Sabtu, 01 Maret 2014

Perjuangan Masuk Perguruan Tinggi (Kampus)


Jika di post sebelumnya banyak membahas tahap awal menuju gerbang kuliah dari mulai UN hingga pengetahuan dasar tentang sistem masuk perguruan tinggi, nah post yang ini akan menjabarkan sepenuhnya tentang perjuangannya mengahadapi seleksi tersebut dan cerita di baliknya. Untuk cerita lengkap tentang UN 2013 kalian bisa cek Perjuangan Masuk Perguruan Tinggi (UN), biar lebih konek sama bagian yang ini, hehehe

Yaudah yuk kita mulai aja!


1. Penentuan Jurusan

Hal pertama, yang paling terrrpenting dari pendaftaran perguruan tinggi itu adalah jurusan. Permasalahannya, kadang minat kita nggak sesuai sama keinginan orang tua, kita nggak tahu apa yang paling kita sukai, atau bahkan minat kita berubah-ubah. Maka dari itu carilah minat kalian jauh-jauh hari sebelum kalian duduk di bangku kelas 12 SMA, dan carilah info tentang jurusan-jurusan yang kalian inginkan dan jurusan yang orang tua inginkan. Dengan begitu kalian bisa mengerti, mempertimbangkan, dan menentukan jurusan mana yang menurut kalian cocok untuk kalian prioritaskan. 

Nah kalau aku termasuk yang minatnya berubah-ubah, dan telat cari infonya. Awalnya aku pengen banget kuliah yang ada hubungannya sama komputer karena dari SMP emang seneng banget sama pelajaran komputer. Dulu sempet mau masuk SMK tapi sayang nilainya kurang. Terus berubah mau arsitek, terus mau komputer lagi karena tertarik antara jadi programmer atau jadi animator gitu. Kalau arsitek sendiri alasannya karena katanya sih jadi arsitek itu uangnya banyak (ya ampun masih SMA mata duitan banget, wkwk), kan asik tuh. 

Singkat cerita aku mau daftar SNMPTN dan bilang sama orang tua kalau aku mau jadi arsitek, and you know what? Big "no no" from my parents. Katanya susah kalau cewek kerja lapangan apalagi ngurus-ngurus bahan bangunan. Oke, awalnya aku nggak terima. Aku cari info sana sini, tanya orang yang kuliah di arsitek, tanya temen tanya kemana-mana pokoknya buat cari alasan yang bisa ngeyakinin orang tuaku kalau cewek itu nggak masalah jadi arsitek. Guess what? Nggak ngaruh. Mau aku cari alasan sebanyak apapun nggak ngaruh, orang tuaku tetep kekeuh nggak boleh. 

Ya namanya orang tua biasanya tahu apa yang paling baik buat anaknya. Akhirnya aku nggak jadi milih arsitek dengan cukup ikhlas. CUKUP ikhlas. 

Untungnya aku masih punya alternatif lain yaitu Ilmu Komputer, dengan landasan aku selalu tertarik dengan si kotak berlayar ini sejak SMP. Alhamdulillah orangtua setuju, meski awalnya juga susah ngebujuk rayu. Katanya, "Dunia sudah berkembang, komputer bisa dipelajarin otodidak, orang juga sudah banyak yang bisa, buat apa kamu pilih Ilmu Komputer?"

Dengan pembelaan sederhana macam ini, "Iya karena dunia berkembang, ilmu tentang komputer juga pasti berkembang. Kita juga harus ikut, kalau gini-gini aja entar ketinggalan." mereka pun setuju. Sejujurnya ini lebih seperti alibi sih, wkwk. 

Kenapa aku nggak meyakinkan dengan iming-iming jadi programmer atau animator yang lebih menjanjikan? Ya karena aku tahu pengetahuan orang tuaku nggak sejauh itu. Dari pada aku panjang lebar, lebih baik aku cari jalan inti yang pas langsung kena kan?!

Setelah pergulatan diskusi tentang jurusan sama orang tua, kami pun menemukan titik temu yaitu Pendidikan Dokter (sebagai syarat dari orang tuaku, karena mereka yang mau) dan Ilmu Komputer (inilah hasil persyaratan tersebut, wkwk) sebagai pilihan pasti. Satu lagi pilihan Pendidikan Matematika, aku pilih juga ini dilihat dari manfaat dan prospek kerja kedepannya yang masih cukup besar.

