Sabtu, 25 November 2017

Antara Pencari Kerja dan Surat Keterangan Sehat

Mungkin sebagian dari kita sudah nggak asing lagi ya dengan surat keterangan sehat beserta fungsi dan cara pembuatannya. Tapi bagiku, dulu bertahun-tahun silam sebelum aku kuliah kata surat keterangan sehat terdengar seperti sesuatu yang hebat tapi juga mengerikan. Ketika mendaftar kuliah, salah satu syarat yang diminta adalah surat keterangan sehat. Aku gugup waktu itu, pikirku apakah dokter akan memeriksa kondisi tubuhku secara menyeluruh dan terperinci? Bagaimana jika aku ternyata dinyatakan tidak sehat? Bagaimana jika aku tidak bisa kuliah?

Aku memang sangat paranoid, wkwk. Syukurlah pikiran berlebihan itu tidak terbukti.

Surat Keterengan Sehat ini punya banyak sebutan. Ada yang menyebutnya Surat Keterangan Berbadan Sehat, ada yang menyebutnya Surat Keterangan Dokter, ada pula yang menyebutnya Surat Dokter. Apapun sebutannya fungsi dan pembuatan surat ini sama, yaitu untuk menyatakan bahwa yang bersangkutan sehat dan dibuktikan dengan tanda tangan dokter yang melakukan pemeriksaan serta cap dari Puskesmas (jika melakukannya di Puskesmas).

Jika kalian saat ini berkepentingan untuk membuat Surat Keterangan Sehat namun bingung harus kemana dan bagaimana, kalian bisa mengunjungi Puskesmas dan membuatnya disana. Pembuatan surat keterangan sehat di Puskesmas terbilang mudah, murah dan cepat. Kalian hanya perlu menunjukkan KTP (Kartu Tanda Penduduk) dan membayar sebesar Rp 5.000,00. Jika beruntung (re:tidak ada antrian) kalian bisa langsung dipanggil ke ruang dokter untuk dilakukan pemeriksaan. 

Jangan cemas memikirkan yang tidak-tidak ya, dokter hanya akan mengukur tinggi badan, berat badan, dan tekanan darah. Barulah kemudian kita diminta menunggu surat tersebut selesai diproses.

Kemarin, sekitar tanggal 6 bulan Sepetember lalu aku juga mengurus surat keterangan sehat di Puskesmas. Surat tersebut diperuntukkan sebagai syarat pembuatan STR (Surat Tanda Registrasi), yang merupakan bukti tertulis dari pemerintah kepada tenaga kesehatan yang telah memiliki sertifikat kompetensi. Hari itu aku beruntung karena hanya ada 3 orang yang  mengantri, ada 1 laki-laki dan 2 perempuan (aku salah satunya). Seorang perempuan yang usianya mungkin lebih tua setahun dariku itu menanyaiku dan memulai obrolan yang akhirnya memecah suasana canggung pagi itu.

