Sabtu, 28 Oktober 2017

Be Kind Or Be Quite

Seberapa pentingnya menjaga perkataan menurut kamu?

Kalau menurut aku sih penting. Penting banget. Tapi sayangnya sering banget kelepasan, apalagi waktu bercanda, hmm. Nggak sadar tahu-tahu ada yang tersinggung, pas lagi ketawa ada yang sakit hati. Pernah banget yang kayak gitu, jadi si tukang bercandanya pernah, jadi yang sakit hatinya juga pernah.

Kadang sebel juga, lagi enak-enak bercanda, eh malah ada yang baper. Apalagi aku orangnya keras kepala, pokoknya aku bilang bercanda ya bercanda, masa iya ditelan mentah-mentah. Sejenis nggak mau merasa salah.

Belakangan aku tahu ternyata dalam situasi seperti itu, kesalahan lebih besar pada si-yang-bercanda. Sederhananya nih, kalalu si-yang-bercanda nggak melewati batas wajar, ya nggak mungkin dong ada masalah. Setiap orang kan punya hal-hal sensitifnya sendiri, yang jika dijadikan bahan guyonan bisa mancing emosi. Boleh jadi bagi kita sepele bagi dia enggak.

Pokoknya hati-hati aja deh, kalau kelepasan dan ada yang marah, harus mau minta maaf. Jangan malah playing victim dan bilang, "Baperan deh!"

Kesannya konsep 'Baper' ini dijadikan alat untuk lempar batu sembunyi tangan gitu. Seolah-olah ngebawa perasaan itu cabang dosa dalam sosialisasi, seolah-olah hati bisa disimpan terus dipakai kapan-kapan kalau perlu. Udah mulai nggak tepat aja.

Betul sih baper ini artinya Bawa Perasaan, diarahkan pada situasi ketika seseorang begitu tersentuh menanggapi sesuatu. Tapi jika diungkapkan secara berlebihan hingga menimbulkan tuduhan 'Baperan', ini masalahnya. Penggunaannya malah menjadi alat untuk menilai orang sebagai personality yang terus menerus menanggapi setiap hal dengan serius, apa saja ditanggapi dengan perasaan yang mendalam. Akibatnya, emosi si orang yang dinilai baperan ini berujung disepelekan.

Bener nggak?

Yakin deh, nggak ada orang yang mau emosinya disepelekan. Marahmu dianggap baper, sedihmu dianggap baper. Kita kan manusia, punya hati, bukan rumput yang bergoyang *wkwk.

Ingat konsep cermin sebelum kamu menilai orang lain. Apa kita seyakin itu bahwa kita nggak baperan?  Mirror mirror on the wall..

Yang kayak gini nih, nular. Berawal dari disepelekan, kemudian membalas, berujung tidak lagi saling peduli terhadap perasaan sesama. Gara-gara segelintir orang dengan sikap dan pemikiran seenak jidat, yang lain pun jadi males buat mikir panjang.

Nggak banyak kok yang ketularan, tapi efeknya jangka panjang dan kalau nggak diperhatikan bukan mustahil semakin menyebar luas. Risikonya, rasa simpati, empati dan saling menghargai dalam diri kemudian luntur perlahan. Sudah mulai kelihatan kan?
Source : boomsumo.com
Kenapa aku menandai betul pada kegiatan bercanda? Ya namanya juga bercanda, didasari atas keidakseriusan. Akan menyulitkan jika marah pada sebuah candaan, ribet. Keadaan bakal jadi serba nggak nyaman, mendadak hening itu nggak lucu. Aku setuju terhadap orang yang tetap memilih diam padahal hatinya murka luar biasa, apalagi dia memilih tidak membalas. Keren. Setidaknya dia masih bisa berpikir jernih bahwa melawan sebuah guyonan hanya menambah masalah.

Tapi jahat rasanya ikut diam melihat yang begitu.

"Marah pun jadi masalah, terus kita bisa apa?"

Bisa mulai memperbaiki diri sendiri, karena kita nggak pernah bisa memastikan apakah setiap perkataan kita baik-baik saja di telinga pendengarnya. Kita nggak bisa memastikan bahwa kita nggak pernah bikin orang lain meredam amarah karena perkataan kita.


"What should I do first?"

Source : Pinterest of thirtyhandmadedays.com

Yup, try to think first before you speak. Soalnya, ini kadang bukan cuma tentang kata apa, tapi juga tentang gimana situasinya, gimana keadaan hatinya, gimana kondisi kesehatannya, ini tentang banyak aspek di luar kendali kita. 


Monggo dipikir dulu, ditelaah situasinya, yakinkan yang keluar adalah perkataan yang baik.