2. Mari kita mulai perjalanannya dari jalur SNMPTN.


Jalur SNMPTN memberi kesempatan pemilih untuk memilih 3 jurusan berbeda dari 2 universitas berbeda. Dari kesempatan yang diberikan, aku hanya memilih 1 universitas dengan harapan berpeluang besar diterima. Di universitas itu aku memilih Pendidikan Dokter di urutan pertama, Ilmu Komputer di urutan ke-2 dan Pendidikan Matematika di urutan ke-3. Tapi, ternyata aku tidak lulus di jurusan manapun. Belakangan aku ketahui bahwa ketiga jurusan yang aku pilih merupakan jurusan favorit dengan jumlah peminat besar. Sehingga saat aku gugur di pilihan pertama, aku juga gugur di pilihan lainnya. 

Logikanya, saat ada banyak peserta yang memilih Ilmu Komputer dan Pendidikan Matematika di urutan pertama (anggap saja dengan meletakkan di urutan teratas dapat disimpulkan bahwa memiliki harapan dan antusiasme yang tinggi untuk jurusan tersebut), untuk apa mempertimbangkan yang memilih di urutan ke-2 dan ke-3 yang jelas harapannya tentu tidak sebesar yang meletakkan di urutan pertama. 

Lalu kenapa tidak melihat nilai sebagai patokan, bukan hanya sekedar urutan? Karena mereka yang bisa memasuki SNMPTN sudah terjamin nilainya dari semester satu sampai lulus. Begitu juga dengan universitas, saat kita hanya memilih 1 universitas dan kita tidak lulus di ketiga jurusan yang telah kita pilih, kita tidak diarahkan ke jurusan di universitas lain. Ya memang karena tidak memilih.
Yah, terlepas dari mekanisme seperti apa yang terkandung dalam SNMPTN, mungkin memang hanya takdirku saja yang tidak disana. :)

3. Perjuangan masih belum berakhir. Aku masih memiliki kesempatan di jalur SBMPTN.

Dengan harapan besar agar lulus di jalur SBMPTN, aku mengambil keputusan untuk mengikuti bimbel satu bulan penuh, pertemuan di adakan selama 2 jam/hari. Selain bimbel, aku juga membeli buku-buku khusus soal SBMPTN dan TPA. Niatnya biar rajin berlatih, biar makin mahir wkwk.

Jika dilihat, nampaknya aku cukup total di jalur kali ini ya? Tapi sebenarnya itu terasa tidak maksimal. Mungkin karena aku sudah terlalu lelah belajar dan harus mempelajari hal baru seperti TPA (Tes Potensi Akademik), yang tak kalah membingungkan. 

Pelaksanaan SBMPTN diatur sedemikian rupa demi menyaring siswa-siswa terbaik bagi jurusannya. Tes dilakukan dengan memberi sejumlah soal yang cukup banyak dengan waktu yang tentu dibatasi. Belum lagi ada soal dengan sistem poin, yang semakin cepat dan cermat kita berpikir semakin tinggi nilai dan kemungkinan kita lulus. 

Aku sadari, jalur ini cukup berat dengan jumlah peserta yang jauh lebih banyak. Jika pada SNMPTN kita bersaing dengan sejumlah siswa yang nilainya telah tersaring, pada SBMPTN kita bersaing dengan seluruh siswa yang tidak lulus SNMPTN, yang tidak memenuhi syarat mengikuti SNMPTN, serta siswa lulusan tahun-tahun sebelumnya yang belum kuliah. Bisa dilihat kan perbandingannya?

Setelah melewati hari-hari perjuangan selama sebulan dan pelaksanaan tes yang menegangkan, penguman yang di nanti pun datang. Hmm sayangnya, keberuntungan masih belum memihak kepadaku. 
 Aku tidak lulus.
Di SBMPTN kali itu aku memilih jurusan dan universitas yang sama dengan pilihan aku ketika SNMPTN, tapi satu pun tidak ada yang tertembus. Ini bukan hanya tentang tidak lulus, dari kami bersembilan (aku dan teman-teman akrabku) hanya aku dan seorang temanku yang tidak lulus. 

Jujur itu adalah saat di mana rasanya semua hal menekanku sampai ke paling bawah, down banget. Aku tidak tahu harus bersikap seperti apa, harus senang tapi nyatanya sedih. Jika kalian bertanya apakah iri? Jelas! Tapi aku nggak mungkin merusak kebahagiaan teman-temanku hanya karena ketidakberuntunganku, itu bukan salah mereka. Belum lagi, dengan tidak lulusnya aku di SBMPTN itu artinya aku harus merelakan cita-citaku. Aku juga merasa telah membuat orang tuaku kecewa. Aku bingung langkah apa, jurusan apa, kampus mana yang harus aku tuju selanjutnya. Rasanya semua hal memenuhi pikiranku, tapi aku bahkan tidak lagi bisa memikirkannya. Berat.

