jawab Khulud tiba-tiba.

Dengan tawa kecil penuh kebingungan, otak kami mencerna keadaan mencengangkan tersebut. Aku bisa gambarkan di dalam pikiran kami waktu itu, "Khulud sehat nggak ya?!"


Ini aku dan teman-temanku saat di Pantai Kemala. Dari kiri ke kanan ada Khulud, Feby, Via, Dian, dan aku. Poto ini di capture oleh Qiqi
Hari itu tidak banyak hal yang kami lakukan di pantai karena kami tidak membawa persiapan. Kami hanya mengambil beberapa poto lalu melanjutkan perjalanan. Jika tidak salah nama pantai yang kami kunjungi kali itu adalah Pantai Kemala, semoga tidak salah. Pantainya bersih, bagus dan tertata. Untuk menuju ke Pantai Kemala juga mudah karena lokasinya cukup dekat dengan kota dan terletak di pinggir jalan besar.

Nah di poto ini ada Qiqi, dia yang paling kiri. Di poto ini pun pantainya masih tidak terlihat, harap dimaklumi hehe..
Selanjutnya kami mengunjungi sebuah mall, aku lupa nama mallnya. Kami menghabiskan cukup banyak waktu disana dari makan, keliling, hingga menonton 2 buah film sekaligus.

Balikpapan memiliki cukup banyak mall dan beberapa bioskop tentu dengan harga yang beragam. Di Banjarmasih hanya ada sebuah mall dan sebuah bioskop, dengan harga luar biasa. Meski begitu aku tidak berharap Banjarmasin menambah mallnya. Bukannya gimana-gimana, hanya saja menurutku semakin banyak mall hanya semakin meningkatkan kebiasaan konsumtif. Lagian satu juga nggak habis kan? Hehe. 

Tak terasa malam telah larut, kami pun memutuskan pulang. Rencananya sih pulang naik angkot, tapi gagal. Perdebatan harga berlangsung sengit, jelas saja, beliau minta bayaran seharga taxi argo. Kami pun membatalkan dan melarikan diri. Supir angkotnya jelas marah, yaudah bodo amat, wkwk

Untungnya kami meminta kontak driver taxi yang tadi aku sebutkan di atas, sehingga kami dapat menghubunginya kembali untuk pulang ke hotel. Seandainya ojek online sudah hadir di tahun itu, pasti lebih mudah.

Hal menarik juga terjadi di hotel ketika kami yang belum terlalu akrab tidur sekamar, suasananya benar-benar lucu. Sekarang kalau diingat-ingat ya ampun geli sendiri, wkwk. Tentu kami tidak tidur berenam dalam satu kamar, kami memesan 2 kamar untuk masing-masing ditempati 3 orang. Waktu itu aku sekamar dengan Feby dan Qiqi, sedangkan Dian, Via dan Khulud di kamar yang lain.

Hari ke-2

Hari ini dibuka dengan sedikit santai. Bangun pagi berleha-leha dan menikmati menu breakfast hotel, gayanya udah like a pro. Sekitar jam 10 atau 11 pagi baru kami memutuskan keluar hotel. Lagi-lagi kami menggunakan jasa driver yang kemarin, mungkin inilah perwujudan kalimat “tak kenal maka tak sayang” karena sudah kenal kami males ganti-ganti taxi lagi.

Tujuan pertama kami adalah mall, again. Aku lupa nama mallnya, again. Tapi ada satu hal yang cukup membekas di mall itu. Mall itu dibangun di pinggir laut dan ada satu restoran yang mengambil spot strategis di lantai atas dengan balkon yang menghadap ke laut. Kami memutuskan untuk makan siang disana, sayang aku tidak punya potonya. 

Bagi yang suka laut dan tidak takut ketinggian, makan di balkon dengan view laut membentang luas pastilah sangat menyenangkan. Udara air laut dan panas matahari yang berbaur dapat menambah nikmat cita rasa hidangan yang kita pesan. Tapi yang takut ketinggian sekaligus takut laut maka ini akan jadi suasana makan dengan mimpi buruk.

