Kamis, 12 Oktober 2017

Si Kopi Hitam Pemeran Utama Dalam Skripsi

Sudah dua tahun berlalu dan aku benar-benar vakum ngeblog selama itu. 
Itu adalah dua tahun tersibuk selama masa kuliah. Namun, kesibukan yang sebenar-benarnya terjadi di satu tahun terakhir. Dimulai dari semester 7 dan dramanya berlangsung hingga semester 8, karena itu adalah hari-harinya aku berkutat dengan skripsi dan segala macam printilannya.

Kali ini aku mau bercerita panjang lebar tentang skripsi ku yang berjudul "Pengaruh Karbon Aktif Ampas Kopi Robusta (Coffea robusta Lindl.) Dalam Menurunkan Kadar Besi Air Gambut" 

Sebelum ke inti drama si skripsi ini, aku jabarin sedikit dasar-dasarnya ya..

Air gambut itu adalah air yang menggenang di daerah rawa gambut. Rawa gambut sendiri merupakan daerah rawa yang tanah pada bagian dasarnya terbentuk dari sisa-sisa tanaman yang membusuk. Di tanah itu terdapat berbagai macam bahan organik serta zat logam (dengan kadar yang tinggi) seperti besi dan mangan, yang kemudian larut dalam air. Dengan kandungan tersebut, air yang melimpah pada rawa gambut tidak dapat digunakan untuk kegiatan sehari-hari apalagi sampai dikonsumsi, berbahaya.

Nah, di Kalimantan Selatan ini ada satu daerah yang bernama Kecamatan Gambut di mana sebagian besar daerah tersebut merupakan rawa gambut. Masalahnya, penduduk di Kecamatan Gambut masih belum sepenuhnya menggunakan layanan PDAM. Mereka masih menggunakan air gambut untuk kegiatan sehari-hari.

Dari study literatur kali itu aku dapat beberapa jurnal yang mengatakan bahwa ampas kopi yang diarangkan bisa menjadi alat saring untuk membersihkan logam berat. Dari sanalah kemudian aku memutuskan untuk mengangkat masalah di Kecamatan Gambut sebagai skripsiku. Untuk kopinya sendiri, karena dosen pembimbing ku meminta agar aku memproses sendiri bubuk kopinya dari biji sehingga aku harus memetiknya sendiri. Untungnya, di desa tempak nenekku, Desa Waduk, Pelaihari, masih ada beberapa orang yang memiliki pohon kopi, jadinya aku minta deh. Enggak deng, beli hehehe. Namun dengan harga murah karena masih tetanggaan sama nenek.

Yang bikin jadi drama adalah...

Bulan ramadhan tahun 2016  lalu, seluruh keluargaku mudik ke Jawa Timur, kecuali aku karena harus mengikuti final test. Waktu itu karena aku sudah plan bakal penelitian pakai kopi, tapi belum tahu kalau di Kalimantan juga ada pohon kopi, nitiplah aku minta bawain kopi tumbuk dari sana. Fyi, nenekku tinggal di daerah pegunungan di Jawa Timur, di sana orang jarang minum kopi kemasan, sehari-hari kalau minum kopi ya kopi hasil tumbukkan sendiri. Jadi, kalau nyari kopi tumbuk murni goreng+tumbuk sendiri, di sana buanyakk.

Untuk saat itu satu masalah beres, bubuk kopi murni sebanyak 1 kg sudah di tangan. Aku merasa aman karena pemeran utama si skripsi ini sudah ready, tinggal nyusun proposal dan seminar uji. Keyakinanku sudah mencapai 100% padahal judul yang aku ajukan belum tentu di acc, dosen pembimbing(dospem) juga belum tahu siapa.

Untungnya, setelah para dosen rapat aku dapat kabar gembira bahwa judulku diterima dan aku dibimbing oleh dospem yang terkenal ramah dan teliti. Amat berbahagialah aku waktu itu.