πŸ‘© : Mbak-yang-aku-lupa-namanya

πŸ‘§ : Aku


πŸ‘© : Lulusan Analis mana? Kampus B ya?
πŸ‘§ : Bukan kampus A 
πŸ‘© : Ohh, buat apa bikin surat sehat?
πŸ‘§ : Mau ngurus STR, Kamu bikin surat sehat buat kerja ya ?
πŸ‘© : Iya.
πŸ‘§ : Lulusan mana?
πŸ‘© : Universitas C
πŸ‘§ : Ohh ya, jurusan apa?
πŸ‘© : Bidan. Kuliahnya capek, ngeluarin uang banyak, susah juga ternyata dapat kerja
πŸ‘§ : Loh memang lulusan kapan?
πŸ‘© : Tahun kemarin
πŸ‘§: Ohh, iya sih kak. Kuliahnya (re:kesehatan) sudah capek, kerja susah, gajinya juga nggak seberapa hehe. Oh iya, kakak pernah nyoba honor(re:tenaga kerja sukarela)?
πŸ‘© : Enggak deh, ada temen honor di PKM, 3 bulan baru digaji, itupun nggak seberapa, kerjaannya juga banyak dan capek. Lagian sekarang PKM sudah banyak yang penuh juga.
πŸ‘§: Bidan kan bisa buka praktek sendiri kak?
πŸ‘© : Iya, tapi harus punya pengalaman kerja dulu minimal 2 tahun
πŸ‘§ : Ohh gitu ya kak, terus ini mau ngelamar dimana kak?
πŸ‘© : Pengen coba ke bank sih, tapi ini aku sudah lama di minimarket. Lumayan lah..
πŸ‘§ : Oh berapa disana kak?
πŸ‘© : 2.5jt kalau lemburan, gaji pokok 2jt
πŸ‘§ : Lumayan ya, kesehatan kalau swasta, apalagi honor jauh lah dari itu. Ini aku aja masih nganggur ijazah belum keluar hehe
πŸ‘© : Oh ya? Jadi kalian semua masih nganggur?
πŸ‘§ : Enggak sih, ada kok yang mau terima pakai SKL aja nggak pake STR juga, swasta di daerah pedalaman gitu. Kan biasany mereka perlu pegawai cepat
πŸ‘© : Oh iya emang tuh, berapa katanya gaji mereka?
πŸ‘§ : Wah kurang tau sih kak

Obrolan pun terhenti disitu karena surat keterangan sehat milikku telah selesai terlebih dahulu. Aku memilih untuk langsung pulang. 


Sepanjang perjalanan pulang aku terus memikirkan percakapan singkat itu. Mbak itu menyesali kuliahnya, meski ia tak mengatakan secara langsung tapi itu tersirat dari mimik wajahnya saat berbicara. Mungkin yang seperti dia ada banyak sekali, tapi itu pertama kalinya aku berhadapan langsung, mendengar ceritanya sedangkan posisiku juga baru lulus kuliah.

Jika mbak itu masih punya pilihan untuk  menyesal di akhir, maka aku sudah tidak punya. Bagiku menyesal setelah lulus bukan lagi untukku, aku sudah cukup menyesali kuliahku selama 4 tahun. Di  post Akhirnya Aku Jadi Mahasiswi aku sudah sedikit bercerita bagaimana awal-awal aku menjalani kuliah. Tentang jurusan yang bukan minatku, dan sebab musababnya aku bisa berada  di sana pun juga sudah banyak aku ceritakan di Perjuangan Masuk Perguruan Tinggi (Kampus). Waktu 4 tahun itu bener-bener waktu yang berat untuk dijalani. Saat lelah mendera, setiap kali pula penyesalan itu ada.  

Namun, ketika sampai di hari wisuda semua beban berat di hatiku mendadak bias, jadi nggak kerasa. Waktu 4 tahun itu seperti sangat singkat. Bahkan kini sekekali aku malah merindukannya :')


Kebayang bisa wisuda? 
Enggak.

Iya sih fokus utamaku hanya wisuda dan berusaha menyelesaikan kuliah secepatnya. Tapi tetap saja rasanya masih kagum dan kaget bahwa aku bisa sampai di titik itu. Hari-hari kuliah juga aku jalani semampunya, nggak banyak usaha. Belum lagi ada saja keluarga yang nanya dengan mulut nyinyirnya, 

"Ih tinggal dikota kok mau kuliah ke daerah?" 
"Hah jurusan apa itu?" 
"Ih kok mau kuliah itu?" 
dan ih ih ih yang lainnya. Semakinlah berat hatiku melanjutkan kuliah. Rasanya perang batin banget, serius :(

Kalo nggak suka kenapa bertahan?

Karena di sana ada takdirku, ada harapan orang tua, dan ada tanggung jawab. 