Tujuan selanjutanya adalah Pantai Manggar. Jarak tempuh dari Kota Balikpapan sekitar 1 jam dan tempatnya pun tidak terletak di pinggir jalan seperti Pantai Kemala. Untuk mencapai Pantai Manggar, kita harus masuk ke dalam melewati banyak pepohonan rindang yang jika malam suasananya menjadi sunyi dan agak seram. Jangan membayangkan jalan setapak di tengah hutan ya, jalan menuju ke pantai sangat nyaman kok, bahkan dapat dilewati oleh mobil dan tentunya ber-aspal. Untuk jarak dari jalan besar hingga ke pantai itu relatif, dekat jika dilewati dengan kendaraan, tapi agak lumayan jika untuk jalan kaki.

Di tengah perjalanan, Khulud melihat sebuah bangunan besar dan menanyakan kepada driver.

“Itu bangunan apa ya Mas?” Tanya Khulud
“Oh itu Bandara Mbak” Jawab si driver.

Kami berlima yang merasakan adanya kejanggalan saling melempar pandang. Bisa ku gambarkan pikiran kami kali itu, "Bahaya ni orang, wkwk" Kami saling berbisik, bingung harus mengatakan atau tidak pada Khulud. Salah satu dari kami mulai tak tahan dan membisikkan langsung padanya.

“Lud, kan kemarin kamu bilang kesini pakai pesawat.”

Khulud tidak bisa berkata-kata menahan malu, sedangkan kami tak tahan menahan tawa dan mas drivernya hanya diam. Semoga beliau nggak sadar dan Khulud di kuatkan, aamiin.

Penampakan Pantai Manggar di capture dari atas speed boat.
Tak berselang lama, kami pun tiba di Pantai Manggar. Kali ini kegiatan kami tidak foto-foto saja. Bukan kami sih, tapi mereka. Mereka memang berencana untuk terjun langsung ke laut, tentunya dengan mencoba beberapa wahana. Sedangkan aku? Aku memilih duduk di pinggir pantai melihat dan memoto kegiatan mereka dari kejauhan. Bukannya takut air atau laut, aku suka kok. Bagiku pantai adalah tempat paling baik untuk melarikan diri sejenak dari rasa penat.  Melihat hamparan air yang luas dan berkilau disinari matahari, serta suara debur ombak yang bersahutan bersama angin, rasanya seperti terisi kembali. Tapi aku tidak bisa berenang, ya inilah alasannya.

Ini aku dengan gaya berfoto yang populer pada zamannya,wkwk.
Kegiatan yang mereka lakukan hari itu adalah menyusuri laut dengan speed boat (kapal cepat) hingga bermain wahana banana boat. Ada kejadian yang lumayan unik hari itu. Ketika Dian dan Khulud sedang menyusuri laut menggunakan speed boat tiba-tiba saja uang pemandu tersebut terbang, mirisnya yang terbang merupakan uang lembaran dengan gambar wajah Soekarno alias Rp 100.000,-. Dian yang kali itu merasa tidak tega memutuskan untuk memberinya uang dengan jumlah yang sama. Mungkin karena merasa sangat berterimakasih, pemandu tersebut pun memberikan bonus satu kali perjalanan gratis menyusuri laut kepada Dian.

Qiqi lagi nyari mantan katanya, siapa tahu keseret ombak, hahaha
Feby juga dengan pose poto yang populer pada zamannya. Makin tinggi makin kece shayy!

Sesampainya di pantai, Khulud pun menceritakan kejadian itu pada kami. Aku yang tidak berada di tempat merasa bingung dan langsung mempertanyakan keputusannya, kenapa Dian yang mengganti uang tersebut yang tentu bukan kesalahannya.


Kira-kira begini jawaban Dian, “Kasian dia, dia itu kerja sambil sekolah.”

Kami tertegun tak berkomentar dengan jawabannya, kami bingung. Itu hal bagus karena dia punya rasa simpati yang tinggi, tapi saling memuji merupakan hal yang aneh bagi kami. Dikhawatirkan yang terjadi setelahnya adalah suasana canggung.