Dengan hati yang senang dan keyakinan yang tinggi, aku menemui dospemku dengan membawa jurnal-jurnal pendukung untuk mendiskusikan perihal rancangan penelitianku. Awalnya semua pembicaraan lancar, ada banyak titik temu antara rencanaku dan arahan beliau. 
Sampai ketika beliau berkata, "Nanti kopinya di determinasi ya?!"
Determinasi ini fungsinya untuk menetapkan dan memastikan kopi yang akan aku gunakan ini jenisnya apa dan dibuktikan dengan surat hasil determinasi tersebut. Untuk sebuah penelitian ilmiah, beda jenis bisa bikin beda hasil, harapannya jika penelitianku dilanjutkan orang lain mereka akan tahu kopi jenis apa yang akan digunakan.

Nah, karena aku nggak tahu untuk determinasi ini apa yang dijadikan sampel, bertanyalah aku ke laboratorium tempat determinasi tersebut. Guess what? Mereka bilang untuk kopi bawa biji dan pohonnya (daun + batang).

Aku langsung blank. Pikirku, 'Gimana caranya aku harus mendatangkan biji dan pohon kopi dari Jawa? Ribet banget nggak sih harus pake peti dipaketin gitu?'

Aku masih mencoba yakin ada jalan keluar, nggak masalah pake peti kek apa kek, yang penting nyampe Banjarmasin tuh pohon. Singkat cerita menelponlah aku ke bude ku yang di Jawa minta paketin biji dan pohon kopinya tapi, sayangnya bukan dapat solusi masalahku nambah jadi 2:
1. Beliau udah nggak tahu kopi yang sekarang ada di aku itu dari biji kopi yang mana, dan
2. Saat itu pohon kopinya sedang tidak berbuah.

Berpikir keraslah aku. Nggak mungkin kalau harus nunggu pohon berbuah, bisa mundur wisuda saya buk. Dengan keribetan itu akhirnya penelitianku jadi pikiran satu keluarga, semua jadi mikir harus gimana hahaha

Entah dapat ilham dari mana, tiba-tiba Mamaku teringat bahwa di Pelaihari (sebuah derah yang masih dalam wilayah Kalimantan Selatan) di Desa Waduk, tempat nenekku, masih ada pohon kopi dan masih ada juga yang numbuk kopinya. Saat itu rasanya hatiku tiba-tiba musim hujan setelah kemarau panjang, ademm.

Berangkatlah aku ke Pelaihari untuk survey sekalin beli langsung. Alhamdulillah ada.

Sayangnya..

Si empunya pohon-pohon kopi itu nggak numbuk kopi lagi sehingga aku harus memproses sendiri. Karena merasa nggak enak hati sama nenekku, sebagai tetangga mereka nggak bisa bantu, mereka pun memberiku harga murah untuk biji kopi keringnya. Sedangkan green kopi dan pohonnya, dikasih gratis hihihi. Kalau nggak salah waktu itu aku beli Rp 50.000,- dapatnya buanyak banget, setelah di tumbuk hasil bersihnya bahkan sampai 1kg lebih.

Selanjutnya rencanaku adalah; proses pengolahan biji kopi menjadi bubuk

Waktu itu aku sudah komitmen bahwa aku akan urus penggorengan, penumbukkan, sampai ayak dan saring kopinya sendiri. Tapi nyatanya yang ngerjain malah nenekku, aku diserahin tugas ngayak sama nyaring aja. Mungkin beliau kasihan, melihat cucunya yang kecil ini harus numbuk kopi, hehe. Aku bilang numbuk ya seriously numbuk, numbuk pakai alu yang tradisional itu lho, yang kayak di legenda candi prambanan.


Tahap awal perjalanan panjang si kopi ini belum apa-apa  karena yang sebenarnya harus segera aku siapkan waktu itu adalah Proposal dan Uji Pendahuluan.

Untuk uji pendahuluan ini biasanya dilakukan sama persis seperti penelitian yang sudah kita rancang, hanya saja jumlah sampelnya dikurangi. Sebab tujuan uji pendahuluan sendiri hanya untuk melihat apakah penelitian kita memungkinkan untuk dilakukan atau tidak dan juga agar dapat meminimalisir kendala-kendala yang mungkin terjadi pada penelitian nantinya.

Namun pada penelitianku, dospem hanya memintaku  sebatas mengukur kadar besi pada air gambut (tanpa perlakuan pada sejumlah sampel) sebagai uji pendahuluannya. Keputusan tersebut berlandaskan pada lamanya proses pembuatan arang, sedangkan waktu yang tersedia sangat mepet karena dikejar olah kegiatan Praktek Kerja Nyata Kesehatan di Puskesmas.

