Jumat, 27 Oktober 2017

Cerita di balik pembuatan AK/1



Setelah melewati step-step panjang menuju wisuda dengan perasaan bangga dan haru biru, sekarang saatnya memasuki step "kenyataan". Kenyataan bahwa setelah lulus itu nggak seenak yang dibayangin waktu masih kuliah.

Begitulah mahasiswa, semangatnya menggebu-gebu minta diwisuda, biar cepet bebas katanya, capek dikejar-kejar skripsi terus tapi nyatanya setelah lulus kebebasan yang diharapkan semu. Kita harus mulai melepas gelar sebagai mahasiswa, menyandang gelar sarjana dibelakang nama, dan memandang instansi mana yang mau membayar kinerja kita. 

Melepas nama sebagai "mahasiswa" itu nggak gampang, menurutku. Rasanya berat banget karena nama penggantinya adalah "pengangguran". Beruntunglah bagi mereka yang setelah lulus bisa langsung bekerja dan ada yang bersedia membayar untuk kinerjanya. Mungkin lebih mudah bagi mereka  jika ditanya perihal apa-kesibukan-sekarang. 

Namun, bagi yang-masih-cari-kerja atau pencaker atau job seeker waktu ditanya kayak gitu, jawabnya bisa sangat kreatif. Don't try to ask them too much, wkwk

Jadi seorang job seeker nggak seburuk itu kok. Kita akan dapat banyak pengalaman baru. Kita jadi tahu perjuangannya gimana, ketemu dan ngobrol sama orang baru, tahu gimana rasanya ditolak, tahu sulitnya wawancara, tahu sulitnya nulis CV yang menarik. Dengan  begitu kita jadi lebih menghargai apa pun jenis pekerjaan dan nggak gampang ngeremehin orang lain.

Di Indonesia, pelamar kerja kadang diminta untuk mengurus beberapa berkas. Seperti SKCK (surat keterangan catatan kepolisian), Kartu AK/1 (kartu tanda pencari kerja), dan Surat Keterangan Sehat. Selain itu kadang beberapa perusahaan meminta untuk mencantumkan piagam, sertifikat keterampilan ataupun pendidikan non-formal. Nah kali ini aku mau membahas tentang si Kartu AK/1 ini beserta perjuangan aku mengurus pembuatannya.

Sebenarnya sampai sekarang aku nggak tahu apa kepanjangan dari AK/1 ini, tapi yang aku tahu kartu ini cukup menguntungkan dan membantu bagi pelamar kerja. Dari yang aku baca di beberapa blog, biasanya kartu ini dibuat di Disnakertans (Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi) daerah setempat. Nggak usah cemas membayangkan proses panjang dan ribet, proses permintaan dan pembuatan Kartu AK/1 ini terbilang mudah, cepat dan gratis. Yang perlu kita sediakan hanya :

1. Selembar potokopi ijazah terakhir, 
2. 2 lembar pas poto terbaru latar merah ukuran 3x4, 
3. Selembar potokopi KTP.

Setelah berkas tersebut diserahkan ke petugas, kita akan diminta mengisi formulir yang berisi identitas dan riwayat pendidikan. Setelah diisi, formulir tersebut diserahkan kembali untuk diproses. Prosesnya juga nggak lama kok, paling sekitar 5 menit sudah beres untuk setiap orang. Jadi jika kebetulan hari ketika kamu mendaftar ada cukup banyak antrian, yah mungkin bisa memakan waktu lebih lama sesuai di nomor berapa urutan kamu.
Kartu AK/1 ini cukup membantu lho, dengan melampirkan kartu ini kita bisa meyakinkan perusahaan bahwa kita memang benar-benar sedang tidak terikat kerja dengan perusahaan manapun karena secara resmi dikeluarkan oleh pemerintah kota setempat. Perusahaan tentu sangat menghindari kemungkinan terjadinya double job oleh pegawai baru yang diterimanya. Selain itu perusahaan pasti juga menginginkan karyawannya untuk dapat bekerja sesegera mungkin. Jika pegawai yang di terima masih terikat kerja dengan perusahaan lain dan membutuhkan waktu lama untuk proses pengunduran diri tentu itu akan mengganggu proses kerja perusahaan tersebut. Sehingga dengan Kartu AK/1 ini perusahaan dan instansi yang kita tuju pun bisa memproses berkas kita dengan lebih mudah dan cepat, serta ada kemungkinan lebih lamaran kita lolos seleksi.

