Jumat, 28 Juni 2013

Perjuangan Masuk Perguruan Tinggi (UN)


Alhamdulillah bisa sharing lagi setelah hiatus karena padatnya program persiapan ujian nasional (UN). Secara tidak langsung aku menyatakan telah bebas dari penjajahan belajar berkepanjangan. YEAY!


Enggak, ini salah. Ini hanyalah ilusi karena sesungguhnya tahap yang lebih berat sedang berdiri di depan mata. Seleksi Masuk Perguruan Tinggi.

Sebelum waktuku tersita lebih lama lagi, kali ini aku akan menceritakan bagaimana indahnya UN 2013 ini. UN ajaib dengan kendala luar biasa. Ada 20 paket soal berbeda setiap kelas dan dijaga dengan pengamanan bersenjata. WAH!

Dengan keadaan bahwa tidak seorang pun mendapatkan soal yang sama, pemerintah pasti mengharapkan tidak adanya kecurangan seperti mencontek antar-teman hingga jual beli kunci jawaban. Sayangnya harapan itu harus pupus. Baiklah, contek mencontek memang hampir nihil dilakukan, tapi jual beli kunci jawaban tetap jalan.

Siapa korbannya? Siswa
Siapa yang untung? Masih jadi tanda tanya, hmm..

Belum cukup sampai di situ, karena jumlah soal yang banyak disertai penjagaan ketat pada distribusi soal, terjadilah keterlambatan pelaksanaan UN. Bukan hanya terlambat, jadwal yang ditetapkan pun mundur dan berubah total. Bahkan ketika jadwal baru yang ditetapkan tiba, beberapa wilayah masih belum menerima bundle soal UN 2013-nya. 

Akan sedikit lucu ya jika namanya tetap Ujian Nasional, padahal pelaksanaannya sama sekali tidak serentak. Beberapa daerah lebih dulu dari daerah yang lain. Mungkin kita sebut saja Ujian Regional *wkwk.

Jika menurut kalian keadaan semacam itu terjadi hanya saat pelaksanaan, maka kalian salah besar. Sedari proses perancangannya, program ini sudah membuat siswa memiliki beban pikiran ganda. Terlalu banyak isu yang beredar, mulai dari akan diadakan 30 paket soal berbeda, lalu ada isu hanya 2 paket saja, kemudian 20 paket soal, hingga 5 paket seperti tahun sebelumnya, dan segala macam ketidakjelasan lainnya. Ketidak pastian ini menyebabkan kebingungan untuk belajar dan simulasi ujian nasionalnya sendiri.

Mental siswa bagai diombang-ambing sama lautan. Naik turun, kadang panik kadang lega, bisa sehat pun Alhamdulillah.

Nasi sudah jadi bubur. Terlepas seberapa rumitnya ujian nasional tahun ini, tetap kita tidak bisa menyalahkan usaha pemerintah untuk melakukan perubahan. Semua terjadi karena belajar dari masa lalu dan ingin membenahinya. Hanya saja, kadang untuk melaksanankan sebuah program pastikan dengan lebih baik dan perhatikan beban anak sekolah. Menghadapi UN saja kami sudah merindung, dihadapkan pula pada ketidakpastian?

Untungnya segala keresahan itu hanya terjadi di awal. Lambat laun, kami (sebagai orang-orang yang akan menjadi kelinci percobaan pelaksanaan UN 20 Paket ini) pun terbiasa. Entahlah terbiasa atau males dan bebal dengan keadaan yang terjadi. Kami terlalu sibuk untuk mepersiapkan otak, mental, dan fisik untuk bertempur.  Kami lebih mementingkan belajar daripada ribet ngurusin berapa paket soal UN yang akan diresmikan. 

Untungnya masa-masa kelam itu sudah berlalu dan kami dinyatakan lulus 100%. 

Ya nggak kelam-kelam amat sih. Jadwal yang padat merayap itu secara tidak langsung membuat kami banyak menghabiskan hari bersama di sekolah. Menjadikan kami semakin akrab di penghujung waktu. Setelah dinyatakan lulus, ada rasa kehilangan yang cukup kuat di antara kelegaan, karena harus berpisah. 

Sekarang adalah masa di mana kami menuju tempat melanjutkan kehidupan, yaitu perguruan tinggi. Nggak semua sih, ada juga kok yang langsung kerja. Bagi yang akan kuliah, maka inilah fakta yang harus dihadapi, ada 3 jalur yang bisa dipilih :

1. Yang pertama SNMPTN ( Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri) 
Tahun lalu jalur ini sebutan bagi jalur tes, sekarang jalur ini sebutan untuk jalur undangan, dengan kuota terbesar yaitu 50% - tapi ada beberapa universitas yang memberi kuota hingga 60% - dengan seleksi menggunakan full nilai rapot . 

2.Yang kedua SBMPTN  
Yang satu ini nyebutinnya aja mesti latihan dulu, hurufnya ngeganjel. SBMPTN merupakan jalur tulis dimana kuota yang disedikan berkisar 30% -sekali lagi kuota masih tergantung kebijakan universitas- dengen seleksi murni hasil tes. 

3. Yang ketiga jalur mandiri 
Jalur yang satu ini punya nama masing-masing di setiap Universitas, jalur ini nih yang katanya jalur orang-orang kelebihan uang, sekali lagi itu 'katanya'.  

4. UMBPT 
ini seleksi yang kurang lebih sama seperti SBMPTN tapi tergabung dari beberapa universitas negeri dan nonnegeri alias swasta.

Tapi tidak sampai disitu, sebagai contoh, Politeknik punya seleksi sendiri untuk menyaring mahasiswanya. Yang bisa kalian baca pada Perjuangan Masuk Perguruan Tinggi (Kampus)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Like Us

Google+

Media Sosial

Part Of

Blogger Perempuan
PENABLOGGERBANUA