Kabar baiknya, dari hasil uji pendahuluan tersebut, kadar besi pada bahan air gambut yang aku ambil waktu itu benar-benar tinggi. Sehingga dengan itu  aku berhasil melewati seminar proposal dengan sukses. Bisa disimpulkan hasil sempropku waktu itu seperti ini :
Dengan tingginya kadar besi pada air gambut di Kecamatan Gambut, maka akan dilakukan penelitian untuk menemukan solusi penurunan kadar besi yang lebih efektif yaitu menggunakan karbon aktif ampas kopi. Berlandaskan teori beberapa jurnal oleh penelitian serupa yang terdahulu. (mendadak berasa intelek, wkwk)

Setelah menyelesaikan PKN.Kes, kami diberi waktu untuk melaksanakan penelitian sebelum jadwal PKL ke RSHS Bandung. Waktu itu kami dijadwalkan berangkat pada bulan Maret, sehingga untuk dapat menyelesaikan penelitian sebelum keberangkatan, kami harus merelakan libur semester kali itu. No holiday no cry (bohong ini mah huhu..)

Merasa yakin dengan segala persiapan yang ada, aku pun membuat rundown sederhana untuk mendisiplinkan waktu penelitian. Aku lupa kapan tepatnya tanggal aku memulai penelitian, pokoknya waktu itu aku sudah merancang jalannya penelitianku selama sepekan dan dimulai pada hari senin. 

Pada hari Jumat aku melakukan proses seduh kopi.

1 kg kopi yang sudah aku sediakan aku seduh sekaligus dalam beberapa baskom, agar warna pekat pada kopi tersebut banyak berkurang. Kalian penikmat kopi mungkin akan sedih, karena semua kopinya aku buang, aku ambil ampasnya doang, hehe.

Pada hari Sabtu dan Minggu aku melakukan penjemuran ampas kopi.
Untuk menghilangkan/menurunkan kadar air (dehidrasi) pada ampas kopi, diperlukan penjemuran di bawah sinar matahari secara langsung. Pada hari itu, dua hari berturut-turut cuaca Banjarbaru mendung dan hujan deras. Awalnya sempat panik, karena kalau nggak kering aku harus menunggu giliran menggunakan Laboratorium Kimia lebih lama lagi. Untungnya, setelah mendung yang begitu pekat di pagi minggu, matahari secara ajaib terik dengan sangat menyengat pada pukul 11 hingga sore. Alhamdulillah..

The adventure is begin on monday, until...
Seperti yang aku sebutkan di atas, aku telah membuat rundown sederhana. Namun sepertinya lebih tepat  jika dikatakan rundown buta, karena hanya berpegang pada waktu proses namun lupa ada waktu kerja alat. Aku tidak punya dasar kerja sebab uji pendahuluanku tidak dilakukan sebagai mestinya, sehingga tidak bisa dibayangkan bagaimana sistem kerjanya dan seberapa panjang waktunya.

Aku kaget bukan main, saat sadar alat yang kugunakan pada penelitian tersebut cukup besar dan prosesnya lama. Seperti alat pembakar (furnace) yang memerlukan waktu sekian menit hingga sekian jam demi mencapai suhu ratusan derajat celsius, aku juga harus menunggu sampel mendingin setelah pembakaran, ditambah lagi harus sabar menunggu penyaringan berliter-liter air menggunakan kertas saring dengan diameter luar biasa kecil. 


Banyak proses yang telah aku perkirakan waktunya akhirnya melenceng jauh, aku pun kewalahan. Jadwal yang ku tulis memungkikanku untuk berkegiatan di laboratorium hanya hingga sore hari, ternyata molor sampai malam. Tiga tahun kuliah, baru saat penelitian itulah aku berada di laboratorium malam hari. I really say it, Horror men!


Hasil uji
Setelah dua minggu berlalu, akhirnya penelitianku rampung. Namun masih ada yang lebih mengejutkanku. Di hari pengukuran kadar besi, aku malah dapat kabar tak mengenakkan. Bukan hanya karena kadar besi pada air tersebut tidak turun, sebagiannya malah meningkat. Aku bingung harus bagaimana, jujur aku tidak berniat mengulang, aku hanya ingin kesalahan itu menjadi bahan pembahasan. 