Dengan keuntungan Kartu AK/1 tersebut, aku pun berniat untuk membuatnya juga. Hari itu sekitar tanggal 18 September aku mengunjungi Disnakertrans Prov. Kalsel. Just fyi nih, itu adalah pertama kalinya aku mengurus berkas semacam itu seorang diri dan lagi nggak tahu alamat persisnya dimana. Biasa aja sih sebenernya, emang aku aja yang lebay wkwk. Aku cukup pemalu dan pendiam, kegiatan bertanya ke orang asing itu jadi mendebarkan untukku (ini bukan pertanda jatuh cinta!). Jadi untuk urusan kayak gitu aku bener-bener nggak mau ngurus sendiri harus ada yang nemenin pokoknya, paling sering sih orang tua. Tapi setelah lulus kuliah udah malu minta temenin kemana-mana, akibat sering dikatain sama bapak sendiri.

"Udah gede juga, masih minta temenin, masa gitu aja nggak bisa."

Sungguh memang seperti itulah orang tuaku dan jadinya udah nggak lagi-lagi minta temenin. Tapi kalau mendesak banget masih minta tolong sih, hahaha. Kebetulan juga semua temanku sibuk hari itu, jadilah aku nekat pergi sendiri.

Untungnya zaman sekarang semua serba canggih dan instan, sehingga untuk mencari alamat aku bisa menggunakan gps. Kalau dilihat dari gps, jarak rumah aku ke Disnakertrans Prov. Kalsel itu sekitar 8 km. Lokasinya yang berada tepat di tengah perkotaan dan di pinggir jalan besar membuatku berangkat dengan keyakinan penuh pagi itu. Berusaha menanamkan pikiran positif pada diri sendiri "It's ok Nova, no problem. Ini akan selesai dalam waktu cepat."
Sesampainya di tempat, aku pun masuk ke dalam gedung Disnakertrans. Ada seorang bapak yang duduk di belakang meja, nampak seperti meja informasi. Dengan memberanikan diri aku bertanya.

Aku: Permisi Pak mau tanya, kalau bikin Kartu AK/1 ke bagian mana ya?

Bapak : Nggak di sini dek, di semanda.
Aku : Hah? semanda ? Maksudnya Pak? saya mau bikin Kartu AK/1 Pak?
Bapak : Iya di semanda. Di Dinas Koprasi Usaha Mikro dan Tenaga Kerja.
Aku terdiam tidak tahu harus berkata apa, aku bingung siapa yang salah. Selain itu aku juga nggak tahu di mana alamat semanda tersebut. Melihatku terdiam bapak itu pun menanyaiku lagi

Bapak : Tahu semanda nggak?

Aku : Enggak.
Bapak : Itu Komplek Semanda, tempat pembuatan AK/1 tepat di depan Sekolah MAN 2. Dekat dengan kantor Duta TV juga. Kantor Duta TV tau?
Aku : Iya tahu Pak.
Aku mulai panik saat itu dan bergumam dalam hati, mendengar nada bicara beliau yang mulai meninggi. Aku yang benar-benar tidak tahu di mana kantor Duta TV pun akhirnya mengatakan tahu. Aku yang tidak tahu apa itu semanda pun akhirnya tahu. Ternyata itu komplek dimana di dalamnya ada sekolah MAN 2. Bapak tersebut lagi-lagi sadar bahwa aku bingung dan tidak tahu dimana alamatnya. Beliau kembali bertanya
Bapak : Itu lho dek di Jalan Pramuka.

Aku : Ohh di Jalan Pramuka, yang di sana itu kan pak. Iya tahu pak tahu.
Aku bagai merasa semilir angin segar setelah mendengar Jalan Pramuka, setidaknya aku tahu jalan itu.
Bapak : Iya Jalan Pramuka, dekat Kantor Duta TV. Tahu kan?

Aku : Iya tahu Pak, terimakasih banyak ya Pak.
Bapak tersebut sepertinya tahu betul bahwa aku tidak benar-benar tahu tempat itu. Daripada aku  mengulur banyak waktu, aku pun mengakhiri percakapan dan langsung keluar menuju tempat parkir untuk buka Google Maps.

Saat sibuk-sibuknya berkutat dengan google maps, aku melihat dua orang perempuan datang dengan pakaian rapi beserta map di tangan, mereka bergegas masuk. Aku yakin betul mereka sama denganku, mau membuat kartu AK/1. Tak lama setelah mereka masuk, mereka keluar dengan raut wajah bingung. Aku tersenyum dengan yakin, pasti mereka senasib, wkwk.

Mungkin kalian bingung kenapa aku hanya tersenyum, bukannya bertanya dan bisa menuju tempat tersebut bersama-sama. Itulah kesalahanku, bertanya pada orang asing merupakan hal yang selalu aku pikirkan berulang-ulang kali. Jika ada pilihan lain maka aku akan memilih pilihan lain daripada harus bertanya. Di waktu itu pun aku punya pilihan lain, yaitu google maps. Maka aku semakin yakin untuk tidak perlu bertanya, aku yakin bersama google maps aku pasti menemukan tempat tersebut. I'm ok, I do by my self.