Bukan masalah materi, pindah mah urusan gampang.Tapi saat kita lulus di sebuah perguruan tinggi, diharapkan atau tidak, di sisi lain ada orang yang sedih karena tidak lulus di tempat yang sama dan aku tahu seberapa dalam rasa sedih itu. Kelulusan itu juga jawaban dari doa dan usaha, karena aku sudah melewati banyak tahap untuk jurusan yang aku mau, tapi tidak lulus satupun. Itu artinya Allah-lah yang sudah memberikan jalan bahwa ini takdirku. 

Jika aku pindah dan menyerah di tengah jalan, sama dengan aku tidak mensyukuri itu, dan bayangkan betapa seharusnya tempat yang aku tinggalkan itu bisa diisi orang yang lebih menginginkan

Nggak gitu ah, kamu aja belum mencoba! Siapa tau memang ada jalan lain yang lebih pas buat kamu?

Terlepas dari jalan yang pas atau tidak, ada hal yang harus aku sadari. Bahwa kuliah itu mahal. 

Meski uang ada, lebih baik digunakan untuk hal yang benar-benar perlu. Bayangkan betapa banyak uang yang sudah keluar dan aku masih mau coba-coba pindah jurusan? 2x orang tua harus mengeluarkan uang dengan jumlah besar. Memang sih ada fasilitas seperti beasiswa tapi aku sadar, aku tidak cukup cerdas untuk itu. (Ini posisi dimana aku sudah memutuskan mulai menjalankan perkuliahan)

Kalo kamu nggak tahan nanti kamu stress lho?
Kan belum benar-benar dijalani, nanti ya nanti. 

Aku cuma percaya, kalau Allah mengijinkanku kuliah di sana, berarti Allah percaya aku mampu. Berarti di saat tersulitku, Allah juga akan bantu. Kuliah ini juga salah satu cara baktiku kepada orang tua. Meski aku tau aku tidak bisa membuat bangga mereka dengan prestasi, maka aku berusaha untuk lulus tepat waktu agar mereka tidak malu. 

Susah? 
Semua hal itu kelihatan susah jika belum dijalani. 

Ya dijalani aja dulu.Namanya jalan kan entah cepat atau lambat pasti sampai ketujuan. Meski harus banyak jatuh dan berdiri, tapi kan aku nggak sendiri. Banyak kok teman seperjuangan. Percayalah dalam sebuah kampus banyak mahasiswa bernasib sama, yaitu salah jurusan. Kamu hanya perlu menemukan mereka yang masih tetap punya semangat juang. Aku bersyukur bisa menemukan mereka di kampusku.
***

Dari cerita panjang ini, aku akhirnya menemukan pilihan. 

1. Bertahan

Aku bisa saja tetap ada di bidang ini dan meneruskan perjuangan lebih keras lagi. Tapi aku harus siap dengan konsekuensi bahwa gaji besar mungkin sedikit sulit dicapai tapi imbalan berupa pengalaman akan menutupinya. Aku juga sadar diri bahwa selama kuliah aku bukan mahasiswa yang pintar dan berprestasi. Aku cukup bangga meski aku tidak luar biasa.

2. Melepaskan
Atau aku akan menempuh jalan lain, yaitu berbesar hati melepaskan bidang ini dan memulai dari 0 apa yang sempat tertunda. Iya cita-citaku yang terhenti 4 tahun belakangan.

Untukmu yang juga baru lulus kuliah, ingatlah lagi tujuan awalmu dan waktu yang kamu habiskan selama kuliah. Jadikanlah itu acuan untuk memilih kemana harus melangkah. Kamu punya pilihan, maka gunakanlah. Jangan terpaku pada apa yang orang lain capai. Pikirkan apa yang membahagiakan untuk terus kamu kerjakan.


Sekarang, gimana pilihanmu?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Like Us

Google+

Media Sosial

Part Of

Blogger Perempuan
PENABLOGGERBANUA