Beberapa hari setelahnya aku menghindari dosen pembimbingku, sangat malas rasanya bertemu beliau. Aku ingin istirahat dulu sebelum membahas semuanya lagi dari nol. Namun Tuhan berkehendak lain, dosen pembimbingku tahu bahwa penelitianku gagal dan beliau pun mencariku. 


Aku benar-benar tidak tahu waktu itu beliau tahu dari mana dan dengan berat hati aku pun harus berkonsultasi.  Setelah perdebatan panjang lebar, beliau menemukan kekurangan pada proses penelitian itu dan menyarankan agar mengulang dengan metode yang beliau berikan.

Jujur saat itu aku benar-benar down. Sesuatu yang aku harapkan berakhir dengan cepat ternyata malah jauh sangat lambat, rasanya semua lelahku nggak selesai-selesai. Aku masih harus melakukannya sekali lagi. It's so hectic and stressed at the same time, than some pimple come up. Lebih buruk lagi, aku insomnia dan GERD parah.

Penelitian ulang hingga sukses sidang

At least, saat itu aku tidak harus memetik dan memproses lagi ampas kopi dari awal, masih ada cukup persediaan untuk mengulang. Teman-temanku juga sangat support, padahal mereka pun sibuk dengan penelitiannya masing-masing. Mereka bukan hanya support perkataan, benar-benar support semua kegiatan penelitianku, mereka bergerak membantu. Thanks gangs, much love! Orang tua ku pun bisa sangat tenang menghadapi anaknya yang udah panik nggak karuan, dan itu cukup membuatku bisa take a breath. That time I feel Allah blessed me so much.


Allah berjanji bersama kesulitan ada kemudahan (QS. 94:5), dan aku mendapatkan banyak kemudahan itu. 
Setelah penelitianku selesai, tidak ada mahasiswa lain yang menggunakan Laboratorium Kimia Dasar untuk melakukan penelitan dan aku pun tidak harus menunggu lama untuk bisa langsung melanjutkan penelitian ulang. Aku juga tidak harus terlambat di wisuda :')

Semua proses penelitian ulang berjalan sangat lancar, dengan hasil yang memuaskan. Proses penyusunan bab hasil pun juga sangat baik, kesehatanku membaik dan yang lebih membahagiakan adalah pada proses sidang hasil, aku melewatinya dengan sangat lancar. Aku dapat nilai sempurna untuk skripsi, Alhamdulillah :')


***

Ini poto aku selepas sidang, rasanya seperti hari terbahagia. Beban-beban di pundak rontok semua hihihi :)

Ini me after disidang wkwk

Dan ini poto kami, aku dan teman satu angkatan setelah kami semua selesai sidang. Sungguh wajah-wajah lepas beban. Aku lebih suka foto kami saat selesai sidang ketimbang saat wisuda, bahagianya beda. Rasanya waktu wisuda bahagia mulai luntur karena mulai sadar jika status sekarang adalah pengangguran, wkwk

Gaya bebas, wkwk

Formal katanya, hahaha

Percayalah,
Whatever bad thing happened in your life, Allah never left.
Allah never leave you alone :)


                               
Telah disunting

6 komentar:

  1. Wahhh,, semua tentang kopi yaa. Hhahaa

    BalasHapus
  2. Kalau udah selesai sidang, berasa banget lega nya y mbak.. hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya kak, lega banget sampai nggak peduli setelahnya ada revisi hahaha

      Hapus
  3. Waaaaaaaaaaaaa selamat sudah bisa melewati masa skripsiii <3 InsyaAllah setelah ini dilancarin jalannya buat masuk dunia profesional dan berkarir sesuai bidang yang kamu inginkan yaaa :D

    xoxo,
    honeyvha.com

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin yaAllah aamiin, thanks a lot kakak doany<3 emang lagi pusing-pusingny nyari kerja ini hihi

      Hapus

Like Us

Google+

Media Sosial

Part Of

Blogger Perempuan
PENABLOGGERBANUA