“Hahaha.. Cie.. Dian si baik hati.” Maka kata seperti ini lah yang akhirnya keluar dari mulut kami.
Sayang ngeblur, ini poto waktu mereka di banana boat
Hari mulai sore, rona matahari lambat laun menghilang di ufuk barat. Mereka pun menyudahi kegiatan kemudian mandi dan berganti baju di pemandian umum setempat. Pengunjung yang tersisa hanya kami berenam dan yang merasa takut hanya aku seorang. Mereka semua, shantay. Mereka berencana untuk berjalan kaki menuju jalan besar di malam yang gelap tanpa penerangan jalan itu. Aku dengan tegas menolak, mending nunggu agak lama dengan menelpon driver taxi langganan ketimbang jalan kaki di suasana gelap gulita. Akhirnya mereka mau menerima usulanku dengan syarat aku yang bayar taxi. Ok fine!

Hari ke-3

Ini adalah hari terakhir kami di Balikpapan. Kami dijadwalkan check out sekitar jam 2 siang sehingga hari ini kami sedikit bergegas.

Pagi itu tujuan pertama kami adalah Pasar Inpres Kebun Sayur, salah satu pusat oleh-oleh di Balikpapan. Kami berencana membeli beberapa oleh-oleh seperti baju atau kerajinan tangan lainnya. Aku sendiri membeli 2 buah baju tidur (re:daster) lucu, sebuah baju kaos, dan sebuah gelang. Untuk harga, seingatku murah dan sangat terjangkau sayangnya aku lupa berapa tepatnya.

Sesudah dari pasar kami berkeliling Kota Balikpapan sebentar sebelum langsung ke mall untuk membeli beberapa barang titipan. Hari itu kami berkeliling menggunakan angkot, akhirnya naik angkot juga. Aku lupa apa alasannya, tapi kami berenam tidak berkumpul dalam satu angkot. Seingatku aku, Khulud, Qiqi, dan Feby berada dalam satu angkot sedangkan Dian dan Via terpisah. 

Di dalam angkot kami berbincang lagi tentang kejadian uang Rp 100.000,- milik pemandu speed boat. Setelah jauh berbincang timbullah pertanyaan siapa nama pemandu tersebut. Khulud yang berada di tempat kejadian berusaha keras mengingat namanya, namun tetap tidak ingat.

“Siapa ya, sulit namanya diucapkan. Apa ya..” Begitulah jawaban Khulud waktu itu.

Singkat cerita kami pun bertemu di mall yang telah direncanakan. Just fyi, ketiga mall yang kami kunjungi selama tiga hari di Balikpapan adalah 3 buah mall yang berbeda. Setelah bertemu dengan Dian dan Via, kami yang masih penasaran dengan nama pemandu speed boat tersebut pun menanyakannya langsung pada mereka. Ditemukanlah jawaban dari pertanyaan itu bahwa namanya adalah “Agus”. Mungkin inilah namanya "Ingin marah nggak bisa, kesel aku tu!"

Kami hanya bisa protes, “Ya ampun Lud, nama Agus di mana sulitnya!”

Buyar segala macam bayangan kami tentang nama anak itu yang tersisa hanya tawa tak menyangka, astaga Khulud wkwk
***
Setelah dari mall kami dijemput oleh paman Qiqi, diantar ke hotel untuk check out dan langsung berangkat ke terminal. Di sanalah akhir perjalanan singkat ini. Kami pulang dengan membawa banyak hal salah satunya adalah nama bagi grup ini yaitu, SANAK KENTAL. Hingga kini nama kami masih Sanak Kental hanya saja disederhanakan menjadi SUNY. Oh iya dalam ekspedisi ini Feby memiliki peran cukup besar karena dialah guide kami. Dia cukup tahu banyak tentang Balikpapan. Gimana Feb, mau open trip lagi?



Aku jadi kepikiran, sepertinya menyenangkan jika ekspedisi nekat ini punya destinasi baru dan membentuk cerita baru sebagai Ekspedisi Nekat Suny, hmmm...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Like Us

Google+

Media Sosial

Part Of

Blogger Perempuan
PENABLOGGERBANUA