Setelah menemukan alamatnya, aku pun mengaktifkan fitur penunjuk jalan dan memasang handsfree  agar lebih mudah mendengarkan arahan. Aku pun mulai jalan, jika  kata mbak-di-google-maps belok aku belok, katanya lurus aku lurus. Ditengah jalan aku melihat dua perempuan tadi ada di depanku, mereka juga menuju komplek yang sama. Aku mulai merasa tenang, aku yakin dia tahu tempatnya maka aku akan mengikutinya dari belakang, begitu pikirku dalam hati. Namun, sesampainya di dalam Komplek Semanda aku kehilangan jejak. Aku terpaksa berhenti tepat sebelum tikungan, google maps juga terdiam, dia tidak menunjukkan arahan.

Di depanku ada dua pilihan, antara lurus atau belok kiri. Dengan modal nekat aku pun memilih belok kiri. Sekali lagi aku berjalan tanpa bertanya, padahal waktu itu banyak orang di pinggir jalan. Aku terus saja masuk ke dalam, setelah aku melihat ada gedung bertuliskan Duta TV, aku mulai yakin bahwa aku memilih jalan yang benar. Aku tidak memperdulikan ketika google maps ribut mangatakan salah jalan. Tapi, semakin dalam aku semakin tidak menemukan apa-apa. Mendengar google maps yang terus protes pun rasanya aku juga ingin protes, "Iya memang salah, tapi kamu nggak ngasih solusi jalan yang bener MBAK." Tapi nggak bisa, dia bukan manusia :(

Jalanan pun semakin sepi tanpa ada bangunan apapun, hanya semak di sepanjang kanan dan kiri jalan. Aku bergegas kembali ke jalan utama, memutuskan mengikuti  jalan lurus lagi. Tak lama berjalan aku melihat gedung MAN 2, aku pun berhenti di depan sebuah bangunan. Aku memalingkan kepala untuk menyapu pandang mencoba mencari-cari dimana Dinas Koprasi Usaha Mikro dan Tenaga Kerja. Tahukah kalian? Ternyata tempat yang aku cari ada di depan mataku, tepat ditempat aku berhenti.

Aku jadi merasa bersalah dengan mbak-google-maps karena sudah ngedumel dalam hati :(

Tapi aku juga bangga, merdeka juga kesal, hehe. Ingin rasanya aku tertawa sekencang mungkin. Namun ku urungkan, takut menimbulkan keributan~
Aku pun memarkirkan motorku. Aku berdiri dengan perasaan lega awalnya, tapi tak bertahan lama setelah aku menyadari aku tidak tahu harus ke ruangan mana untuk membuat Kartu AK/1 ini.

Aku berdiri dan berpikir "Ruangan sebelah mana tempat ngurus AK/1, aku harus tanya siapa, kok nggak keliatan ada meja resepsionis, kok nggak ada penunjuk arah."

Mau nggak mau aku memang harus coba tanya ke orang. Aku sangat gugup juga bingung, namun tak lama kemudian ku lihat dari kejauhan ada seorang perempuan menuju ke arahku. Bukan ke arahku sih sebenarnya, ke arah pintu karena aku berdiri di depan pintu, wkwk.  Saat dia melintas di depanku, tanpa berpikir panjang aku langsung menghentikannya dan bertanya. Beruntunglah aku saat itu karena orang yang aku tanya itu juga mau mengurus pembuatan kartu AK/1. Aku merasa sangat lega, terlebih dia juga orang yang ramah dan menyenangkan di ajak bicara.

Akhirnya sambil nunggu antrian kita jadi ngobrol, mulai dari tanya nomor antrian, apa aja isi formulir, lulusan dari mana, tahun berapa, mau kerja apa, sebelumnya kerja dimana, sampai ngalor ngidul kemana-mana, wkwk.
Begitulah perjalanan panjangku hanya untuk mengurus pembuatan Kartu AK/1. Perjalanan itu tentu lebih sederhana jika aku mau untuk lebih bertanya daripada hanya mengandalkan google maps saja. Semoga bisa menjadi tulisan yang menghibur, bermanfaat dan menginspirasi. Setelah ini aku masih punya cerita tentang obrolan aku sama orang asing waktu ngurus pembuatan Surat Keterangan Sehat, di post dengan judul Antara Pencari Kerja dan Surat Keterangan Sehat

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Like Us

Google+

Media Sosial

Part Of

Blogger Perempuan
indonesian hijab blogger
PENABLOGGERBANUA