Seberapa pun berat itu, aku masih sangat bersyukur aku tidak sendiri. Aku dikelilingi orang-orang luar biasa. Aku memang tidak lulus tapi teman-temanku tak pernah lelah mengingatkanku bahwa akan selalu ada hal yang baik yang tepat di saat yang tepat pula, kita harus bersyukur, bahwa Allah memberi apa yang kita perlukan bukan inginkan. Serta orang tua yang terussss selalu sabar untuk mendukungku dan memberi semangat bahwa mereka tak apa, mereka baik-baik saja dan tidak memaksa, setidaknya aku telah melakukan usaha yang besar. 
Itu tidak sia-sia hanya saja mungkin memang bukan takdirku. :)

4. Masih ada kesempatan melalui Sipenmaru Poltekkes 

Aku mendengar kabar bahwa sebuah Politeknik Kesehatan masih membuka pendaftaran dan aku pun mendaftar di sana, meski kesehatan bukan bidang yang aku inginkan. Pendidikan dokter adalah satu-satunya bidang kesehatan yang aku minati, itu pun sebenarnya adalah saran orang tua ku. Sedangkan bidang kesehatan lainnya? Entahlah aku seperti kurang berminat. 

Di kampus kesehatan ini ada beberapa jurusan yaitu, Perawat, Gizi, Kesehatan Lingkungan, Bidan, dan Analis Kesehatan. Dari semua jurusan itu aku memilih analis kesehatan dengan alasan; pekerjaan di jurusan itu menjanjikan karena masih banyak yang belum mengetahui analis. 
Hal yang juga membuatku tertarik pada jurusan itu adalah analis tidak harus selalu bekerja di laboratorium kesehatan ataupun rumah sakit, dan setahu aku analis bisa bekerja di industri yang memiliki dan memerlukan laboratorium. 
Akhirnya aku mengambil kesimpulan bahwa analis tidak sepenuhnya bidang kesehatan. Aku memutuskan untuk mencoba mendaftar.

Untuk melewati sipenmaru ini usahaku tidak sebesar SBMPTN. Aku ada di posisi pasrah sepasrah pasrahnya. Aku tetap belajar kok, tapi seadanya. Tapi perjuangan yang lebih besarnya adalah jarak tempuh. Politeknik ditempat aku mendaftar ini berada di luar kota dengan jarak tempuh kurang lebih 1 jam dari kotaku. Pertama kalinya dalam hidupku, keluar kota pakai motor sendiri. Akunya takut, orang tuaku selawww, wkwk
Singkat cerita aku dinyatakan LULUS!
Pada dasarnya aku senang karena akhirnya aku punya pegangan bahwa di sanalah nantinya aku akan melanjutkan pendidikan. Tapi rasanya begitu membingungkan antara tidak percaya atau mungkin menyesal dengan pilihanku sendiri. 

Benarkah disini? 

Yakinkah aku? 

Aku masih sempat mempertimbangkan untuk mengikuti jalur mandiri, demi memperjuangkan minatku di ilmu komputer. Tapi karena saran dan nasihat orang di sekelilingku, aku melepaskan kesempatan itu. Setelah aku pikir-pikir juga akan sulit karena jadwal ospek bertepatan dengan tes kesehatan jalur mandiri. di mana aku juga belum pasti lulus di jalur itu.

Ada satu nasihat dari temanku yang sangat berpengaruh saat itu, ketika dia mengatakan "Pilih analis aja, peluang kerjanya masih besar, nggak usah coba jalur mandiri, bakalan memakan biaya yang besar dan juga belum tahu apa bisa berhasil di jurusan itu".

Begitulah akhirnya aku mengambil keputusan terbesarku dengan benar-benar melepaskan jalur mandiri, melepaskan cita-cita ku dari SMP.


***

Beginilah ceritaku untuk bisa duduk di bangku perkuliahan. Nggak gampang memang, tapi setelah melewati itu sekarang aku bisa bilang untuk kalian yang akan dan sedang menempuh jalan ini juga untuk JANGAN MENYERAH!

Nggak akan ada yang terjadi ketika kalian menyerah. Berusahalah  meski menang/berhasil terasa sangat jauh. Setidaknya lewat gagal kalian akan lebih banyak belajar.

Yakini ini :
Everything happen for a reason, tetap semangat bahkan meski itu adalah saat terberat. Sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan, bersama kesulitan itu ada kemudahan (QS. 94:5-6)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Like Us

Google+

Media Sosial

Part Of

Blogger Perempuan
PENABLOGGERBANUA