Kita harus mau sedikit berpikir bahwa yang kita anggap menarik belum tentu juga membuat orang tertarik. Bahwa apa yang mampu membuat kita bangkit belum tentu bisa membuat yang lain juga bangkit. Bahwa apa yang menurut kita lucu belum tentu juga membuat orang lain tertawa. Bahwa apa yang membuat kita senang belum tentu juga membuat orang lain bahagia, dan apa yang membuat kita sedih bisa jadi hanya masalah sederhana bagi mereka. Bahkan mungkin, yang membuat kita bangga bisa jadi adalah malah melukai hati orang lain. 

Selain itu, kita juga harus mulai menerima perbedaan pendapat dan penyampaian ekspresi yang berbeda. Kepala manusia itu beda, isinya ya pasti beda juga. Tanggapan akan suatu hal pasti beragam pula bentuknya. Kita kan nggak tahu apa yang dulu terjadi pada seseorang, apa yang akan terjadi, dan apa usaha yang sedang mereka perjuangkan. 

Alangkah lebih indah jika kita bisa mulai memikirkan hati orang lain dari pada sibuk sama hati sendiri yang terus-terusan minta dibahagiakan dan didengerkan. Aku percaya kita pasti sudah tahu bahwa nggak semua hal bisa ditanyakan dan nggak semua isi hati perlu diutarakan. It's why we must be choose to be kind or be quite
Source : Pinterest of 3rdgradegridiron.com


Ini sedikit contoh ya.

Misalnya kamu kalau lagi ada salah dan perlu curhat, bisa dinasihatin dengan kata-kata yang keras, yang “nampar” banget pokoknya dan kamu bisa sadar. Tapi kamu nggak bisa ngelakuin itu sama orang lain. Ada orang yang harus dikasih nasihat dengan pelan dan lemah lembut, kalau kamu memperlakukan orang seperti ini selayaknya kamu, kamu bukan membantu masalah dia selesai, tapi malah memperburuk.

Ada juga orang kalau yang lagi putus asa dikasih saran, dukungan, motivasi bisa langsung gerak. Ada yang cuma harus didampingi dan didengarkan baru nanti dia akan bergerak disaatnya dia mau.

Ada orang yang kalau lagi sedih diajak bercanda bisa langsung ketawa kayak lupa masalahnya, ada juga yang malah tambah sedih karena merasa orang nggak prihatin dengan keadaan hidupnya, dia semakin merasa sendiri. A lot of human type and it is why we must be careful to speak.

Maaf kalau yang lagi baca ini ada yang mungkin tersinggung. Ini pun pemikiran hasil pengalaman pribadi dan diniatkan sebagai pembelajaran aku ke depannya. Belum semua juga yang aku tulis di atas bisa aku lakukan. Hanya ingin sedikit berbagi, who knows ada yang tergerak juga dengan pendapatku ini. Mengajak orang kepada kebaikan kan hadiahnya pahala, hehehe.

Ada di pihak yang tersinggung itu nggak enak lho. Aku pernah ngalamin itu, cukup sering. Gimana nggak enaknya, kalian pasti bisa mendeskripsikan sendiri. Mau marah susah nggak marah nyesek, ya gitu lah pokoknya.

Tapi aku juga sering bikin orang tersinggung, yang jelas aku juga nggak berniat demikian. Saking parahnya sampai ada yang bilang "Omongan Nova tajem ya". Bahkan ada yang takut, "Aku agak takut sih sama Nova, dia kalau ngomong bener sih tapi nyelekit"

Gimana tuh sampai diomongin kayak gitu, kan nggak enak ya.

Itulah akhirnya yang membuatku belajar untuk berpikir demi sekedar mengeluarkan satu kata. Berpikir bahwa apa pun yang keluar dari mulutku, meski bahkan hanya secuil, bahkan diniatkan untuk bercanda, bisa jadi ribuan makna di hati orang lain. Bahkan bisa jadi bumerang untuk hidupku sendiri.
There's no reason to don't think twice before speak.. 
Iya memang tidak menutup kemungkinan, kata baik, yang diniatkan baik, tidak diterima dengan baik. Setidaknya kan, kita sudah berusaha jadi orang baik dengan memperbaiki diri sendiri. Jika orang lain tidak bisa menghargai usaha kita, jangan sedih, karena Tuhan selalu punya harga besar untuk setiap hal baik. Tuhan itu adil, setiap kata pasti akan kembali pada pengucapnya. Setiap usaha pasti membuahkan hasil, entah itu buruk atau baik tergantung apa yang kita usahakan.

Semoga kita bisa sama-sama saling memperbaiki diri ya :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Like Us

Google+

Media Sosial

Part Of

Blogger Perempuan
PENABLOGGERBANUA