Minggu, 10 September 2017

Media Sosial, Bebas, Cerdas, Pantas.

Media sosial kan ruang publik, harusnya kita mau mengerti bagaimana suatu konten itu sudah cukup baik dan pantas untuk dishare dan dilihat oleh banyak orang.

Semenjak kemunculannya, peran media sosial sudah banyak bergeser. Dulu, bagi aku medsos (media sosial) itu sarana hiburan paling gampang. Tinggal buka handphone, konek internet, scroll timeline, seneng. Sekarang, scroll timeline rasanya kayak lagi baca buku diary orang. Informasi pribadi bertebaran dimana-mana, iya nggak sih? Nggak yang bocah nggak yang tua, sama. 

Padahal, setiap postingan kita ada pertanggungjawabannya lho. Pihak medsos sudah mencantumkan privacy and police biar kita lebih cerdas dalam beraspirasi. Media sosial kan ruang publik, harusnya kita mau mengerti bagaimana suatu konten itu sudah cukup baik dan pantas untuk dishare dan dilihat oleh banyak orang.

Kenapa baik dan pantas bukan baik dan benar? 

Buat apa baik dan benar tapi tidak pantas dilihat?!

Tapi kan  bisa di-private, supaya yang lihat juga teman-teman kita aja?

Aku juga sempat pakai private kok, tapi kemudian menyerah, hehe. Ribet sendiri harus memilih-milih permintaan berteman yang masuk  sambil tetap menjaga kelayakan postingan. Ujung-ujungnya aku buka juga, lumayankan hal baiknya bisa tersebar lebih luas.

Lagi pula dengan private kayaknya nggak bikin postingan kita diam di tempat deh. Kita nggak tahu siapa dari teman kita yang akan membagikan postingan tersebut lebih luas. Private bukan sarana agar kita bisa seenak jidat membagikan hal-hal yang nggak seharusnya. Teman-teman kita juga layak merasa nyaman ketika scrolling timeline.

Bukankah kita bermedia sosial untuk berbagi, bukan untuk bersembunyi.

Hanya karena nggak bertatap muka secara langsung lantas jadi males untuk menjaga etika dan kehati-hatian dalam interaksi? Jangan salah, pakai internet juga ada etikanya lho, apalagi media sosial yang jelas-jelas untuk bersosialisasi. Bukankah kita bermedia sosial untuk berbagi, bukan untuk bersembunyi.

Maka dari itu aku mau mengajak untuk sama-sama menerapkan salah satu etika bemedia sosial, yaitu "Think Twice Before You Share". Agar kita bisa berbagi sesuatu yang baik, sehingga untungnya juga kembali ke kita. Kalau kita membagikan sesuatu yang tidak baik, jangan heran jika yang kembali adalah bencana.

Ya, meskipun nggak bisa dipungkiri bahwa ada oknum bernama hater, yang walaupun postingan kita sudah terbaik, tetap saja mereka benci. Setidaknya kan kita sudah memisahkan diri dan bisa mengambil peran sebagai orang yang sudah berusaha lebih baik. Biarlah hater berlalu. Jangan lupa diblokir biar nggak ganggu, hehe..

Namanya juga manusia, sebaik-baik usaha, pasti akan ada yang menilai dengan cara yang berbeda. Mungkin gampangnya gini, selama kita sudah berusaha melakukan yang paling baik yang kita bisa, maka sisanya adalah berharap orang lain juga menerima dengan pikiran yang sama. Kita punya mata dan orang punya mata, kita punya mulut dan orang punya mulut, kita punya dua tangan dan orang juga sama. Maka yang bisa kita lakukan setelah memastikan kebaikan postingan kita adalah mengendalikan diri dengan terus berpikiran positif karena kita tidak mampu mengendaliakan ribuan orang di luar sana.

Ketika kita sudah mengambil peran untuk "Think Twice Before You Share", sebenanya masih ada satu tugas lagi. Secara pasti kita juga punya peran sebagai pembaca, sebagai orang yang menanggapi sebuah postingan. 

Dengan jumlah pengguna media sosial yang begitu banyak, mungkin ribuan bahkan jutaan, kita harus  bisa menanggapinya dengan tenang, seperti kita juga ingin ditanggapi dengan tenang. Kita juga harus sabar dengan apapun yang pengguna lain lakukan pada media sosial mereka. Mungkin kamu single dan mereka mesra-mesraan dengan saling lempar mention? Ya udah sabar aja :)

Namun, jika kamu terlalu benci untuk melihat itu, maka saran aku nggak usah takut untuk unfollow atau blokir, itu nggak dilarang kok. Menurut aku mesra-mesraan di media sosial juga nggak terlalu pantes buat disaksikan, entah kenapa beberapa orang suka ketika itu menjadi tontonan. 

Jika kita benci pada suatu hal dan ingin ada perubahan, yang pertama harus melakukan perubahan adalah kita

Begitulah risikonya. Kalau kamu terlalu menyebalkan, orang boleh untuk unfollow kamu. Tapi kalau kamu malah terlalu gerah dan gampang marah-marah dengan semua hal di media sosial, ya nggak ada jalan keluar selain berhenti menggunakannya. Namun, jika kamu masih tetap ingin menggunakannya, cukup ingat, jika kita benci pada suatu hal dan ingin ada perubahan, yang pertama harus melakukan perubahan adalah kita. Perubahan besar tidak dilakukan dari tindakan besar, tapi pasti dilakukan oleh orang yang mau melakukan langkah kecil meski bahkan tak terlihat.

Dari sekian banyak hal yang paling nggak nyaman bagi aku adalah ketika timeline isinya spam semua. Masalahnya, kebanyakan mereka ngespam curhat, sedang galau, nggak jarang marah-marah sampai sarkasme. Aku juga nggak ngerti kenapa yang sering muncul di timelineku spam semacam itu. 

Saking gemesnya kadang aku jadi pingin nyemangatin. Mau ngasih wejangan kayak gini nih:

"Gini loh, kalau kamu diputusin atau digimanain, itu tandanya pasangan kamu nggak baik, itu cowok nggak sayang sama kamu. Masa iya kalian rela kelihatan lemah dan galau menuhin timeline buat cowok yang nggak sayang sama kalian. Kalian tuh cuma bakal diketawain sama mereka. Seharusnya kalian tuh ngelakuin hal yang bisa bikin mereka sadar kalau mereka sudah mainin orang yang salah. Bikin mereka tahu kalau kalian kuat dan nggak semudah itu dihancurin. Gini deh, kartini udah cepek-capek naikin derajat cewek, masa iya kalian mau runtuhin gitu aja karena cowok yang bahkan belum tentu jadi jodoh kalian, dinafkahin juga belum." 

Ya meskipun pada akhirnya kalimat di atas nggak pernah tersampaikan, hahaha.

Gitu aja deh kayaknya pendapat aku. Semoga ada hal baik yang bisa diambil, dan jika ada kesalahan mohon koreksinya. Happy Netiquette :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Like Us

Google+

Media Sosial

Part Of

Blogger Perempuan
PENABLOGGERBANUA